Tuesday, May 17, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomeNewsTPAST Piyungan Ditutup 27 Maret 2022, Warga Wajib Kelola Sampah Rumah Tangga...

TPAST Piyungan Ditutup 27 Maret 2022, Warga Wajib Kelola Sampah Rumah Tangga secara Mandiri

bernasnews.com – Menurut rencana Tempat Pembuangan Akhir Sampah Terpadu (TPAST) Piyungan, Bantul akan ditutup pada 27 Maret 2022. Padahal setiap hari, timbulan sampah di Kabupaten Sleman mencapai 706.770,35 kg per hari. Sementara Kabupaten Sleman tidak memiliki TPAST sendiri.

Karena itu, warga wajib mengelola sampah rumah tangga secara mandiri, karena rumah tangga merupakan sumber utama produksi sampah.

“Setiap orang pasti menghasilkan sampah dan setiap orang pasti tidak mau ketempatan sampah. Itulah sebabnya, sampah harus betul-betul kita kelola. Setiap orang wajib mengelola sampahnya masing-masing. Sampah harus selesai dikelola di sumbernya yakni rumah tangga,” kata Sutarno, Pegawai Dinas Lingkungn Hidup (DLH) Sleman, dalam acara studi banding pengelolaan sampah warga Perumahan Citra Ringin Mas (CRM) ke Kelompok Sedekah Sampah Sido Rukun Dusun Glagahmalang, Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, Kamis 24 Maret 2022.

Menurut Sutarno, selama ini Sleman membuang sampah ke TPAST Piyungan, Bantul. Sementara setiap hari timbulan sampah yang dihasilkan di Sleman setiap hari mencapai 700 ton lebih. Itu yang tercatat di DLH Sleman, sementara yang tidak tercatat bisa lebih banyak lagi. Padahal Kabupaten Sleman belum mempunyai tempat pembuangan sampah. Biaya pembuangan sampah ke TPAST Piyungan selama ini mencapai Rp 1 miliar lebih per tahun.

Sayur kubis bertumbuh subur diberi pupuk kompos buatan KWT Dusun Glagahmalang, Glagaharjoo, Cangkringan. Foto: Philipus Jehamun/bernasnews.com

Sementara sampai saat ini kondisi TPAST Piyungan sudah overload atau penuh, sudah tidak ada tempat untuk sampah. Bahkan ketinggingan sampah di TPAST Piyungan saat ini mencapai 110 meter sampai 120 meter. Sehingga kalau dulu truk hanya menumpahkan sampah ke TPA, namun sekarang sampah harus diangkat dengan alat berat ke atas.

Dengan kondisi tersebut, menurut Sutarno, menurut informasi yang diterima DLH Sleman pada 27 Maret 2022 TPAST Piyungan akan ditutup. “Kalau betul-betul itu terjadi (TPA Piyungan ditutup) lalu kemana sampah yang diihasilkan dari Sleman? Pertanyaan ini yang harus kita jawab bersama,” kata Sutarno.

Sutarno dari DLH Sleman (ketiga dari kanan) saat bersamawa warga Perumahan Citra Ringin Mas (CRM) berkeliling kompleks Huntap (Hunian Tetap) Jetis Sumur, Dusun Glagah Malang, Kalurahan Glagaharjo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, Kamis 24 Maret 2022. Foto: Philipus Jehamun/bernasnews.com

Menurut Sutarno, ada wacana TPAST Piyungan akan dikelola pihak ketiga. Itu berarti retribusi sampah akan meningkat. “Kalau selama ini biaya retribusi hanya Rp 40.000 per ton, maka setelah dikelola pihak ketiga biaya retribusi bisa menjadi Rp 300 ribu per ton. Itu berarti retribusi sampah yang harus dibayar warga pun akan meningkat. Kalau dulu warga CRM bayar retribusi sampah hanya Rp 190 ribu per bulan maka setelah dikelola pihak ketiga bisa naik menjadi Rp 190 ribu per bulan. Kalau dulu ada yang bayar Rp 30.000 per bulan maka ke depan akan membayar Rp 300 ribu per bulan,” kata Sutarno.

Karena itu, menurut Sutarno, warga wajib mengelola/mengolah sampah secara mandiri. Mulai dari rumah harus memilah-milah sampah sesuai jenisnya, seperti sampah kertas, sampah plastik, sampah basah dan sampah kering. Sampah basah bisa dikelola/diolah untuk kompos dan sampah kering bisa dijual. (lip)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments