Home Seni Budaya Wanita Berkebaya Akan Terlihat Gandes Luwes dan Kewes

Wanita Berkebaya Akan Terlihat Gandes Luwes dan Kewes

1419
0
Komunitas Perempuan Berkebaya Jogja menggelar workshop Ngadi Busana, Minggu (26/1/2020), di Hotel Sri Wedari, Yogyakarta. (Tedy Kartyadi/ Bernasnews.com)

BERNASNEWS.COM — Hati-hati apabila memakai kain batik dengan motif kupu-kupu atau motif gurda (burung) jangan sampai kejungkir atau terbalik. Kecuali motif gambar batiknya bolak-balik. Demikian disampaikan RAy Kusswantyasningrum selaku narasumber dalam acara workshop Ngadi Busana, Minggu, (26/1/2020), di Hotel Sri Wedari, Jalan Laksda Adisucipto, Yogyakarta.

RAy Kusswantyasningrum selaku narasumber (kiri) didampingi oleh dua Staf Sanggar Kalithi Yogyakarta. (Tedy Kartyadi/ Bernasnews.com)

Acara workshop Ngadi Busana diselenggarakan oleh komunitas Perempuan Berkebaya Jogja. Komunitas yang berdiri pada bulan Oktober 2015 ini mempunyai misi melestarikan budaya Indonesia dan bervisi mengangkat kebaya sebagai busana keseharian perempuan Indonesia. Hingga kini tak kurang dari 100 perempuan telah menjadi anggota komunitas ini.

Panita workshop yang juga anggota Komunitas Perempuan Berkebaya Jogja pun menggenakan kebaya dalam melaksanakan tugasnya, Minggu (26/1/2020). Foto: Tedy Kartyadi/ Bernasnews.com

“Mohon maaf untuk busana kebaya tradisional jangan sampai dirusak dengan kepingin kekinian, kalau kepingin kekinian bentuk modifikasi monggo. Kemudian kalau sudah berbusana tradisional sesuai pakem, maka cara duduknya pun juga harus diatur sedemikian rupa dengan menata kain lebih terdahulu dan sikap kaki pun diatur,” papar RAy Kusswantyasningrum atau juga dikenal dengan nama paring dalem Nyi Raden Wedono Retno Adiningtyas.

Tampak peserta workshop Ngadi Busana pun juga berbusana kebaya lengkap. (Tedy Kartyadi/ Bernasnews.com)

Sebagai abdi dalem Kraton Yogyakarta bertugas di Kawedanan Hageng Punokawan (KHP) Parwobudoyo, memaparkan tentang motif-motif batik secara umum dan motif batik yang hanya diperuntukan keluarga Sultan. Juga cara dan tips-tips mengenakan busana kebaya tradisional, pemakaian sanggul atau tata rambut, berikut pernak-pernik asesorisnya, baik gagrak (model) Yogyakarta dan gagrak Surakarta.

RAy Kusswantyasningrum (kiri) dibantu oleh Staf Sanggar Kalithi sedang menjelaskan soal wiru (lipatan kain) yang dikenakan oleh seorang peserta workshop. (Tedy Kartyadi/ Bernasnews.com)

“Memakai busana kebaya tradisional itu memang terlihat ribet, tapi inilah cara leluhur jaman dahulu agar putri-putri Jogja maupun Solo kelihatan gandes, luwes, kewes, (menarik hati) dan tidak nil-nilan/ pethakilan (terlihat anggun),” ungkap pemilik Sanggar Kalithi ini.

RAy Kusswantyasningrum sedan menjelaskan tentang motif batik dan perpaduan kebaya yang dipakai oleh seorang peserta workshop. (Tedy Kartyadi/ Bernasnews.com)

Semenatara itu, Tinuk Suhartini MG selaku Ketua, mengatakan, Ketua Komunitas Perempuan Berkebaya Jogja selalu konsisten mengkampanyekan pemakaian kebaya dalam kehidupan sehari-hari. Dari sekian banyak kegiatan, diantaranya menari dan bermain angklung. “Komunitas ini selalu mengadakan berbagai workshop untuk meningkatkan pengetahuan anggotanya maupun perempuan Indonesia pada umumnya,” ujar Tinuk.

Menariknya acara workshop Ngadi Busana yang diselenggarakan oleh Komunitas Perempuan Berkebaya Jogja ini, dari panitia dan peserta yang hadir lebih dari 50 wanita semuanya berbusana berkebaya lengkap dengan pernak-perniknya asesorisnya. Sehingga selain pemaparan oleh nara sumber dapat interaktif secara langsung, sekaligus dapat koreksi lebih lanjut busana yang dikenakan oleh para peserta sesuai dengan pakem (aturan baku sesuai budaya) atau tidak. (ted)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here