Home Seni Budaya Upacara Tradisi “Wiwitan”, Menimba Berkah dari Sawah

Upacara Tradisi “Wiwitan”, Menimba Berkah dari Sawah

903
0
Sejumlah orang mengantre dengan sabar pembagian nasi wiwit, dalam upacara adat wiwitan, menjelang panen padi di persawahan yang berada di Kalurahan Wedomartani, Kapanewon Ngemplak, Kabupaten Sleman, DIY, Sabtu (10/4/2021) sore. Foto: AG Irawan

BERNASNEWS.COM – Hamparan padi di sejumlah petak persawahan kawasan Kalurahan Wedomartani, Kapanewon Ngemplak, Kabupaten Sleman, DIY) itu sudah tampak menguning. Sesekali kelebatan warna keemasan muncul, saat sinar matahari sore menerpa batang padi yang mulai merunduk menahan bulir-bulir gabah yang padat berisi.

PadaSabtu (10/4/2021) sore itu, wajah pasangan Hadi Suwarno (65) dan Pantiyem tampak sumringah. Keluarga yang tinggal di Pedukuhan Dero, Wedomartani tersebut, sejak siang telah menyiapkan ubarampe atau semacam sarana doa syukuran yang berisi nasi gurih, sayur trancam, ingkung ayam, satu sisir pisang, telur rebus dan sejumlah lauk dan jajanan pasar.

Hal ini dilakukannya untuk melangsungkan upacara wiwitan. Sebuah upacara adat Jawa untuk memulai panen padi. “Ini sudah tradisi kami setiap akan panen padi melakukan wiwitan. Sebagai wujud syukur pada Yang Kuasa yang telah memberi panenan padi bagi manusia,” terang Pak Kemis, sapaan akrab Hadi Suwarno, ramah.

Sejumlah orang mengantre dengan sabar pembagian nasi wiwit, dalam upacara adat wiwitan, menjelang panen padi di persawahan yang berada di Kalurahan Wedomartani, Kapanewon Ngemplak, Kabupaten Sleman, DIY, Sabtu (10/4/2021) sore. Foto: AG Irawan

Menurut Pak Kemis, upacara adat wiwitan yang dilakukan tersebut sebagai olah rasa guna mengajak semua orang menghargai pangan, khususnya padi. Di samping rasa syukur pada Tuhan. Bagi orang Jawa, upacara adat wiwitan juga diperuntukkan sebagai rasa hormat kepada Dewi Sri, yakni Dewi Kesuburan tanah dan pemberi pangan bagi semua makhluk di bumi. “Sawah itu ya harus diolah biar berkah. Meski beragam kesulitan dihadapi, kita harus tekun mengolah lahan-lahan pangan ini,” kata dia.

Setelah semua ubarampe digelar di salah satu sudut lahan yang akan dipanen, Pak Kemis memulai pacara adat wiwitan dengan membakar dupa diikuti dengan merapal doa-doa, serta memercikkan air yang telah didoakan ke persawahan. Lalu mengirim sejumlah takir (wadah kecil berisi makanan beralas daun pisang) yang ke sudut-sudut persawahan yang hendak dipanen. Makanan yang sudah didoakan juga dibagi rata ke semua orang yang mengikuti wiwitan. Tak jarang sejumlah orang yang kebetulan lewat mendapat bagian juga. Semua makanan terbagi merata.

“Ini wujud syukur kita, bahwa setiap rejeki yang kita terima, seberapapun besarnya harus dibagi. Agar banyak orang ikut menikmati,” tandas Pak Kemis.

Sejumlah warga melakukan panen padi di persawahan Padukuhan Sambiroto, Purwomartani, Kalasan, Sleman, DIY, Minggu (11/4/2021) pagi. Foto: AG Irawan

Sejumlah generasi milenial tampak antusias mengikuti prosesi wiwitan dari awal hingga akhir. “Asyik juga. Jadi tahu kalau mau panen padi dimulai dengan upacara adat wiwitan seperti ini,” ungkap Hilda, salah seorang anak muda warga Wedomartani.

Senada diungkapkan Sigit Tastomo, seorang pemuda asal Padukuhan Dayu, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman yang kebetulan milintas. “Sudah lama saya tidak melihat dan menikmati sego wiwit dari upacara adat wiwitan seperti ini. Bagus ini,” ujar Sigit sembari menikmati kudapan nasi wiwit.

Sementara Kamituwo yang juga Ketua Desa Mandiri Budaya Kalurahan Wedomartani H Mujiburokhman S.Ag MA mengatakan, upacara adat wiwitan harus terus dilestarikan. “Ini kekayaan budaya kita yang harus kita jaga dan kita hidupi. Agar generasi kita terus peduli dengan hasil tani,” tandasnya.

Upacara adat wiwitan tak sekedar sebagai ritus menjelang panen padi. Namun menjadi sarana doa dan syukur kepada Tuhan juga semesta, bahwa padi yang dituai mampu menghasilkan beras yang bernas. Lengkap dengan bulir-bulir yang terus melimpah dan menyehatkan. (AG Irawan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here