Wednesday, May 18, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomeOpiniToleransi

Toleransi

bernasnews.com — Dengan speed terbang berkuatan mesin 45 PK, saya menyusur sungai Kapuas, sungai terpanjang di Kalimantan Barat. Motoris melajukan speed dengan kencang, membelah  air sungai yang berwarna kecoklatan, menyelip di antara batang-batang kayu kecil yang bertebaran di permukaan air.

Motoris membelokkan laju speed ke kiri, menyusur rerimbunan bakau. Masuklah speed ke sungai Ketungau, anak sungai Kapuas yang mengalir tenang.

Dari arah berlawanan tampak perahu sampan kecil. Sampan itu menghilir kian mendekat. Tampak seorang perempuan setengah baya mendayung sampan itu. Sementara dua anak kecil duduk di dalam perahu sampan. Perahu sampan  dengan pelan menyusur tepian sungai. Teman di sebelahku berkata, ibu dan dua anaknya ini baru pulang dari ladang menyadap karet.

Speed terbang kian mendekati perahu sampan kecil itu. Sekejap akan berpapasan, motoris  melambatkan laju speed. Mesin hampir tak bersuara saat speed berpapasan dengan sampan kecil itu. Sang ibu dan dua anaknya menghilir dengan tenang. Aman perahu sampan itu tidak goyang, apalagi tenggelam.

Motoris kembali melajukan speed menuju hulu, semakin kencang hingga haluan speed menungging ke langit. Bertanya saya pada teman sebelah, mengapa motoris melambatkan laju speed saat berpapasan dengan perahu  sampan itu?

Rekan saya lalu menjelaskan, mengapa motoris berlaku seperti itu. “Speed yang melaju kencang menimbulkan gelombang yang besar. Motoris harus melambatkan laju speed supaya perahu sampan itu tidak terbalik dihempas gelombang yang besar itu. Ini sudah menjadi aturan tak tertulis dalam berlalu lintas di sungai-sungai di Kalimantan,” katanya. Wooo, takjub benar saya.

Barangkali inilah yang dinamakan toleransi yang sebenarnya. Speed yang melaju kencang melambat supaya tidak terjadi petaka dengan sampan kecil itu, yang bisa terbalik dihempas gelombang besar yang ditimbulkannya. Pihak yang besar dan lebih kuat mengalah demi keselamatan yang lebih kecil dan lemah.

Dalam berlalu lintas di air, toleransi tidak sekadar tidak saling mencampuri urusan orang lain. Ada pengorbanan atau pemahaman dari pihak yang lebih besar dan lebih kuat. Mana ada kearifan begini di kota?

Lalu lintas di jalan raya, berlaku hukum rimba. Yang besar beringas berupaya menyingkirkan yang kecil. Lihatlah, bus-bus besar seperti tak ada rem. Punyanya klakson. Hobinya ngeblong. Kendaraan kecil yang ga mau minggir, kena sikat.

Dalam konteks  kehidupan antarumat beragama perlu juga toleransi, agar kehidupan di masyarakat bisa rukun, tenang dan damai. Pertanyaannya toleransi yang seperti apa?

Koentjaraningrat menulis, bahwa toleransi adalah hidup sendiri-sendiri tidak saling mencampuri urusan agama lain. Itu sudah ideal, mampu menciptakan kehidupan yang tenang tanpa gejolak di masyarakat yang plural. Namun toleransi model pedalaman Kalimantan, dimana speed terbang melambat demi sampan kecil itu selamat, bisa juga menjadi sumber inspirasi.

Mungkinkah masyarakat kita yang multi etnis dan multi agama dan keyakinan itu bisa mempraktikan toleransi ala lalin di sungai Ketungau itu?

Pernah saya dengar, hanya mendengar lo ya, belum melihat sendiri. Konon, di salah satu daerah bagian Kerajaan Malaysia, yang berbatasan dengan Kerajaan Thailand, ada praktik kehidupan beragama yang sungguh toleran.

Di daerah itu, ada komunitas penganut suatu agama yang berpinsip: membangun dulu tempat ibadat penganut agama lain, sebelum membangun tempat ibadat agama sendiri. Saya cari keberadaan komunitas ini namun belum berhasil saya temukan.

Jadi ingat lagunya Opik Andaresta “Hanya Khayalan” Namun tiada soal, mengkhayalkan indahnya kebersamaan, kedamaian, dan kerukunan antarumat beragama di negeri tercinta itu baik-baik saja. (Anton Sumarjana)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments