Home News Tolak Kekerasan, Paguyuban Bregada Rakyat DIY Gelar Apel Siaga Jaga Jogja Damai

Tolak Kekerasan, Paguyuban Bregada Rakyat DIY Gelar Apel Siaga Jaga Jogja Damai

447
0
Paguyuban BRD DIY, gelar Siyaga Hangrekso Tentreming Praja atau Apel Siaga Jogja Damai di halaman Gedung DPRD DIY, Minggu (11/10/2020). Foto : Istimewa

BERNASNEWS.COM – Paguyuban Bregada Rakyat (BRD) DIY menyatakan sikap menolak keras aksi anarkis yang terjadi di DIY. Karena itu, Paguyuban BRD DIY mendukung pengusutan para pelaku aksi anarkis di DIY secara tuntas dan transparan.

“Kami menjunjung tinggi nilai keadilan dan kedamaian sebagai budaya adiluhung di DIY melestarikan nilai-nilai kerukunan dan keguyuban warga DIY khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya tanpa memandang suku, agama, ras dan antar golongan. Selain itu, menjaga ketentraman dan kenyamanan di wilayah DIY serta bersama seluruh elemen masyarakat, Paguyuban BRD iku menjaga keistimewaan DIY,” kata Nur Sukiyo, Ketua Paguyuban BRD DIY, dalam acara Siyaga Hangrekso Tentreming Praja atau Apel Siaga Jogja Damai di halaman Gedung DPRD DIY, Minggu (11/10/2020).

Apel siaga ini bertujuan untuk mengingatkan sekaligus mengajak semua komponen bangsa tunduk pada konsensus nasional Pancasila dan menjaga semua sikap perilaku sesuai norma sosial dan aturan hukum berlaku.

(Baca juga : 1.076 Pihak Tandatangani Pernyataan Kecaman, Dukung Sikap Tegas Sultan)

Menurut Widihasto Wasana Putra, Koordinator Sekber Keistimewaan DIY, dalam apel siaga itu, Paguyuban BRD DIY menghadirkan perwakilan anggota sebanyak 100 personil dengan berbusana khas seni keprajuritan rakyat se-DIY yang tergabung dalam 36 kelompok bregada yang berpartisipasi.

Ke-36 kelompok bregada tersebut adalah Bregada Panji Parentah, Gagak Rimang, Kyai Morang, Ponco Manunggal Sokawanengyudha, Singa Dahana, Gadung Melati,Pakoewodjo, Rangsang Manggala, Pasembaja, Kyai Pancas, Sura Utama, Ki Demang Gendol, Purbadiningrat, Nitimanggala, Paksikaton Bantul, Condrosasi Wiratama, Puspitosari, Danukusuman, Puro Loyo Imogiri, Winata Manggala, PJ2 Dipowinatan, Wiro Tamtomo, Noto Yudho, Langensari, Kyai Jurug, Lombok Abang, Kalinyamat, Dandang Rekso, Wirorejo, Mantri Manggolo, Bergada Jemparing Langenastro, Randu Alas, Bausosro Sawiji Lestari, Sarogo Manggolo, Banguntopo dan Wirosobo.

Menurut Nur Sukiyo seperti dikutip Widihasto Wasana Putra yang akrab disapa Hasto, mewujudkan ketentraman dan keterlindungan warga menjadi tanggungjawab semua komponen bangsa. Setiap individu di masyarakat berkewajiban saling menjaga dan menghormati keberadaan sesamanya. Kondisi ini akan menciptakan harmoni.

Sebaliknya jika ada yang sengaja menegasi dan bahkan memaksakan agregasi kepentingan secara frontal maka yang terjadi adalah anarki. Dan fenomena inilah yang beberapa kali terjadi di Yogyakarta.

“Masih kerap ditemui anarki sosial. Paling aktual adalah insiden unjuk rasa yang berujung rusuh di Malioboro, Kamis (8/10/2020) lalu. Gedung DPRD DIY, pos keamanan dan kendaraan polisi dirusak. Banyak lapak pedagang yang mengais rezeki di kaki lima terkena imbas Satu hal yang sontak membuat kemarahan warga adalah pembakaran restoran Legian di Malioboro akibat lemparan molotov massa aksi,” kata Nur Sukiyo.

Menurut Nur Sukiyo, peristiwa pembakaran ini baru pertama kali terjadi di Jogja. Bahkan ketika gelombang maraton demonstrasi massa tahun 1998 pun hal memilukan semacam itu tidak terjadi di Yogyakarta. Sehinggar wajar kalau warga bereaksi keras bahkan Raja Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X pun sampai mengeluarkan kecaman pedas.

“Dibutuhkan komitmen besar semua pihak untuk saling menghormati dan menjaga kedamaian dan ketentraman khususnya di Yogyakarta, sebuah daerah istimewa bekas wilayah kerajaan yang kaya akan warisan budaya leluhur. Adalah Pangeran Mangkubumi yang bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono l (1717-1792) yang mendirikan Yogyakarta. Beliau mencetuskan konsep Watak Satriya yakni Nyawiji Greget Sengguh Ora Mingkuh,” kata Nur Sukiyo.

Dikatakan, konsep sengguh (konseniteraptrasi total), greget (semangat jiwa), sengguh (percaya diri) dan ora mingguh (penuh tanggungjawab) diterapkan Konsep-konsep luhur ini menjadi credo atau prinsip bagi seluruh masyarakat. Beliau juga merumuskan falsafah Hamemayu Hayuning Bawono (menjaga kelestarian dan keharmonisan alam).

Menurut Nur, semuanya menjadi nilai-nilai utama yang diharapkan menjadi pedoman karakter bagi seluruh lapisan masyarakat. Kiranya warisan falsafah Watak Satriya ini masih akan selalu relevan sebagai dasar rujukan dalam rangka National Character Building, yakni upaya untuk membina, memperbaiki dan atau membentuk tabiat, watak, sifat kejiwaan, akhlak (budi pekerti), insan manusia (masyarakat) sehingga menunjukkan perangai dan tingkah laku yang baik berlandaskan nilai-nilai Pancasila.

“Perilaku anarkis dan memaksakan kehendak dengan menegasi hak-hak masyarakat sipil lain adalah cermin jiwa pengecut yang bertolak belakang dari Watak Satriya,” tegas Nur Sukiyo. (lip)

Pada momentum spesial ini Paguyuban BRD DIY mengeluarkan pernyataan sikap sebagai berikut:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here