Home Opini Tragedi Sriwijaya Air Menjelang Hari Dharma Samudera

Tragedi Sriwijaya Air Menjelang Hari Dharma Samudera

171
0
Drs Djati Julitriarsa MM, Dosen STIM YKPN Yogyakarta. Foto : Dok pribadi

BERNASNEWS.COM – Peristiwa jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 di perairan kepulauan Seribu dengan membawa 62 penumpang, termasuk 12 kru, membawa kita semua bersedih. Apalagi peristiwa itu terjadi pada saat bangsa Indonesia sedang menghadapi pandemi Covid 19 yang masih belum berakhir.

Jatuhnya pesawat ini terjadi di awal bulan Januari dan menjelang tanggal 15 Januari, dimana pada tanggal tersebut bangsa Indonesia akan memperingati hari peristiwa laut dan samudera, yang dikenal dengan Hari Bhakti Samudera. Semestinya pada hari peringatan tersebut kita akan bersyukur karena laut atau samudera yang merupakan bagian terbesar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan wilayah yang sangat menjanjikan untuk hasil lautnya. Dan itu semua akan dapat menghidupi masyarakat kita, terutama yang mata pencahariannya sebagai nelayan, yang sebenarnya akan membawa kesejahteraan yang menjanjikan bagi masyarakat kita.

Namun apa mau dikata, ironi yang kita alami bersama, karena laut kita justru beberapa kali mengakibatkan adanya petaka yang membawa duka kita semua dengan adanya beberapa kali peristiwa jatuhnya pesawat di laut, yang membawa korban jiwa manusia.

Paling tidak sudah ada tiga kali peristiwa yang dialami pesawat jatuh ke laut, yakni Adam Air yang jatuh di selat Makasar dengan menelan korban jiwa sebanyak 102 orang dan ditemukan pada tanggal 1 Januari 2007. Kemudian, dialami Air Asia pada tanggal 8 Desember 2014 dengan menelan korban jiwa 162 orang dan Lion Air yang menewaskan 189 orang yang jatuh di  perairan Karawang pada tanggal 29 Oktober 2018. Dan yang terakhir pada 9 Januari 2021, jatuhnya Sriwijaya Air dengan 62 korban jiwa.

Ini belum termasuk beberapa kecelakaan pesawat yang dialami dan menelan korban jiwa yang tidak terjadi di laut yang dialami beberapa jasa penerbangan lainnya.Sekali lagi ini merupakan peristiwa yang cukup memilukan kita semua.

Dengan memperhatikan bahwa tanggal 15 Januari adalah Hari Dharma Samudera, semestinya kita bersyukur bahwa bumi Indonesia yang juga sering dikenal dengan Bumi Nusantara, yang berarti beberapa nusa atau daratan yang terletak diantara berbagai lautan bahkan samudera sangat menjanjikan akan kekayaan alam lautnya.

Bahkan tahun lalu ketika perairan berupa lautan ini dikomandani oleh Susi Pujiastuti, sangat menjanjikan dalam meningkatkan hasil laut karena ia konsen melakukan penerban bahkan penenggelaman kapal pencuri ikan di wilayah perairan Indonesia, yang sangat merugikan negara kita. Karena tak dapat dipungkiri bahwa laut Indonesia terkenal dengan hasil ikan yang melimpah ruah, sehingga sangat menarik para pencuri ikan untuk mendulang hasil laut Indonesia.

Dharma Ssamudera seharusnya merupakan fakta yang dapat membuktikan bahwa bangsa Indonesia selalu dapat bersyukur kepada alam yang sebagian besar berupa lautan, yang di dalamnya sangat banyak terkandung hasil laut yang menjanjikan demi kesejahteraan masa depan bangsa ini dan perlu dilestarikan.

Kita patut bersyukur kepada Sang Pencipta yang telah menganugerahkan bumi ini dengan kekayaan laut yang melimpah. Oleh sebab itu tidak salah kalau di daerah tertentu, melakukan budaya sedekah laut. Budaya ini bukan berarti mengagungkan laut, namun mengucap syukur kepada Sang Khalik dengan wujud sesaji yang dimasukkan ke laut, sebagai tanda terima kasih yang tak terhingga atas anugerah yang telah diberikan dari Sang Pencipta kepada umatnya, yakni masyarakat Indonesia dan terutama kepada kelompok nelayan, yang menggantungkan hidupnya dari hasil tangkapan ikan di laut, sehingga mereka dapat melanjutkan kehidupannya demi keluarganya.

Semoga saja dengan adanya tragedi yang dialami pesawat Sriwijaya Air merupakan tragedi terakhir di dunia penerbangan kita, dan semoga di hari peringatan Dharma Samudera kali ini, bangsa Indonesia semakin sejahtera dari hasil lautnya. (Drs Djati Julitriarsa MM, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN Yogyakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here