Home Opini Transformasi Pembelajaran di Era Pandemi

Transformasi Pembelajaran di Era Pandemi

24644
0
Abdul Aziz Saefudin, Dosen Program Studi Pendidikan Matematika Universitas PGRI Yogyakarta (UPY)/ Mahasiswa Pascasarjana S3 Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta. (Foto: Dok. Pribadi)

BERNASNEWS.COM — Hampir setengah tahun, sejak kasus pertama kali positif diumumkan, pandemi Covid 19 melanda negeri kita tercinta ini. Sejak saat itu, banyak terjadi perubahan dalam segala lini kehidupan manusia. Pola hidup sehat dengan selalu mencuci tangan dan memakai masker serta menjaga jarak sosial (social distancing) antar sesama menjadi hal yang lumrah di mana saja.

Untuk masuk ke suatu tempat, misalnya kantor, mall, kampus, sekolah, dan tempat umum lainnya acapkali tidak lepas dari screening suhu tubuh, harus memakai masker, dan protokol kesehatan ketat yang lain. Fenomena tersebut lumrah dilakukan, karena memang pandemi Covid-19 hingga saat ini belum mereda. Justru grafiknya semakin meningkat dan belum ada tanda-tanda melandai. Korban meninggal pun semakin banyak dan yang pasti, hingga saat ini belum ada vaksin penawarnya.

Dampak di Sekolah

Sekolah merupakan salah satu lembaga pendidikan yang ikut terdampak dengan adanya pandemi ini. Hingga saat ini, sekolah belum menyelenggarakan kegiatan pendidikan yang berjalan normal seperti sedia kala. Sejak dihapuskannya kegiatan Ujian Nasional akhir semester tahun ajaran yang lalu, hingga awal tahun ajaran baru, penyelenggaran pendidikan di sekolah pada masa pandemi masih menjadi perdebatan hingga saat ini.

Awalnya, ada beberapa aliansi guru dan tokoh pendidikan di Indonesia yang meminta untuk menunda awal kegiatan belajar mengajar di sekolah hingga awal tahun depan (tahun 2021). Tetapi, tidak sedikit juga yang meminta kegiatan belajar mengajar di mulai tengah tahun seperti biasanya. Akhirnya, akhir bulan Juni 2020, Kemendikbud bersama Kementerian Kesehatan, Kementerian Agama, dan Kementerian Dalam Negeri mengeluarkan kebijakan agar sekolah tetap melaksanakan kegiatan belajar mengajar seperti tahun-tahun sebelumnya, yakni di tengah tahun, termasuk juga kegiatan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), hanya saja dengan beberapa persyaratan protokol kesehatan yang ketat.

Misalnya, ketentuan pembukaan kembali sekolah tatap muka di tiga zona, yakni kuning, orange, dan merah di masa pandemi Covid-19. Untuk dapat membuka sekolah kembali dengan tatap muka, sekolah harus berada di zona hijau yang ditentukan oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Padahal daerah dengan zona hijau, persentasenya sangat kecil di Indonesia yakni sekitar 22,2% dari 514 kabupaten/kota (Kompas, data per 7 Juli 2020). Selain itu, pembelajaran tatap muka di sekolah pada zona hijau juga harus melalui dua fase, yaitu dua bulan fase transisi dan jika dirasa aman baru bisa dilanjutkan masa kebiasaan baru dengan protokol kesehatan yang sangat ketat.

Dengan masih besarnya daerah yang berzona kuning, orange, dan merah, sangat riskan sekali jika pembelajaran tatap muka tetap dilaksanakan di tengah pandemi seperti sekarang. Meski dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri sudah disampaikan beberapa ketentuan pembukaan sekolah dalam pembelajaran tatap muka, diharapkan jangan sampai sekolah menjadi cluster baru penyebaran Covid-19. Jangan sampai anak-anak kita menjadi korban penyebaran virus mematikan ini. Apalagi mereka pulang ke rumah dan menjadi penyebar virus di lingkungan rumah mereka. Tentu, lebih baik sekolah bijak dan mengutamakan kesehatan seluruh warga sekolah, terutama anak didiknya.

Transformasi Pembelajaran

Untuk melindungi segenap warga sekolah dari bahaya penyebaran virus Covid-19, sekolah memfasilitasi siswanya belajar dari rumah (BDR). Kebijakan BDR ini merupakan keniscayaan yang harus dilakukan sekolah dan guru dalam proses pembelajaran. Mengingat pentingnya proses pendidikan siswa, proses pembelajaran harus tetap dilakukan meski dunia dilanda pandemi. Proses pengembangan potensi diri mereka, baik aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan, merupakan hal yang sangat utama.

Oleh karenanya, peran sekolah dan guru sangat penting untuk proses pengembangan potensi siswa tersebut. Salah satunya, sekolah harus mampu mengoptimalkan dua sistem pembelajaran, yaitu pembelajaran dalam jaringan (daring) dan pembelajaran luar jaringan (luring). Sekolah yang awalnya sebelum adanya pandemi masih belum siap dengan segala sarana dan prasarana (sarpras) yang memadai, mau tidak mau saat ini harus mempersiapkan segala sapras pembelajaran dengan dua sistem tersebut. Tidak terkecuali dengan peran guru, guru yang awalnya acuh tak acuh dengan pembelajaran daring (atau berkaitan dengan teknologi informasi) sebelum masa pandemi, saat ini guru harus mau beradaptasi dengan sistem pembelajaran tersebut.

Pada skala makro, kenyataan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan telah mengalami suatu transformasi. Mochtar Buchori (2001), dalam bukunya “Pendidikan Antisipatoris” menyebutkan bahwa sistem pendidikan yang sehat selayaknya dapat memahami zamannya dan berusaha memenuhi tuntutan-tuntutan yang ada pada zaman tersebut termasuk juga perubahan zaman yang akan datang. Artinya, pendidikan dewasa ini harus dapat beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang ada, termasuk adanya perubahan kebiasaan karena keadaan dunia yang mengalami pandemi Covid-19. Dalam tataran mikro, khususnya dalam proses pendidikan yang diselenggarakan oleh sekolah dan pembelajaran di kelas yang dilaksanakan oleh guru, kenyataan tersebut menuntut bahwa sekolah dan guru harus melakukan perubahan pola dan sistem pembelajaran.

Dalam kaitan ini, saya katakan, sekolah dan guru mengalami dinamika perubahan pola pembelajaran yang baru tersebut disebut “Transformasi Pembelajaran”. Pembelajaran yang sebelum pandemi dilakukan dengan tatap muka, setelah ada pandemi dilakukan dengan pembelajaran jarak jauh, baik dengan sistem daring maupun luring. Media pembelajaran yang sebelum pandemi didemonstrasikan secara langsung, setelah pandemi dilakukan dengan pemanfaatan media berbasis teknologi informasi. Kegiatan penilaian yang sebelumnya dilakukan secara langsung, setelah pandemi berubah menjadi penilaian berbasis online. Banyak perubahan yang terjadi dalam kegiatan pembelajaran, sehingga menuntut sekolah dan guru harus kreatif dalam menelurkan ide dan gagasan. Tujuan utamanya adalah siswa tetap terfasilitasi untuk mengembangkan seluruh potensi dalam dirinya, meski tidak hadir di sekolah. Berkembangnya kegiatan-kegiatan webinar, penggunaan platform YouTube, google classroom, google meet, Whatsapp Group, Zoom Meeting, dan media lainnya, menunjukkan bahwa transformasi pembelajaran telah terjadi dalam dunia pendidikan kita.

Kreativitas dan Resiliensi Guru

Era pandemi telah mengajarkan kepada kita semua untuk beradaptasi dengan segala perubahan yang ada. Dalam proses transformasi pembelajaran, ada dua faktor yang mendukung kesuksesannya yaitu kreativitas (creativity)dan resiliensi (resilience) guru. Kreativitas merupakan suatu proses berpikir dan bertindak untuk menghasilkan suatu ide dan gagasan yang baru. Kreativitas guru yang utama adalah kreativitas dalam rangka mendorong, membimbing, dan memfasilitasi proses tumbuh dan kembangnya potensi siswa. Guru harus kreatif dalam kegiatan merencanakan, mempersiapkan, melaksanakan, dan mengevaluasi proses pembelajaran baik secara daring maupun luring.

Pilihan guru dalam menggunakan sistem pembelajaran daring ataupun luring sangat bergantung pada kondisi siswa. Dengan beragam latar belakang sosial, ekonomi, dan letak geografis asal siswa, guru dapat memilih sistem pembelajaran yang beragam (terdifferensiasi). Pemilihan sistem pembelajaran pun tidak harus seragam. Misalnya, guru melaksanakan pembelajaran dengan sistem daring, semua siswa harus mengikuti pembelajaran dengan sistem daring semua.

Atau sebaliknya, guru melaksanakan pembelajaran dengan sistem luring, semua siswa mengikuti pembelajaran dengan sistem luring semua. Jika siswa tidak memiliki alat komunikasi yang digunakan dalam pembelajaran dengan sistem daring, maka pilihan untuk siswa tersebut adalah dengan sistem luring. Jangan sampai kondisi pandemi ini, memaksa siswa untuk membeli atau mengadakan perangkat handphone karena sekolah dan gurunya mewajibkan sistem daring dalam pembelajarannya.

Sekolah dan guru harus memfasilitasi siswa tersebut dengan sistem luring melalui beragam aktivitas-aktivitas pembelajaran yang outputnya tidak jauh dengan sistem daring yang guru lakukan dalam proses pembelajaran. Alhasil, potensi siswa dalam pembelajaran baik dengan sistem daring maupun luring tidak jauh berbeda.

Jika menggunakan sistem daring, tentu pemilihan platform yang digunakan harus disesuaikan dengan kemampuan siswa. Diharapkan, proses pelaksanaannya tidak memakan kuota yang terlalu besar. Termasuk juga dalam proses penyelesaian dan pengumpulan tugas belajar siswa juga tidak membebani diri mereka. Untuk tetap mengikuti pembelajaran, guru harus memotivasi siswa agar tetap stay on dan fokus dalam proses pembelajaran tersebut.

Hal ini tidaklah mudah. Karena anak tidak secara langsung dalam kendali dan pengawasan guru. Namun, guru dapat memberikan kepercayaan diri kepada siswa, agar senantiasa mandiri untuk melaksanakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan. Tugas yang terselesaikan dan dikumpulkan diberikan apresisasi yang terbaik. Di sinilah tuntutan kreativitas guru untuk tetap melaksanakan kegiatan belajar mengajar dalam rangka proses transformasi pembelajaran di masa pandemi seperti saat ini.

Selain kreativitas guru, faktor yang tidak kalah penting adalah resiliensi guru dalam proses transformasi pembelajaran. Resiliensi merupakan suatu sikap adaptif positif untuk mengatasi segala macam perubahan yang terjadi dalam kehidupan. Artinya, guru tidak mudah menyerah dengan adanya keterbatasan untuk mengembangkan potensi siswa di masa pandemi. Untuk mengatasi segala kekurangan pengetahuan, guru dapat meng-upgrade ilmunya dengan mengikuti kelas-kelas webinar yang berisi tentang solusi dan tips dalam pembelajaran di masa pandemi.

Guru juga dapat belajar untuk membuat media pembelajaran kreatif yang berbasis teknologi informasi sederhana. Dengan memperkaya ilmu pengetahuan dan mempraktikannya dalam proses pembelajaran, guru berada pada pola pikir yang berkembang (growth mindset), bukan pola pikir statis (fixed mindset). Akibatnya, semakin berkembang pola pikirnya, semakin resilien guru dalam menghadapi perubahan zaman, tidak terkecuali di zaman pandemi seperti sekarang. Diharapkan, guru-guru di Indonesia melakukan transformasi pembelajaran di masa pandemi sehingga tetap melaksanakan tugasnya untuk mencerdaskan dan mengembangkan potensi anak didiknya. Semoga. (Abdul Aziz Saefudin, Dosen Program Studi Pendidikan Matematika Universitas PGRI Yogyakarta (UPY)/ Mahasiswa Pascasarjana S3 Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here