Home Opini Tugas Public Relations Tak Sekadar Membangun Image

Tugas Public Relations Tak Sekadar Membangun Image

613
0
Drs Z Bambang Darmadi MM, Lektor Kepala/ Dosen ASMI Santa Maria Yogyakarta

BERNASNEWS.COM – BERBICARA aspek public relations memang tidak dapat dilepaskan dari salah satu kegiatan komunikasi dengan lintas bidang dan persoalan. Untuk mewujudkan kegiatan komunikasi dapat dilakukan melalui proses saling berinteraksi dengan orang, organisasi atau lembaga yang lain. Tentu saja melalui proses latihan dan latihan secara terus menerus, supaya kemahiran berkomunikasi semakin baik.

Berbagai kegiatan komunikasi dapat dilakukan melalui lambang suara, lambang bahasa baik secara lisan, tertulis maupun melalui lambang badan dan lambang gambar. Untuk mencapai komunikasi yang tepat sasaran berbagai rintangan selalu dijumpai. Misalnya rintangan yang bersifat teknis, rintangan perilaku (sifat apriori, otoriter, egosentris), rintangan bahasa, rintangan struktur atau organisasi, rintangan jarak, rintangan latar belakang.

Namun senyatanya belum banyak perusahaan, lembaga atau organisasi yang menyadari bahwa dalam menghadapi persaingan dalam mengelola bisnis manufaktur maupun bisnis jasa yang semakin kompetitif, peran public relations sangat penting. Apalagi public relations mempunyai falsafah yang sangat mulia, yakni mengangkat martabat manusia, masyarakat atau publik tidak dapat dianggap bodoh, masyarakat perlu diberi informasi secara benar dan jujur serta masyarakat perlu dihormati dan ditingkatkan pendidikannya.

Dengan demikian public relations merupakan suatu pendekatan yang paling strategis, karena teknik yang digunakan sangat terkait dengan konsep manajemen dan komunikasi, yakni komunikasi multi arah. Roger Haywood, seorang praktisi public relations dari Inggris menyatakan bahwa suatu organisasi-perusahaan yang sukses tanpa public relations sama dengan- katakanlah-seorang salesman yang berhasil tanpa kepribadian.

Ivy Ledbetter Lee, yang tersohor dengan julukan The Father of Pulic Relations, merupakan salah satu pelopor dan pejuang dalam memperkenalkan konsep public relations. Hal ini terbukti, saat terjadi tragedi pemogokkan dari para buruh secara besar-besaran pada perusahaan batu bara di Amerika Serikat pada tahun 1906, naluri Lee yang seorang wartawan mempunyai kepribadian dan berani yang secara kreatif memberikan penjelasan secara obyektif dan transparan pada public, apa yang terjadi secara konkrit dalam perusahaan tersebut, sehingga akhirnya Lee mampu mengatasi pemogokan dan kegiatan perusahaan dapat berjalan kembali dengan lancar.

Dalam kenyataannya masih ada anggapan yang salah dalam masyarakat kita dalam mengartikan public relations dengan: personal relations; propaganda; publisitas; iklan gratis; bahkan diartikan hanya menjual senyum. Padahal konteks public relations sebenarnya adalah seni untuk membuat perusahaan-organisasi Anda lebih disukai dan dihormati oleh publik.

Kata seni sangat terkait dengan konteks manajemen, artinya bagaimana seni membentuk komunikasi multi arah secara bijaksana. Bijaksana dalam hal ini, seorang public relations dituntut untuk mampu menjelaskan, mengumumkan, mempertahankan, mempengaruhi, mengarahkan dan mendengarkan segala aktivitas yang dilakukan oleh publik secara internal maupun publik secara eksternal.

Sebagai contoh, bahwa peran public relations mampu memberikan makna bagi kehidupan masyarakat dapat kita simak sukses dari penyelenggaraan Olimpiade Korea Selatan beberapa tahun yang lalu. Sukses penyelenggaraan olimpiade tersebut tidak lepas dari peran konsultan public relations, yang bernama Burson Mastellar.

Sebagai tuan rumah Korea Selatan jelas mempunyai keinginan lain, yakni ingin mengubah persepsi dunia. Sasaran lainnya adalah memasarkan barang-barang made in Korea. Maka tidak mengherankan jika melalui olimpiade tersebut Korea Selatan sampai saat ini telah berhasil mengubah persepsi pasar terhadap produk buatan Korea Selatan hampir ada di seluruh belahan dunia. Ini semua karena didukung adanya sumberdaya manusia yang handal dan kreatif dalam setiap menghadapi segala persoalan dengan konsep beres (tanpa persoalan).

Sudah barang tentu keberadaan aspek public relations saat ini perlu didukung dan bekerja sama dengan aspek media, baik media cetak (baca: koran, majalah, tabloid, bulletin) sebagai salah satu alat untuk memperkenalkan dan mempromosikan barang atau jasa yang dihasilkan oleh perusahaan-organisasi. Dalam dunia manajemen pemasaran, kita mengenal adanya bauran promosi, yang meliputi aktivitas periklanan, personal selling, promosi penjulan, penyebaran informasi dari mulut ke mulut (word of mouth), direct marketing dan media atau publikasi.

Bahkan keberadaan media online yang semakin banyak diminati, menjadi salah satu pilihan dalam meraih pangsa pasar. Apapun jenis media yang dipilih, menurut hemat saya, media koran masih menjadi banyak pilihan dari organisasi, karena media koran dipandang masih dianggap lebih efektif.

Yang jelas pilihan media apa pun harus tetap menjadi bagian yang saling terkait dengan aspek public relations, dalam membangun citra dan memperkenalkan aktivitas organisasi pada publik. Bahkan kegiatan lain dari public relations adalah membangun community relations. Oleh karenanya dalam perannya public relations harus mampu menciptakan citra baik pada perusahaan-organisasi secara utuh tanpa pembohongan terhadap publik.

Kondisi ini perlu dipahami, karena perusahaan-organisasi sebagai bagian dari masyarakat pluralistik tidak dapat dilepaskan dari adanya aspek lingkungan, yakni lingkungan fisik, energi dan konservasi, lingkungan perekonomian, lingkungan hukum, lingkungan pemerintah, lingkungan internasional dan aspek lingkungan yang lain. Oleh karenanya Community (komunitas) yang ada di sekitar perusahaan-organisasi bukan lagi sekadar kumpulan orang-orang yang tinggal pada lokasi yang sama, akan tetapi juga menunjukkan terjadinya interaksi di antara kumpulan orang tersebut.

Komunitas yang ada di sekitar perusahaan diibaratkan sebagai tetangga, maka perlu perlakuan baik supaya dapat menjadi kawan, bukan lawan. Terjadinya hubungan baik ini merupakan tanggung jawab sosial organisasi. Dengan demikian hubungan organisasi (bisnis) dan masyarakat tidak dapat dipandang dalam konteks relasi ekonomis saja. Akan tetapi juga perlu dipandang dalam bentuk relasi sosial.

Dalam hal ini tetangga yang baik tentu berperan dalam menunjang keberhasilan satu organisasi untuk menjacpai tujuan yang sudah ditetapkan. Bukan hanya mereka yang di dalam organisasi saja yang menentukan keberhasilan pencapaian tujuan, akan tetapi juga komunitas yang berada di sekeliling wilayah operasi organisasi – perusahaan memiliki pengaruh besar dan langsung pada kinerja organisasi – perusahaan secara keseluruhan. Semakin erat dan baik hubungan dengan komunitas, maka akan semakin tinggi pula citra organisasi di mata komunitas.

Kegiatan menjalin hubungan dengan komunitas bukan sekedar membagi-bagikan hadiah atau bingkisan menjelang hari besar keagamaan, atau membantu bila terjadi kebakaran di lingkungan. Melainkan melakukan berbagai kegiatan yang sistematis yang dilakukan untuk memperbaiki mutu kehidupan komunitas sekitar organisasi.

Dengan demikian sesungguhnya tugas seorang public relations tidak sekedar mempu membangun dan menciptakan image yang baik, namun lebih dituntut memiliki jiwa manajerial dan salesmanship yang andal terlebih memiliki kemampuan membangun relasi dengan berbagai pihak termasuk dengan media sebagai salah satu mitra kerjanya. (Drs Z Bambang Darmadi MM, Lektor Kepala/ Dosen ASMI Santa Maria Yogyakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here