Tuhan Memberikan Jalan yang Terbaik, Doaku yang Terkabulkan

    149
    0
    Lusiana Tami, warga Panti Asuhan Brayat Pinuji Boro, Banjarasri, Kalibawang, Kulon Progo, DIY. (Foto: Dok. Pribadi)

    BERNASNEWS.COM — Nama Lusiana Tami panggilan bisa Lusi bisa Tami, saya lahir Kalimantan barat desa Terusan 05 Juli 2002 nama orang tua saya ibu Veronika Setuyam lahir Kalimantan barat desa Terusan 01 Agustus 1962 , ayah Sukarni. Karena saya tidak pernah melihat ayah saya, jadi saya tidak tahu tempat tanggal lahir ayah dan ayah saya telah beristri sampai sekarang.

    Saya ada lima bersaudara dan saya anak bungsu dan kakak kandung saya dua, yaitu Ina dan Iman. Iman adalah anak cowok satu satunya di keluarga kami. Dan  kakak tiri saya dua, yaitu Sepusah dan Senita. Di saat saya mau masuk sekolah dasar saya belum pernah jumpa ayah saya, saya hanya tinggal bersama ibu dan kakak saya. Pekerjaan ibu saya seorang petani/ peladang  atau menoreh pohon karet. Karena ibu saya tidak pernah sekolah, maka ibu saya bekerja dan membesarkan kami dengan penghasilan pohon karet yang di toreh setiap hari. Sedangkan kakak – kakak saya hanya lulusan SD sebab ibu tidak bisa membiayai kakak untuk sekolah, jadi mereka memutuskan untuk bekerja agar memudahkan ibu.

    Sebelum saya masuk SD, kakak- kakak saya yang perempuan sudah mempunyai suami. Di saat saya masuk sekolah dasar yaitu, SDN 06 Terusan Kecamatan Manismata, saat masih kelas 1 SD sampai kelas 2 SD saya ingin sekali mendapatkan juara di kelas. Baru ketika masuk kelas 3 dan 4 SD saya akhirnya mendapatkan keinginanku, yaitu mendapatkan juara kelas sampai saya kelas 6 semester.

    Setiap pagi saya dibangunkan oleh ibu saya pada jam 5:00 pagi, kadang jam setengah 4:30 pagi. Saya bangun pagi langsung memasak nasi dan ibu saya memasak sayur, untuk sarapa makan pagi bersama kakak Iman, saya dan ibu. Pada saat saya pergi ke sekolah ibu bersama Iman berangkat ke ladang, di sana mereka memelihara babi dan ayam, mereka juga menoreh pohon karet.

    Pada waktu pulang sekolah saya harus masak untuk makan siang karena ibu dan kakak saya tidak ada di rumah atau belum pulang. Jadi saya masak sendiri dan membersihkan rumah, mencuci piring juga mengambil air di sumur, terkadang saya pergi ke rumah kakak saya yang cewek yang sudah berkeluarga dan saya makan siang di sana. Sore sebelum ibu datang saya pergi memancing untuk mencari lauk untuk makan sore, saya hanya memasak nasi sedangkan ibu dan kakak saat pulang tinggal membuat sayur dan lauknya.

    Ketika kelas 6 SD saya teringat pada kakak saya yang tidak melanjutkan sekolahnya karena ibu tidak bisa membiayai kakak sekolah, sehingga terbersit pertanyaan apakah saya nanti juga seperti mereka. Lantas saya menulis surat buat Tuhan supaya saya bisa sekolah. Setelah menulis, surat itu saya taruh di bawah pakaian saya, ternyata kakak cewek saya mengetahui surat saya itu dan dia membacanya tanpa sepengetahuan saya sebab kakak cewek saya sering ke rumah untuk menengok ibu.

    Akhirnya ujian Nasional SD saya sudah selesai dan saya terus berdoa supaya bisa sekolah. Setelah saya lulus SD, kakak saya yang cowok bekerja di Pontianak yang jauh dari kami. Saya dan ibu tinggal di rumah hanya berdua. Pada hari Minggu saya pergi ke gereja karena saya beragama Katolik, ketika Romo berkotbah, beliau menawarkan siapa yang ingin bersekolah di Jawa dengan bea siswa dan gratis. Saat itu saya tidak tertarik karena jauh dan di saat itu saya biasa-biasa saja padahal orang lain ingin menyekolahkan anaknya di Jawa.

    Setelah selesai misa saya bersama teman – teman dan Romo berencana ke rumah orang tua yang punya anak tidak bisa berbicara atau tuna wicara. Kami ke sana untuk mendoakan keluarga itu namun sebelum ke rumah tersebut saya ke Pastoran dulu. Pada saat di jalan itulah kami berjumpa ibu. Ibu menyapa Romo dan  menunjuk aku agar dibawa ke Jawa supaya bisa sekolah. Romo pun memikirkan hal itu yang menurutnya ibu benar.

    Akhirnya, Romo pun menyuruh aku untuk sekolah di Jawa. Oleh karena itu, saya harus tanyakan ke ibu dan kakak saya, mereka pun ternyata mengijinkan aku. Dua hari kemudian tepatnya tanggal, 7 Juli 2015, saya langsung diajak oleh Romo ke Jawa. Perjalanan berlangsung selama 2 hari, pada tanggal 9 Juli 2015, saya tiba di Panti Asuhan Putri Brayat Pinuji Boro.

    Saya di panti bertemu dengan suster dan banyak teman yang berbeda – beda. Pada tanggal 12 Juli 2015, pertama kali saya masuk SMP, yaitu di SMP Pangudi Luhur 1, Kalibawang, Kulon Progo, milik Yayasan Katolik. Satu bulan saya tidak kerasan di Panti, saya ingin pulang, setiap pagi pada jam 3:00 pagi saya selalu menangis teringat kepada ibu saya, saya ingin sekali pulang ke Kalimantan Barat.

    Ketika ibu menelepon saya bilang ke ibu kalau ingin pulang, namun setelah setahun di panti saya merasakan perubah pada diri saya. Saya mendapat banyak hal, di panti asuhan ini mengajarkan saya berdoa setiap malam, serta peduli terhadap orang lain. Saya berdoa dan berterima kasih kepada Tuhan yang sudah menjawab surat yang kutuliskan  kala SD yang akhirnya aku berfikir mengapa aku pulang? Harusnya aku bersyukur tinggal di sini karena tidak menyusahkan ibu saya yang hanya tinggal sendirian.

    Dan akhirnya saya memutuskan untuk tetap tinggal di panti asuhan ini sampai saya lulus sekolah. Tidak terasa sekarang saya sudah 6 tahun di Panti Asuhan Putri Brayat Pinuji Boro ini dan sebentar lagi saya akan lulus sekolah. Sekarang saya bersekolah di SMK Marsudirini Marganisih Surakarta, yang jauh dari panti. Setiap satu bulan sekali saya pulang ke panti untuk mengambil keperluan ku sehari – hari, aku pun menjalani hari – hari dengan penuh senang hati karena untuk masa depanku.

    Terima kasih suster, dan donatur yang bersedia menyekolahkan aku. Harapan saya, semoga apa yang saya inginkan tercapai yaitu, menjadi desainer baju/ penjahit terkenal. Dan saya ingin bisa membantu Panti Asuhan Brayat Pinuji Boro, juga membahagiakan ibu saya. (Lusiana Tami, tinggal di Panti Asuhan Brayat Pinuji Boro, Banjarasri, Kalibawang, Kulon Progo, DIY)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here