Home Opini Terima Kasih, Buku

Terima Kasih, Buku

450
0
YB Margantoro, Praktisi Media dan Pegiat Literasi. Foto : Dok pribadi

BERNASNEWS.COM – APA yang pantas kita berikan kepada momentum Hari Buku Nasional yang diperingati setiap tanggal 17 Mei atau kepada Hari Buku Sedunia (World Book Day) setiap tanggal 23 April? Tentu kita sebagai insan pembelajar paling tidak patut menyampaikan terima kasih kepada buku.

Mengapa kita perlu berterima kasih kepada buku? Karena sebagaimana kata orang bijak, buku adalah jendela dunia. Buku dapat menjadi pintu masuk kita untuk belajar dan mempelajari ilmu pengetahuan, kebijaksanaan, keterampilan, sampai hiburan yang sehat.

Buku adalah mahkota bagi profesi tertentu seperti guru, wartawan, peneliti, dan sebagainya. Buku dapat menjadi sarana pengembangan imajinasi dan pelipur sedih. Buku juga sebagai sarana penolong ketika materi yang dibaca dapat menjadi karya yang menghasilkan kesejahteraan.

Melalui buku, kita dapat bermimpi, belajar dan melakukan refleksi kehidupan. Tiga hal ini kiranya penting bagi setiap insan manusia : impian, pendidikan, dan refleksi. Ketiga hal itu dapat kita peroleh dari produk budaya bernama buku!

Kita memperingati hari buku juga sebagai wujud kepedulian terkait dengan minat dan pentingnya membaca bagi masyarakat dunia. Bahwa kesadaran dan minat membaca kita  masih memprihatinkan. Aneka survai internasional dan nasional menunjukkan hal itu. Upaya untuk mengubah dan memperbaiki kondisi itu sudah dilakukan oleh pemerintah, swasta dan elemen masyarakat. Namun untuk sampai pada kondisi ideal memang butuh perjuangan bersama, sinergitas dan berkelanjutan.

Sebagian buku bertema buku koleksi YB Margantoro. Foto : kiriman YB Margantoro

Di Indonesia, Hari Buku Nasional 17 Mei diperingati pertama kali sejak tahun 2002. Peringatan yang dicetuskan oleh Menteri Pendidikan RI Abdul Malik Fadjar ini berdasarkan momentum hari berdirinya Perpustakaan Nasional RI pada 17 Mei 1980. Harapan dan tujuan utama penetapan Hari Buku Nasional itu adalah meningkatnya minat membaca dan menulis masyarakat Indonesia.

Peningkatan minat membaca dan menulis di kalangan masyarakat ini penting dan strategis karena sebagaimana kita yakini bersama bahwa bangsa yang besar ditandai dengan masyarakatnya yang literat, yang memiliki peradaban tinggi dan aktif memajukan masyarakat dunia.

Muhadjir Effendy (2017) mengemukakan, keberliterasian dalam konteks ini bukan hanya masalah bagaimana suatu bangsa bebas dari buta aksara, melainkan juga bagaimana warga masyarakat memiliki kecakapan hidup agar mampu bersaing dan bersanding dengan bangsa lain untuk menciptakan kesejahteraan dunia.

Dengan kata lain, bangsa dengan budaya literasi tinggi menunjukkan kemampuan  bangsa tersebut berkolaborasi, berpikir kritis, kreatif, komunikatif sehingga dapat memenangi persaingan global.

World Economic Forum tahun 2015 menetapkan penguasaan enam literasi dasar sebagai prasyarat kecakapan hidup abad ke-21 yakni : literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial serta literasi budaya dan kewargaan. Selanjutnya untuk membangun budaya literasi pada seluruh ranah pendidikan (keluarga, sekolah, dan masyarakat), sejak tahun 2016 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI menggiatkan Gerakan Literasi Nasional (GLN). Kebijakan ini sebagai bagian dari implementasi Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti.

Sedangkan untuk peringatan Hari Buku Sedunia 23 April ditetapkan oleh UNESCO sebagai bentuk penghormatan terhadap sejumlah tokoh penulis terkenal dunia seperti William Shakespeare, William Wordsworth, David Halberstam, Miguel del Cervantes, dan Inca Garcilaso de la Vega yang meninggal pada tanggal 23 April.

Direktur Jenderal UNESCO Audrey Azoulay berkenaan Hari Buku Sedunia dan Hak Cipta Sedunia 2021 mengemukakan, “Kekuatan buku harus dimanfaatkan sepenuhnya. Kami harus memastikan aksesnya sehingga setiap orang dapat berlindung dalam membaca dan dengan demikian dapat bermimpi, belajar dan berrefleksi.”.

SECARA pribadi sebagai pegiat literasi saya mencoba mendidik diri sendiri untuk mencintai buku. Membaca, meresensi, menulis dan berbagi pengalaman tentang perbukuan merupakan dinamika literasi yang saya usahakan lakukan. Beberapa buku khusus tentang buku saya coba hasilkan secara pribadi maupun berkolaborasi dengan penulis lain. Seperti misalnya  : Buku-Buku Itu Berbicara (1995), Jurnalistik Buku (2011), Ketika Buku Bercerita (2017), Buku, Guru dan Sahabatku (2019) dan Awal Cinta Buku (2020).

Untuk menjaga konsistensi dalam belajar dan berkarya literasi, saya bersama sejumlah teman mendirikan Komunitas Literasi Yuk Belajar Menulis (YBM), Komunitas Sahabat Buku (KSB), Komunitas Peresensi Buku (KPB), Komunitas Penulis Gamping (KPG). Bersama pejabat Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, saya juga turut membantu mendirikan Forum Guru Sleman Menulis (FGSM). Dinamika penulisan literasi dan buku  semakin lancar berkat dukungan Majalah Literasi Guru dan Penerbit Mitra Mekar Berkarya (MMB).

Sumber ilmu, inspirasi, motivasi, impian dan semangat menghadapi masa depan dapat kita peroleh melalui buku. Untuk itu, kita memang patut berterima kasih kepada buku. Yuk kita bersama mencintai buku. Selamat Hari Buku Nasional 2021. (YB Margantoro, Praktisi Media dan Pegiat Literasi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here