Home Seni Budaya Tradisi Wiwitan Tanam Padi Masih Lestari di Desa Bumiharjo Kebumen

Tradisi Wiwitan Tanam Padi Masih Lestari di Desa Bumiharjo Kebumen

4137
0
Kepala Desa Bumiharjo, Kecamatan Klirong, Kabupaten Kebumen, Aris Hargiantara, SE sedang melaksanakan doa selamatan acara tradisi wiwitan tanam padi, Kamis (28/5/2020). Foto: Nuning Harginingsih/ Bernasnews.com.

BERNASNEWS.COM — Masyarakat Jawa merupakan masyarakat agraris karena dapat disebut sebagian besar masyarakatnya hidup dari sektor pertanian atau bercocok tanam di persawahan. Sehingga dari kehidupan agraris ini tidak mengherankan jika muncul kearifan lokal berupa tradisi dan menjadi sebuah produk budaya atau adat terkait tata cara, pengelolaan pertanian.

Dalam hal ini termasuk jabatan kepala desa (lurah) selain sebagai pemimpin pemerintahan di tingkat desa, kepala desa juga menjabat sebagai ketua adat yang secara turun temurun memimpin setiap acara tradisi sebagai manifestasi kearifan lokal di desa.

Kepala Desa Bumiharjo, Kecamatan Klirong, Kabupaten Kebumen, Aris Hargiantara, SE. (Nuning Harginingsih/ Bernasnews.com)

Kepala Desa Bumiharjo, Kecamatan Klirong, Kabupaten Kebumen, Aris Hargiantara, SE kepada Bernasnews.com, Kamis (28/5/2020), menjelaskan bahwa jabatan dan tugas kepala desa seperti daerah-daerah lainnya di Jawa Tengah pada umumnya, juga sebagai ketua adat yang memimpin berbagai acara tradisi, termasuk acara tradisi selamatan memulai menanam padi di sawah maupun selamatan musim panen nantinya.

“Tradisi selamatan dimulainya menanam padi secara turun temurun masih dilaksanakan di Desa Bumiharjo. Khususnya di persawahan bengkok yang disebutnya Laban dan persawahan Kowak sebagai sawah lungguh yang dikelola kepala desa,” ungkap Aris Hargiantara.

Petani warga Desa Bumiharjo, Kecamatan Klirong, Kabupaten Kebumen sedang melaksanakan penanaman padi setelah dilaksanakan acara tradisi selamatan wiwitan tanam padi. (Nuning Harginingsih/ Bernasnews.com)

Menurut Aris, sawah lungguh merupakan bentuk kompensasi gaji yang diterima oleh kepala desa dari hasil penggarapan atau pengelolaan sawah Laban dengan luas lebih kurang 3 hektar (7 bahu) dan sawah Kowak seluas setengah bahu (245 ubin). Sawah Kowak biasanya posisinya berada di tengah-tengah hamparan sawah dan sebagai tanda keberadaan ada rumpun tanaman tebu wulung (ungu). “Setelah kepala desa melaksanakan ritual selamatan di kedua sawah ini dengan ditandai menancapkan tanaman padi, kemudian baru para petani warga desa mengikuti untuk memulai tanam padi,” jelas Aris.

Uba rampe atau sesaji pelaksanaan ritual selamatan tradisi wiwitan tanam padi. (Nuning Harginingsih/ Bernasnews.com)

Uba rampe atau bahan-bahan semacam sesaji untuk melaksanakan upacara tradisi ini banyak macamnya, antara lain, ingkung bakar (masakan ayam),  tumpeng, pisang 3 mcam, berbagai minuman (wedang) dari rasa pahit hingga manis. Juga ada wedang Cembawuk, wedang khas Kebumen yang salah satunya bahanya dari santan kelapa. Kemudian ada pernak pernik jenang merah putih dan aneka jajanan pasar.

“Maksud dari tradisi selamatan ini adalah memohon kepada Allah semata berupa keselamatan buat yang punya sawah dan bagi yang menanam padi (wong sing tandur), agar tanaman padi tumbuh subur, bebas dari hama, serta hasil panenannya bagus,” tegasnya.

Setelah dilakukan doa selamatan oleh Kepala Desa, uba rampe sesaji berupa makanan tersebut dibagikan kepada warga petani yang hadir di sawah. (Nuning Harginingsih/ Bernasnews.com)

Upacara tradisi memulai tanam padi yang juga disebut tradisi wiwitan telah dilaksanakan turun temurun hingga oleh kepala desa, di Desa Bumiharjo, Kecamatan Klirong, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. “Juga merupakan kegiatan nguri-uri (melestarikan) budaya. Jika tidak dilaksanakan ada semacam sanksi sosial dari warga, apalagi kalau hasil panen tidak bagus,” tutup Aris Hargiantara. (nun/ ted)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here