Home Opini Urgensi Kuantitas dan Kualitas Komonukasi dalam Keluarga

Urgensi Kuantitas dan Kualitas Komonukasi dalam Keluarga

986
0
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Widya Mataram

BERNASNEWS.COM – SERINGKALI media massa mengungkapkan berbagai kejadian yang menimpa anak-anak baik kasus kekerasan seksual, penelantaran anak atau kisah menyedihkan di perdesaan maupun di perkotaan. Kasus-kasus tersebut membuat anak-anak terpaksa meninggalkan bangku sekolah demi membantu kehidupan keluarga atau ketika beberapa anak jalanan ternyata diperjual-belikan. Mereka dimanfaatkan dan bahkan dipaksa oleh sekelompok orang yang tidak bertanggungjawab untuk melakukan pekerjaan yang penghasilan dari anak-anak itu diserahkan kepada kelompok tersebut.

Banyak berita di televisi yang menyajikan permasalahan yang menimpa anak-anak di bawah umur, bahkan korbannya tidak hanya mendapatkan kekerasan tetapi juga kehilangan nyawa. Ketika fenomena tentang anak tersebut sedang hangat dibicarakan, barulah orang-orang yang merasa berkepentingan turun tangan. Namun ketika situasi mulai mereda dan panggung mereka berguguran, kepentingan anak seolah berhenti sampai di situ saja. Kemudian akan muncul kembali ketika kejadian yang menimpa anak terpublikasikan lagi oleh media massa.

Media dan Relasi Komunikasi Anak

Jadi apa yang sebenarnya yang dicari oleh para pencari panggung tersebut? Hanya sekedar moment sesaatkah tampil tanpa solusi atau mereka semuanya jujur untuk menggagas dan menemukan solusi terbaik bagi penanganan persoalan yang menimpa anak-anak secara keseluruhan?

Tidak berhenti pada level membicarakan apalagi hanya sekadar berkomentar, artinya ada upaya untuk mencarikan solusi terbaik yang bisa mempertemukan kepentingan anak, terutama anak-anak yang bermasalah secara sosial dalam relasi dengan orangtuanya atau dengan keluarga terdekat lainnya.

Ada banyak persoalan yang sesungguhnya melekat dalam berbagai peristiwa yang menimpa anak-anak. Salah satunya adalah tentang komunikasi. Selama ini ada anggapan yang seolah menjadi pegangan hampir di seluruh keluarga dimana pun berada, bahwa sejatinya kualitas komunikasi jauh lebih penting dari pada kuantitas komunikasi tersebut. Berbagai persoalan yang dihadapi anak-anak paling tidak dapat dibicarakan secara rutin dengan kedua orangtuanya atau keluarga terdekat lainnya, baik permasalahan di lingkungan rumah, di sekolah, tempat kursus maupun di masyarakat. Namun orangtua tertentu beranggapan tidak perlu rutinitas tersebut, hanya dengan cukup sekali berkomunikasi dan hanya selesai sampai di sana.

Tidak penting dikotomi antara anak yang terlahir dari keluarga kaya maupun miskin, suku atau agama tertentu dan tingkat pendidikan orangtua yang tinggi atau rendah, semuanya membutuhkan komunikasi. Komunikasi bisa membantu penyadaran setiap komponen keluarga untuk memikirkan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya. Pendidikan yang bisa ditempuh tidak hanya sekedar pendidikan formal, karena saat ini tersedia banyak lembaga baik pemerintah maupun swasta, berbayar maupun tidak yang memberi ruang pendidikan bagi setiap anak yang membutuhkan.

Pestalozzi pernah mengatakan bahwa pendidikan sebaiknya mengikuti sifat-sifat bawaan anak. Dasar dari pendidikan ini menggunakan metode yang merupakan perpaduan antara dunia alam terutama alam keluarga dan pendidikan yang praktis. Ini artinya Pestalozzi sudah mewanti-wanti bahwa persoalan pendidikan seharusnya dipahami sebagai konsep yang berisi tentang pesan komunikasi. Pesan tersebut dipertukarkan antara orangtua dan anak yang pendidikannya ingin diarahkan kepada pencapaian prestasi maksimal, tetapi tidak semata-mata tergantung pada pendidikan formal saja.

Kuantitas Versus Kualitas Komunikasi

Kualitas dan kuantitas komunikasi yang benar dari orangtua dapat membantu anak untuk menemukan pendidikan yang baik bagi dirinya. Peran orangtua dalam pendidikan anak dapat membuat anak tersebut mengerti tentang sesuatu yang ditanamkan sejak dini dan terbawa hingga dewasa. Hal ini juga dapat membantu meningkatkan prestasi anak dalam berbagai bidang yang ada.
Dengan demikian maka kuantitas dan kualitas komunikasi jangan pernah dipertentangkan. Tentang mana yang lebih penting apakah kuantitas ataukah kualitas? Sebab kedua-duanya sama penting dalam tahap meningkatkan pendidikan anak. Artinya, kuantitas komunikasi harus didukung oleh adanya kualitas komunikasi. Sebaliknya kualitas komunikasi harus diimbangi dengan kuantitas komunikasi.

Disanalah peran orangtua akan terlihat, sejauhmana tanggungjawab orangtua untuk mengarahkan pendidikan anak-anaknya dan mengantarkannya kepada kehidupan yang lebih mandiri, mempersiapkan mereka untuk memiliki kualitas kehidupan karena memang pendidikan secara sosial formal maupun non-formal telah dipersiapkan oleh orang-tua sebagai bentuk tanggungjawab tersebut. Pendidikan menjadi modal utama bagi anak-anak dalam mewujudkan cita-citanya agar dapat meningkatkan kemampuan yang dimiliki oleh anak tersebut.

Hal ini harus didukung dengan adanya peran dari orangtua ataupun dari keluarga terdekat. Dalam kehidupan sehari-hari orangtua haruslah bisa dapat meluangkan dan membagi waktu untuk anaknya. Kontribusi dan perhatian yang lebih dari orangtua maupun dari keluarga terdekat kepada anak sejak dini sangat penting demi mewujudkan kesetaraan pendidikan yang bermutu kedepannya. (Dyaloka Puspita Ningrum, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Widya Mataram)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here