Home Pendidikan Tiwul Instan dari Ubi Kayu Bisa jadi Pangan Alternatif Pengganti Beras

Tiwul Instan dari Ubi Kayu Bisa jadi Pangan Alternatif Pengganti Beras

85
0
Bayu Wahyudi (kiritas) dalam jumpa pers secara daring melalui zoom pada Senin 6 Desember 2021. Foto: Jerri Irgo

BERNASNEWS.COM – Indonesia kaya akan jenis pangan, terutama umbi-umbian. Bila diolah dengan baik, panganan olahan dari umbi-umbian tersebut bisa menjadi panganan alternatif pengganti beras. Dengan adanya panganan olahan dari umbi-umbian tersebut maka tingkat ketergantungan pada beras akan berkurang sekaligus untuk menjaga atau mendukung program ketahanan pangan.

Salah satu pangan olahan yang diharapkan bisa menjadi alternatif pengganti beras adalah tiwul instan yang terbuat dari bahan baku ubi kayu pahit yang sedang dikembangkan oleh Bayu Wahyudi, alumni Program Studi Teknik Industri, Program Magister FTI UII. Bayu Wahyudi yang saat ini menjadi Dosen di Universitas Muhammadiyah Palembang melakukan penelitian bagaimana mengoptimalkan desain produk tiwul instan dari ubi kayu pahit untuk meningkatkan kandungan protein dan rasa dengan metode Taguchi.

Menurut Bayu Wahyudi dalam jumpa pers secara daring melalui zoom pada Senin 6 Desember 2021, tiwul merupakan pangan olahan yang terbuat dari bahan baku utama ubi kayu atau umbi cassava dengn proses pembuatan yang relatif mudah dan dapat digunakan sebagai pengganti nasi.

Ketersediaan ubi kayu di Indonesia cukup banyak. Menurut data BPS tahun 2018, sebanyak 19,341,233 ton per tahun dan tingkat produktivitas mencapai 243.91 dengan berbagai jenis pemanfaatannya. Pengembangan pada pengolahan tiwul instan dapat menjadi program ketahanan pangan apabila dilakukan dengan baik, dimulai dari peningkatan kualitas tiwul instan, khususnya pada kandungan protein dan rasa yang disukai oleh konsumen. Sebab, kondisi saat ini kandungan gizi tiwul instan terutama kandungan proteinnya masih relatif rendah masih di bawah nasi.

Karena itu, menurut Bayu, penelitian yang dilakukannya untuk meningkatkan kandungan protein dan rasa tiwul instan dari ubi kayu pahit. Ubi kayu pahit dipilih karena masih banyak dibudidayakan dan dapat menghasilkan ubi kayu yang relatif tinggi.

Bayu yang didampingi Merisha Hastarina, Ketua Program Studi Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Palembang, Nidya Wisudawati dan Tuwandi Juniarto, Dosen Prodi Teknik Industri UM Palembang, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Taguchi. Perancangan eksperimen taguchi diawali dengan penentuan variabel respon yaitu kandungan protein dan rasa, kemudian dilanjutkan dengan penentuan faktor-faktor dan level faktor yang diduga memberikan pengaruh yang signifikan terhadap variabel respon.

Faktor-faktor yang diidentifikasi dan dipilih dalam penelitian ini yaitu kacang koro pedang, gandum, lama fermentasi dan kalsium hidroksida dengan masing-masing memiliki 3 level. Sampel berupa tiwul instan hasil eksperimen kemudian dilakukan pengujian kadar protein dengan uji Kjeldahl, dan pengujian rasa dilakukan dengan uji Organoleptik terhadap 30 orang sebagai responden.

Dari hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa semua faktor memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kandungan protein tiwul instan dengan faktor kacang koro pedang memberikan pengaruh kontribusi sebesar 85,28 persen. Kemudian semua faktor memberikan pengaruh yang signifikan terhadap rasa tiwul instan dengan faktor tepung gandum memberikan pengaruh kontribusi sebesar 32,31 persen.

Dari hasil eksperimen diperoleh kombinasi level faktor optimal yaitu A3-B1-C1-D1 (kacang koro pedang 30 persen, gandum 10 persen, lama fermentasi 24 jam, dan konsentrasi kalsium hidroksida 5 persen). Hasil ini dapat meningkatkan kandungan protein dari kondisi semula 1,70 persen menjadi 8,12 persen dan meningkatkan rasa tiwul instan dari semula 5.8 menjadi 5.85.

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah dilakukan, menurut Bayu, dapat disimpulkan bahwa dari keempat faktor yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kacang koro pedang, gandum, lama fermentasi, dan konsentrasi kalsium hidroksida, diperoleh bahwa semua faktor berpengaruh dengan signifikan terhadap kedua variabel respon yaitu kandungan protein dan rasa tiwul instan.

Penelitian Bayu Wahyudi di bawah pendampingan Dosen Pembimbing Prof Dr Ir Hari Purnomo MT IPU yang juga Dekan FTI UII dan Ir Winda Nur Cahyo ST MT PhD IPM, Ketua Program Studi Teknik Industri Program Magister FTI UII. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here