Home News Tim SAR Resmi Umumkan Seluruh Korban SMPN 1 Turi Sudah Ditemukan

Tim SAR Resmi Umumkan Seluruh Korban SMPN 1 Turi Sudah Ditemukan

204
0
Suasana penutupan posko Operasi SAR Sungai Sempor 2020, musibah laka ari ang dialami oleh siswa SMPN 1 Turi, Kabupaten Sleman, DIY. (Foto: Dokumen Pribadi Kiswanta)

BERNASNEWS.COM — Tim SAR gabungan berhasil menemukan korban ke 9 dan 10 Siswa SMPN 1 Turi yang hanyut dalam laka susur Sungai Sempor. Korban ke sembilan ditemukan, Minggu (23/2/2020), pukul 05:30 WIB. Hal ini menandai telah terkonfirmasinya seluruh korban laka air tersebut.

Dalam keterangan resmi yang dirilis dari Posko Operasi SAR Sungai Sempor, pukul 07:45 WIB, menyebut bahwa kedua korban ditemukan di Dam Matras. “Pada hari Minggu, 23 Februari 2020, jam 05:30 WIB telah ditemukan korban ke sembilan. Dan jam 07:05 WIB korban ke sepuluh, dua korban terakhir kejadian banjir di sungai Sempor, Tri, Sleman,” tulis Asnawi selaku Komandan Operasi SAR Sungai Sempor 2020 dalam keterangan rilis.

Keduanya korban tersebut di Dam Matras dari area pencarian atau section 1 yang berjarak kurang lebih 400 meter dari Tempat Kejadian Musibah (TKM). Keduanya kini sudah berada di RS Bhayangkara dan sedang identifikasi oleh tim DVI lebih lanjut.

Dengan penemuan kedua korban terakhir tersebut, Tim SAR gabungan menyatakan bahwa operasi SAR Sungai Sempor 2020 resmi ditutup. Upacara penutupan posko secara resmi dilakukan pukul 08:0 WIB. Asnawai menegaskan, dengan telah ditemukannya seluruh korban maka operasi SAR Sungai Sempor 2020 dinyatakan ditutup, dan seluruh potensi SAR dikembalikan ke unsur masing-masing.

“Jam 08:00 WIB, opSAR gabungan laka Sungai Sempor Donokerto resmi ditutup,” imbuh Kiswanta selaku Koordinator SAR Linmas Wil 7 yang berada di lokasi.

Tim SAR gabungan saat ini satu persatu telah meninggalkan posko dan kembali ke rumah masing-masing. Terkait proses pencarian, Kiswanta menceritakan sempat ada kesulitan terutama saat evakuasi. Kendala yang dihadapi diantaranya terkait kondisi medan dan juga keberadaan orang yang menonton proses evakuasi.

“Ada kesulitan, banyaknya lokasi atau medan yang cukup sulit untuk dijangkau baik saat penyisiran dan penyelaman. Selain itu banyaknya masyarakat dan orang-orang yang tidak mempunyai kepentingan melihat di sepanjang bantaran sungai, sehingga menghambat akses jalan dan pergerakan rescuer,” pungkasnya. (birgitta feva)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here