Tuesday, June 28, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomeNewsPariwisataThe Lost World Castle di Sleman Miliki Daya Tarik Arsitektur

The Lost World Castle di Sleman Miliki Daya Tarik Arsitektur

bernasnews.com — The Lost World Castle adalah salah satu destinasi wisata di kawasan lereng Gunung Merapi tepatnya di Desa Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Bangunan ini menghadirkan kesan unik perpaduan Tiongkok, China, Jepang dan khas tempo dulu Indonesia.

“Dari sudut pandang arsitektur, bangunan obyek wisata ini menarik. Potensinya dapat membantu pariwisata di Sleman pada umumnya. Wajar kalau banyak pengunjung wisatawan ke sana,” kata mahasiswi Arsitektur Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Widya Mataram (FST UWM) Aidah Nur Fitriani dalam diskusi kelas daring tentang peranan arsitektur di Kabupaten Sleman, pekan lalu, sebagaimana dikirimkan ke bernasnews.com Senin (23/5/2022).

Para mahasiswa Aristektur UWM kelas Bahasa Indonesia pagi dan sore mendapat tugas diskusi kecil dari dosen pengampu tentang arsitektur di Sleman berkenaan dengan HUT ke-106 kabupaten ini pada tanggal 15 Mei 2022. Secara umum mereka berpendapat, arsitektur menjadi bagian tidak terpisahkan dari pembangunan wilayah khususnya di Kabupaten Sleman. Keberhasilan pembangunan arsitektur akan mendukung keberhasilan pembangunan umumnya.  

Menurut Aidah, nama The Lost World Castle dimaksudkan untuk mengingat erupsi Merapi pada tahun 2010 yang menyapu bersih Desa Kepuharjo dan sekitarnya. Hal tersebut mengakibatkan ekonomi warga terpuruk. Kemudian berdasarkan hasil pertukaran pikiran sesama warga masyarakat desa, tercetuslah pembangunan desa wisata dengan nama The Lost World Castle. Objek wisata ini sangat unik karena dibangun menyerupai bangunan luar negeri yaitu Benteng Takeshi di atas lahan 1,3 hektar pada tahun 2016.

Wisata ini menawarkan pemandangan gagahnya Gunung Merapi jika cuaca cerah. Selain itu, material yang digunakan untuk membangun obyek wisata ini adalah batuan dari sisa erupsi Gunung Merapi. Obyek wisata ini juga dilengkapi beberapa wahana dengan konsep tempo dulu seperti gledekan, film 9D, stonehenge yang hadir dengan nuansa Jepang dan Korea lengkap dengan bunga sakura, perkampungan Suku Indian, dan beberapa spot foto menarik.

Obyek wisata ini mirip dengan salah satu obyek wisata di China yaitu Tembok Besar China atau yang sering dikenal dengan Celah Shanhai (Shanhaiguan). Tembok Besar China dibangun secara terus menerus pada abad ke 3 SM sampai abad ke 17 M. Perbedaan Tembok Besar China dengan The Lost World Castle adalah Tembok Besar China dari tepi pantai berakhir di tengah gurun dan merupakan bangunan khas China, sedangkan The Lost World Castle menghadirkan kesan perpaduan Tiongkok, China, Jepang dan khas tempo dulu Indonesia.

Kawasan obyek wisata The Lost World Castle di Desa Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, DIY yang unik dan menarik dari sisi arsitektur. Foto : Istimewa

Perpaduan modern dan tradisional

Berbicara tentang arsitektur di Kabupaten Sleman, menurut Muhammad Firas Syarif, terdapat beberapa konsep yang diterapkan pada bangunan di wilayah ini. Seperti perpaduan konsep arsitektur modern dan tradisional. Hal ini dapat dilihat pada fasad-fasad (suatu sisi luar, biasanya di “depan” atau “muka”) bangunan yang menggunakan motif-motif batik dan dimodifikasi sesuai fungsi tanpa mengubah bentuknya secara keseluruhan. Kemudian bentuk-bentuk atap yang menggunakan atap joglo.

Salah satu contohnya adalah fasad pada bangunan Hotel Marriot. Jika dianalisa lebih jauh, hotel ini seperti menerapkan motif batik parang pada bagian fasad yang dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan dan fungsinya nanti.

Sebagian besar wilayah di Indonesia menggunakan perpaduan konsep arsitektur modern dan arsitektur tradisional. Di wilayah Indonesia timur (Maluku Utara) misalnya, perpaduan konsepnya dapat dilihat pada bangunan Masjid Raya Al munawwar Ternate. Hal ini menjadi bagian penting dalam membangun eksistensi Arsitektur Indonesia agar dapat dikenal ke berbagai penjuru dunia. Yakni mendesain sebuah bangunan dengan konsep-konsep budaya yang dikolaborasikan dengan beberapa konsep lainnya.

“Semoga ke depannya Arsitektur Sleman dapat berkembang dan dapat memotivasi daerah-daerah lain sehingga tercipta suatu kemajuan terhadap Arsitektur Indonesia,” kata Firas.(mar)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments