Home Pendidikan Universitas Gadjah Mada Mewisuda 845 Mahasiswa Pascasarjana

Universitas Gadjah Mada Mewisuda 845 Mahasiswa Pascasarjana

813
0
Salah seorang mahasiswa pascasarjana yang diwisuda oleh Rektor UGM, Panut Mulyono, Rabu (24/7/2019). (Foto: Istimewa)

BERNASNEWS.COM – Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta mewisuda 845 mahasiswa program pascasarjana. Dari total mahasiswa tersebut, 753 diantaranya adalah lulusan master, 39 spesialis, dan 53 doktor. Masa studi rerata untuk program magister adalah 2 tahun 1 bulan, spesialis 4 tahun 6 bulan dan doktor 4 tahun 8 bulan.

Waktu tersingkat untuk lulusan S2 periode ini diraih oleh Putu Aditya Wiguna dari Prodi S2 Ilmu Kedokteran Klinik, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) yang berhasil menyelesaikan studi dalam waktu 1 tahun 1 bulan 4 hari. Sedangkan Lulusan termuda untuk program S2 diraih oleh Dyan Paramitha Andyana Purnomo dari Prodi Magister Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya yang berhasil meraih gelar master pada usia 22 tahun 10 bulan 11 hari.

Pada program S2, wisudawan dengan IPK tertinggi 4.00 diraih oleh Anak Agung Ngurah Nata Baskara dari Prodi Magister Ilmu Biomedik, FKKMK, Gyvano Halim dari Prodi S2 Arsitektur dan Nur Ikawati dari Prodi Teknik Pengelolaan Bencana Alam, Fakultas Teknik.

“Atas nama UGM saya mengucapkan selamat,” kata Rektor UGM, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng., dalam pidato sambutannya, Rabu (24/7/2019).

Ia pun mengingatkan pada para wisudawan bahwa kini Indonesia sedang menghadapi tantangan nasional maupun global. Kompetisi antar bangsa menuntut setiap anak bangsa untuk mampu bekerja keras agar dapat bersaing di  tengah pergaulan global.

Menurutnya, kerja keras tidak akan berhasil jika sikap individualisme masih tinggi. Untuk itu, para wisudawan harus menyadari pentingnya kerja sama antar semua pihak.

“Seluruh elemen bangsa harus bersatu padu bekerja sama membangun bangsa dari berbagai bidang kepakaran,” katanya.

Panut mengungkapkan bahwa kini sudah saatnya masyarakat bangit dan bergotong royong untuk membangun Indonesia. Jiwa dan semangat gotong-royong harus kembali dikobarkan agar dapat mengikis semangat individualistik yang hanya menonjolkan kepentingan pribadi dan kelompok karena tidak peka terhadap persoalan yang sedang dihadapi oleh bangsa ini.

“Bangsa ini memerlukan orang-orang yang hebat yang memiliki karakter dan semangat cinta tanah air dan bangsa,” katanya.

Semangat gotong-royong dan menjalin kerja sama ini, menurutnya, harus mendapatkan momentumnya kembali untuk membawa bangsa Indonesia menjadi negara yang berdaya saing tinggi dan disegani oleh bangsa-bangsa lain. (*/adh)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here