Home Opini Tik-Tok Hype Pengguna Internet Masa Kini

Tik-Tok Hype Pengguna Internet Masa Kini

154
0
Drs Djati Julitriarsa MM, Dosen STIM YKPN Yogyakarta

BERNASNEWS.COM –Akhir-akhir ini kita mengenal sebuah aplikasi di media sosial (medsos) dengan nama Tik-Tok. Terlepas dari masih adanya Pandemi Covid 19 yang belum berakhir, pada dasarnya Tik-Tok merupakan sebuah aplikasi yang dibikin oleh China, yang dewasa ini menjadi penantang yang sangat hebat dan populer bagi aplikasi produk Amerika Serikat atau negeri Paman Sam seperti diciptakan oleh Silicon Valley di antaranya You Tube, Facebook, Instagram, Whats App, Twitter serta aplikasi populer lainnya.

Bahkan disebutkan bahwa Tik-Tok menjadi penantang status quo raksasa aplikasi dunia, di bidang medsos, yang mampu menunjukkan pengguna membuat dan berbagi klips video selama kurang lebih 15 detik, yang notebene buatan China.

Tik-tok yang diluncurkan oleh raksasa teknologi China pada tahun 2016, yakni Bytedance, yang asli China-nya adalah Douyin, sebagai salah satu proyek di bidang ini. Mengapa hal ini kemudian dirasakan Amerika Serikat sebagai ancaman baru?. Karena pada prinsipnya apa yang berbau China, oleh Amerika Serikat akan dihalangi pertumbuhan dan perkembangannya, agar jangan sampai menyaingi aplikasi buatan perusahaan-perusahaan yang ada di Amerika Serikat.

 Kita dapat membayangkan bahwa pada kenyataannya aplikasi Tik-Tok mempunyai lebih dari 800 juta pengguna aktif di seluruh dunia. Berapa banyak pengguna Tik-Tok sehingga menyebabkan hype di kalangan anak-anak dan remaja.

Bahkan berdasarkan catatan sensor Tower, Tik-Tok memiliki 500 juta pengguna aktif di seluruh dunia, meskipun separuhnya disumbang dari negara asalnya, yakni China, dan sepertiganya disumbang pengguna dari India. Namun dari jumlah pengguna sebesar itu dan pertimbangan pertumbuhan yang pesat, maka tidak salah kalau Tik-Tok menjadi sebuah ancaman yang serius bagi platform medsos lain yang sudah eksis. Angka 500 juta sudah memberi sinyal bahwa hal itu telah melewati jumlah pengguna aktif dari Twitter dan yang lainnya. Bahkan tak lama lagi kemungkinan akan melewati jumlah pengguna Instagram yang tercatat punya satu milar pengguna aktif.

Pada November 2010, Sensor Tower melaporkan bahwa Tik-Tok telah melampaui 1,5 milar unduhan aplikasi di seluruh dunia. Ini menunjukkan bahwa telah lebih 1,5 miliar unduhan di App Store dan Geogle Play. Hal ini cukup fantastis bahwa dalam jangka waktu yang singkat terjadi. Ingat bahwa Tik-Tok diluncurkan tahun 2016, boleh dikata baru seumur jagung sekarang ini. Bandingkan saja dengan Facebook yang didirikan tahun 2004 dan mereka butuh waktu yang lebih lama untuk membangun diri hingga menjadi sebesar sekarang. Sehingga masuk akal apabila kemudian hal tersebut menjadi perhatian yang serius bagi Facebook dan pemain besar lainnya, dan menjadi waspada dengan adanya pendatang yang relatif baru ini, dan sedang naik daun pula.

Aplikasi untuk Gen Z bukan untuk anakanak

Faktanya Tik-Tok adalah aplikasi untuk Gen Z dan untuk anak-anak remaja masa kini, yang merupakan kaum milenial. Dibandingkan dengan platform medsos lainnya, Tik-tok memiliki basis pengguna termuda, dimana hamper 70 persen pengguna Tik-Tok berusia muda dan banyak orang dewasa yang menggunakan Tik-tok.

Niat awal Mark Zuckerberg adalah membuat jejaring sosial untuk kalangan mahasiswa. Namun seiring waktu pula terbukti bahwa ayah, ibu, nenek maupun kakek mereka tahu Facebook , tertarik lalu ikut bermain. Hal ini sama seperti Instagram.

Tapi perlu dipahami bahwa Tik-tok tidak hanya sekadar aplikasi Lip-sync. Sebagian besar konten di Tik-tok didominasi oleh mereka. Dengan format video pendek, sehingga wajar bila kemudian banyak yang menganggap bahwa Tik-tok tak lebih dari sekadar aplikasi Lip-sync, dimana pengguna hanya menggerakkan bibir menyanyikan potongan lagu-lagu tertentu.

Pada akhir tahun 2017, Bytedance yang merupakan raksasa teknologi di belakang Tik-tok mengakuisisi musical.ly dengan harga lebih dari 1 milar dolar AS, setelah itu Bytedance menggabungkan kedua aplikasi dan mengintegrasikan fitur musical.ly ke dalam aplikasi Tik-tok, namun Tik-tok lebih sekadar aplikasi lip-sync.

Tik-tok menawarkan berbagai pilihan suara dan potongan lagu yang dapat dipilih bagi penggunanya. Ditambah lagi bahwa mereka dapat menambahkan efek dan fitur khusus dengan mudah. Dengan cara ini pengguna Tik-tok bisa membuat video pendek tak hanya sekadar menyanyikan lagu, misalnya dengan akun pengembangan bisnis atau pribadi yang berbagai kiat yang tepat dan dapat ditindaklanjuti, karena videonya hanya berdurasi maksimal 60 detik.

Jangkauan Global dengan konten Lokal

Jika medsos lainnya fokus untuk konten yang bisa dipahami secara global, Tik-tok sebaliknya. Faktor kunci untuk popularitasnya adalah konten lokal. Lewat kontes, tantangan dan hashtag lokal aplikasi ini berfokus pada tren lokal, yang disukai pengguna. Ini yang membuat pembuat konten seperti Bowo Alpenliebe dapat terkenal di kalangan anak-anak muda Indonesia. Pengguna Tik-tok tidak hanya mengonsumsi konten orang yang mereka kenal dan ikuti, namun mereka menulusuri video yang disarankan melalui algoritma Tik-tok yang sangat cerdas.

Yang jelas Tik-tok mampu membantu untuk membuat konten yang lebih mudah, mampu menyederhanakan pembuatan konten ke level berikutnya. Siapa pun tanpa pengetahuan sebelumnya dalam mengedit video akan dapat menghasilkan konten sangat mudah tanpa menggunakan aplikasi atau program tambahan.

Namun di sisi lain, Tik-tok pun menghadapi tantangan, karena dengan komitmennya untuk membina lingkungan yang positif dan inklusif, dengan batas usia minimal 14 tahun, dapat mengekspresikan mereka dengan aman. Hal ini seperti dikemukakan oleh Donny Eryastha, Head of Public Policy Tik-tok Indonesia, Malaysia dan Philipina.

Meskipun banyak orang memanfaatkan platform Tik-tok untuk mencari hiburan, belajar dan berinteraksi dengan komunitasnya, ternyata masih ada pengguna yang mengunggah konten dengan menampilkan perilaku berbahaya. Lihat apa yang dilakukan sekelompok ibu-ibu muda di jembatan Suramadu, yang dapat membahayakan diri atau orang lain, yang waktu itu sempat viral di medsos.

Oleh sebab itu jangan mengunggah konten semacam itu serta mengingatkan mereka untuk mengikuti kebijakan dan memanfaatkan fitur yang ada untuk membantu menghentikan masalah seperti itu. Jangan sampai terjadi penyalahgunaan platform Tik-tok. Semoga bermakna. (Drs Djati Julitriarsa MM, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN Yogyakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here