Home Seni Budaya UNESCO Inisiasi Proyek Pemetaan Risiko Cagar Budaya di Kawasan Prambanan

UNESCO Inisiasi Proyek Pemetaan Risiko Cagar Budaya di Kawasan Prambanan

377
0
Perwakilan Kemdibud dan Kepala BPCB DIY & Jateng membuka acara workshop, pekan lalu. Foto : Istimewa

BERNASNEWS.COM- UNESCO menginisiasi Proyek Pemetaan Risiko Cagar Budaya di kawasan Prambanan bersama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah dan DiY, PT Waindo SpecTerra dan UGM dengan menggunakan dana dari UNESCO Heritage Emergency Fund..

Sebagai bagian dari advokasi UNESCO terhadap pendekatan multi-disipliner dalam hal manajemen warisan budaya, proyek ini dimaksudkan untuk menegaskan pentingnya mitigasi bencana di sektor budaya dengan cara pemetaan warisan budaya, baik yang benda maupun tak benda, yang berlokasi di kawasan yang rawan bencana alam seperti gempa dan tanah longsor. Kawasan Prambanan dipilih sebagai lokasi pertama, dan harapannya di masa depan, inisiatif bersifat pencegahan sebelum bencana terjadi di sektor budaya dapat menjadi diskursus arus utama di tingkat nasional.

Kegiatan pemetaan Candi Prambanan, pekan lalu. Foto : Istimewa

Proyek ini akan menghasilkan gambar-gambar digital tiga dimensi dari tujuh warisan budaya candi yaitu Prambanan, Sewu, Lumbung, Bubrah, Ghana, Ijo, dan Ratu Boko, serta indeks kerentanan dan indeks resiko masing-masing candi dan data geologis dari kawasan sekitar candi-candi tersebut. Candi-candi ini terletak diatas Sesar Opak, yakni salah satu patahan paling aktif yang mana pergerakannya telah mengakibatkan bencana alam di sekitar Yogyakarta dan sekitarnya. Proyek ini juga akan mendokumentasikan cagar budaya tak benda, seperti cerita rakyat, pertunjukan tradisional, ritual dan kepercayaan berkolaborasi dengan para komunitas di desa sekitar kawasan candi.

“Memetakan tujuh situs cagar budaya sebagai bagian dari inistiatif penanggulangan bencana sangat penting untuk dilakukan mengingat tingginya resiko terjadinya bencana di lokasi-lokasi tersebut,” kata Ibu Zaimul Azzah M.Hum, Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) DIY, dalam rilis yang dikirim ke Bernasnews.com, pekan lalu.

“Kebutuhan untuk upaya mitigasi bencana di sektor budaya telah mendapatkan atensi dunia internasional sejak terjadinya gempa besar di Kobe, Jepang, yang mana akibat kerusakannya dapat dirasakan hingga ke kota-kota warisan budaya sekitarnya. Namun, meskipun diskusi publik telah dilakukan selama dua dekade terakhir, pada prakteknya sangat sedikit yang sudah dilakukan untuk mempersiapkan cagar budaya dalam menghadapi bencana, baik alam maupun karena aktivitas manusia. Kerjasama yang dilakukan oleh BNPB, serta unit-unit pelestari cagar budaya dibawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta para ahli sangat kami apresiasi. Kami berharap proyek ini dapat menjadi contoh agar daerah lain di Indonesia pun dapat melakukan hal serupa,” sebut Shahbaz Khan, Direktur UNESCO Jakarta.

Perwakilan Kemdibud dan Kepala BPCB DIY & Jateng membuka acara. Foto : Istimewa

Direktur Pengurangan Resiko Bencana dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Dr Raditya Jati, S Si MSi. menjelaskan bahwa Indonesia telah merasakan akibat dari bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, dan letusan gunung api, seperti hilangnya nyawa penduduk dan kerusakan terhadap infrastruktur negara. Malalui pemahaman akan potensi bahaya, resiko dan kerentanan, kita dapat mengurangi akibat dari bencana alam dan melindungi cagar budaya dengan lebih baik, tidak hanya struktur fisik saja namun juga terkait dengan aktivitas sosial dan ekonomi.

Sendai Framework for Disaster Risk Reduction 2015-2030 bertujuan untuk mengurangi hilangnya sumber perekonomian langsung (GDP) karena bencana, termasuk yang berkaitan dengan rusaknya warisan budaya hingga 2030. Belakangan ini, BNPB telah mengintegrasikan data fokus pembangunan  terpenting di InaRISK, portal pemetaan resiko nasional. Namun, data yang berkaitan dengan warisan budaya masih sangat kurang.

“Persiapan kebencanaan di sektor cagar budaya akan meningkatkan ketahanan ekonomi di level daerah. Saya berharap proyek ini dapat menjadi inspirasi dibentuknya contoh kerjasama baru antara pemerintah nasional dan daerah, dengan partisipasi dari peneliti, civitas akademika, sektor swasta, dan UNESCO,” tambah Dr. Raditya Jati.

Acara lokakarya telah diselenggarakan sebagai penutup dari proyek yang sebentar lagi akan selesai ini. Lokakarya tersebut akan menampilkan presentasi hasil dan data yang didapat dari survey lapangan. Data tersebut dikumpulkan selama beberapa minggu, termasuk pengambilan gambar tiga dimensi dari cagar budaya candi, yang akan diintegrasikan ke dalam Sistem Informasi Geografis (GIS) InaRISK.

Implementasi proyek ini diselenggarakan oleh PT Waindo SpecTerra, dengan kerjasama dengan antropologis dari CV Bawah Sadar, serta peneliti dan mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada dan para tokoh masyarakat pelestari budaya di desa-desa sekitar kawasan candi. (*/lip)

Pemetaan Risiko Cagar Budaya dilakukan bersama tim UGM, Waindo dan UNESCO, pekan lalu. Foto : Istimewa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here