Home Pendidikan UII Harus jadi Produsen Ilmu Pengetahuan

UII Harus jadi Produsen Ilmu Pengetahuan

370
0
Kampus Terpadu UII Jalan Kaliurang. Foto : kumparan.com

BERNASNEWS.COM – Ketua Umum Pengurus Yayasan Badan Wakaf UII Drs Suwarsono Muhammad MA mengatakan, memasuki usia yang ke-78 tahun, UII mengalami banyak kemajuan dengan meraih prestasi di berbagai baik dalam maupun luar negeri. Dan pencapaian itu harus dipertahankan dan ditingkatkan.

Namun yang tidak kalah penting adalah bagaimana menjadikan UII sebagai produsen ilmu pengetahuan dan bukan lagi sebagai konsumen ilmu pengetahuan seperti halnya dilakukan perguruan tinggi yang ada di Indonesia. “Jadikan Universitas Islam Indonesia menjadi produsen ilmu pengetahuan,” kata Ketua Umum Pengurus Yayasan Badan Wakaf (PYBW) UII Drs Suwarsono Muhammad MA pada acara peringatan Milad ke-78 UII yang disiarkan secara live streaming melalui kanal YouTube UII hari Jumat 12 Maret 2021.

Lalu caranya bagaimana? Suwarsono pun mengajukan 3 tantangan yakni pertama, jika pada masa lalu ada yang disebut islamisasi ilmu pengetahuan. Maka ke depan UII harus melihat apa tantangan dunia di masa depan yang paling riil. Misalnya, saat ini ada kegoncangan destabilisasi politik di dunia yang disebut dengan ketimpangan dan ketidakadilan, ketimpangan ekonomi dan ketidakadilan hukum.

Dan hal tersebut menjadi salah satu sumber dari lahirnya apa yang disebut dengan populisme kanan dan itu mengancam stabilisasi dunia. Karena itu, menurut Suwarsono, kenapa hal ini tidak dijadikan salah satu perspektif pengembangan ilmu pengetahuan yang akan dilakukan oleh UII. Agama Islam jelas menunjuk pada keadilan. Bahkan sebagai salah satu inspirasi terbesar yang menjadikan penerimaan agama Islam demikian meluas dan mendalam adalah inspirasi keadilan.

Kedua, menurut Suwarsono yang juga Dosen FBE UII ini, kenapa UII tidak sodorkan prinsip Islam yang luar biasa rahmatan lil alamin dalam bentuk yang lebih konkrit dalm menjaga kerusakan alam di masa depan. “Saya tidak membayangkan kalau misalnya Fakultas Teknik kita aktif menjaga dan mengembangkan ide-ide di sekitar itu. Saya kira ini juga satu prioritas yang luar biasa. Dengan begitu maka mazhab ilmu pengetahuan kita makin hari makin kelihatan dan makin kental signifikan bisa dilihat bahwa ini loh khas Universitas Islam Indonesia,” kata Suwarsono.

Dan ketiga, menurut Ketua Umum PYBW UII ini, sebagai bangsa konsumen, masih ada hal yang sangat mengganggu bangsa Indonesia masalah etik. Semakin hari tidak bisa dihindari bahwa ternyata terus saja ditemukan perilaku koruptif di Indonesia. Dan kalau masalah ini dijadikan mashab, maka UII bisa mengajarkan bahwa etik dan anti korupsi itu menjadi salah satu kebijakan. Yakni bagaimana membangun ilmu pengetahuan dengan melakukan perubahan dalam waktu 75 tahun ke depan Indonesia bebasa dari praktik korupsi.

Sebab, menurut Suwarson, pada skala dunia China hanya membutuhkan waktu kurang lebih 50 tahun setelah Deng Xiaoping memimpin China dan sekarang China menjadi salah satu negara yang bebas dari korupsi. Bahkan sekarang China menjadi salah satu pemegang hegemoni dunia. “Itu contoh yang riil di depan mata dan oleh karena itu saya berharap UII membangun ilmu pengetahuan bagaiman dalam waktu 75 tahun ke depan Indonesia bisa bebas dari korupsi,” kata Suwarsono.

Dalam Rapat Terbuka Senat memperingati Milad (Dies Natalis) ke-78 UII itu juga diisi dengan Laporan Perkembangan UII oleh Rektor UII Prof Fathul Wahid ST MSc PhD dengan judul Resiliensi di Tengah Turbulensi dan pidato ilmiah Prof Dr apt Yandi Syukri S.Si M.Si, Guru Besar Jurusan Farmasi FMIPA UII, dengan judul Pengobatan Islam dan Peran Nanomedicine dalam Pengembangan Tanaman Obat yang Disebutkan dalam Al Quran dan Hadist untuk Memerangi Covid-19.

Dalam laporannya Rektor UII Prof Fathul Wahid antara lain menyebutkan bahwa selama tahun 2020, UII mendapat sejumlah apresiasi dari berbagai pihak, antara lain : 1. Pada 7 Desember 2020, UII kembali dinobatkan menjadi perguruan tinggi swasta paling lestari di Indonesia dalam UI GreenMetric World University Rankings 2020. UII berada dalam posisi 8 nasional (jika perguruan tinggi negeri dimasukkan). Secara global, UII berada di peringkat 112 di antara 912 perguruan tinggi yang tersebar di 84 negara.

2. UII masuk ke dalam klaster II pada klasterisasi yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada Agustus 2020. Klasterisasi dilakukan terhadap 2.136 perguruan tinggi di Indonesia dan menghasilkan 5 klaster. Jika diurutkan, UII masuk peringkat 25 nasional atau ketiga untuk perguruan tinggi swasta.

3. UII kembali masuk ke dalam pemeringkatan QS Asia University Ranking 2021 bersama 29 perguruan tinggi lainnya di Indonesia. UII masuk pada kelompok peringkat 501-550.

4. UII menempati peringkat pertama perguruan tinggi swasta atau peringkat 10 nasional dari cacah proposal program kreativitas mahasiswa (PKM) 5 bidang yang didanai pada 2020. Sebanyak 79 proposal dari UII mendapatkan pendanaan.

5. Sebanyak 5 program studi di UII mendapatkan akreditasi unggul dari Badan Akreditas Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT) melalui jalur konversi akreditasi internasional.

6. Prof Is Fatimah menjadi satu dari enam orang Indonesia yang berhasil masuk dalam Top 2% World Ranking Scientists. Pemeringkatan ini didasarkan pada publikasi bereputasi yang diolah oleh peneliti dari Stanford University (John Ioannidis, Jeroen Baas, dan Kevin Boyack).

“Apresiasi ini harus disyukuri bersama dan tidak menjadikan kita lupa untuk terus bertumbuh. Semoga Allah selalu memudahkan semua langkah kita yang dibingkai dengan niat baik,” kata Rektor UII Prof Fathul Wahid. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here