Home News Perlu Dilakukan Tiga Hal untuk Mengurangi Korban Gempa

Perlu Dilakukan Tiga Hal untuk Mengurangi Korban Gempa

402
0
Guru Besar Fakultas Teknik Sipil Universitas Katolik Parahyangan Bandung Prof Paulus P Rahardjo PhD saat memaparkan materi tentang Likuifasi dalam Kuliah Umum dengan tema Likuifasi dan Kegempaan yang diadakan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) UII di Auditorium FTSP UII, Senin (27/1/2020). Foto : Philipus Jehamun/Bernasnews.com

BERNASNEWS.COM – Untuk mengurangi risiko jumlah korban manusia dan kerugian harta benda akibat gempa bumi, maka banyak usaha yang harus dilakukan, tiga di antaranya adalah menurunkan kerentanan bangunan, menurunkan ekspos dan meningkatkan kualitas dan kapasitas sumber daya manusia.

Sementara untuk menurunkan kerentanan bangunan banyak hal yang harus dilakukan mulai dari perbaikan kualitas disain, perbaikan kualitas pembangunan (construction) dan peningkatan kualitas perawatan bangunan. Perbaikan kualitas disain dapat diperoleh dengan perbaikan Pedoman Perencanaan Bangunan Tahan Gempa dan peningkatan kompetensi SDM.

Demikian antara lain pokok pikiran yang mengemuka dalam kuliah umum dengan tema Likuifasi dan Kegempaan yang diadakan oleh Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) UII di Auditorium FTSP UII, Senin (27/1/2020). Kuliah umum menampilkan dua pembicara yakni Prof Paulus P Rahardjo PhD, Guru Besar Fakultas Teknik Sipil Universitas Katolik Parahyangan Bandung dan Prof Widodo Prawirodikromo, Guru Besar FTSP UII.

Menurut Prof Paulus P Rahardjo, Indonesia merupakan pertemuan dari 3 lempeng tektonik, yaitu lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia dan lempeng Pasifik. Lempeng tersebut mengalami pergerakan dan saling berinteraksi satu dengan yang lain, baik itu pergeseran maupun tumbukan.

Guru Besar Fakultas Teknik Sipil Universitas Katolik Parahyangan Bandung Prof Paulus P Rahardjo PhD saat memaparkan materi tentang Likuifasi dalam Kuliah Umum dengan tema Likuifasi dan Kegempaan yang diadakan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) UII di Auditorium FTSP UII, Senin (27/1/2020). Foto : Philipus Jehamun/ Bernasnews.com

Pertemuan lempeng tektonik menyebabkan adanya aktivitas aktif lempeng berupa pembentukan dataran tinggi, gunung berapi dan gempa bumi. Kawasan pertemuan lempeng ini atau disebut Ring of Fires memiliki potensi yang cukup besar terhadap bencana alam seperti Gempa Bumi. Gempa Bumi yang terjadi di sepanjang Ring of Fires diakibatkan oleh pergerakan lempeng bumi, yang disebabkan oleh pelepasan energi yang cukup besar.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) tercatat 11.473 Gempa terjadi sepanjang tahun 2019 dan 11.920 kejadian Gempa pada tahun 2018. Salah satunya adalah Gempa Bumi yang terjadi di Sulawesi Tengah pada 28 September 2018 dengan kekuatan sebesar 7,4 Mw yang terjadi di wilayah Donggala-Palu–Sigi-Parigi Moutong.

Gempa berkekuatan VIII MMI tersebut berada di wilayah Donggala dengan pusat gempa di darat 26 km Utara Donggala – Sulawesi Tengah, pada kedalaman 11 km. Fenomena Gempa bumi tersebut menyebabkan terjadinya Likuifaksi di wilayah Petobo, Balaroa dan Jono Oge yang menyebabkan korban jiwa dan tertimbunnya rumah-rumah.

Menurut Prof Paulus, Likuifaksi merupakan peristiwa hilangnya daya dukung tanah akibat getaran Gempa Bumi, yang terjadi secara tiba-tiba dalam waktu singkat. Getaran tersebut menyebabkan adanya peningkatan tekanan air pori yang diikuti dengan peningkatan volume tanah dan penurunan tegangan tanah hingga mencapai nol. Peningkatan volume tanah tersebut mengakibatkan hilangnya kontak antar partikel yang diikuti berkurangnya daya dukung tanah.

Sementara Prof Widodo Prof Widodo Prawirodikromo, untuk menurunkan kerentanan bangunan banyak hal yang harus dilakukan mulai dari perbaikan kualitas disain, perbaikan kualitas pembangunan (construction) dan peningkatan kualitas perawatan bangunan. Perbaikan kualitas disain dapat diperoleh dengan perbaikan Pedoman Perencanaan Bangunan Tahan Gempa dan peningkatan kompetensi SDM.

Dikatakan, baru-baru ini telah diterbitkan SNI 1726 tahun 2019 yang pada intinya adalah pemutakhiran dan penyempurnaan pedoman beban gempa. Pada SNI 1726 tahun 2019, selain metode Respons Spektrum, maka mulai diizinkan memakai metode Analisis Riwayat Waktu (Time History Analysis, THA) untuk keperluan analisis struktur.

“Pada metode THA ini memerlukan persyaratan-persyaratan khusus tetapi juga diberikan insentif-insentif persyaratan yang menarik. Persyaratan yang harus dipenuhi, misalnya, bahwa paling tidak harus dipakai 11 pasang rekaman gempa pada saat analisis struktur. Namun, mengingat rekaman gempa di Indonesia pada umumnya tidak tersedia, maka harus dicari cara lain yaitu melalui Analisis Seismik Probabilitas Hazard (Probabilitas Seismic Hazard Analysis, PSHA),” katanya.

Sebagai contoh kasus di kota Yogyakarta, sumber gempa yang dominan pada umumnya adalah sumber gempa-gempa dangkal (shallow crustal) terutama akibat aktivitas sesar Opak sebagaimana gempa Yogyakarta 27 Mei 2006.

Secara geografi, kota Yogyakarta sangat dekat dengan sesar Opak yang kira-kira hanya berjarak 10 km. Dengan sumber gempa sedekat itu maka akan ada kemungkinan terjadinya efek-arah (directivity effects) akibat rambatan gelombang energi gempa.

Efek yang dimaksud sering disebut fling effect pada arah normal terhadap arah gerakan sesar saat terjadi gempa. Adanya fling effect tersebut akan mengakibatkan kecepatan gerakan tanah yang tinggi yang dapat menimbulkan kerusakan bangunan yang sangat besar.

Penelitian ini mengidentifikasi apakah ada kemungkinan terjadinya directivity effect yang menjurus pada terjadinya fling effects yang sangat berbahaya itu melalui representasi gempa dalam arah (Bidirectional) terhadap rekaman gempa sintesis (Synthetic Ground Motions, SGM) melalui analisis PSHA.

Untuk itu dipakai lokasi tertentu yang dipilih (selected site) di dalam kota Yogyakarta. Hasil analisis menunjukkan bahwa 11 SGM yang telah dihasilkan semuanya tidak menunjukkan adanya filing effects. Namun demikian hasil itu berdasarkan rekaman gempa sistesis, bukan rekaman gempa riil yang terjadi. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here