Tuesday, May 24, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomeTempe dari Biji Karet, Begini Proses Cara Pembuatannya!

Tempe dari Biji Karet, Begini Proses Cara Pembuatannya!

bernasnews.com — Kenaikan harga kedelai dipastikan berdampak secara significan pada produsen tahu dan tempe, yang nota bene adalah makanan rakyat. Berbagai upaya dilakukan oleh para pengrajin agar produksi tetap berjalan, dari menaikkan harga hingga mengurangi ukuran, bahkan berbuat curang dengan mencampur bahan tertentu pada olahannya.

Varian tempe sendiri sebenarnya cukup beragam selain tempe kedelai, ada juga tempe gembus yang berbahan dari ampas tahu, tempe koro yang terbuat dari kacang koro (Canavalia ensiformis), dan tempe benguk yang terbuat dari kacang koro benguk (Mucuna pruriens).

Jenis biji-bijian tersebut merupakan kekayaan apabila dieksplorasi cukup baik dapat menjadi subsitusi kedelai, serta dapat menjadi upaya ketahanan pangan. Tempe-tempe termaksud varian tempe yang sudah sangat umum dan lazim dikonsumsi oleh masyarakat, serta biasanya dijual di pasar-pasar tradisional.

Satu lagi ada varian tempe yang terbuat dari biji pohon karet. Selain menghasilkan lateks sebagai bahan utama pembuatan ban, pohon karet juga menyerap gas buangan dan menghasilkan oksigen yang jauh lebih maksimal. Namun di sisi lain pohon ini juga mempunyai biji karet yang masih jarang diolah.

Para peserta pemanfaatan biji karet menjadi produk tempe. (Foto: Kiriman Humas UNY)

Inilah yang mendorong para Pejuang Muda dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) terjun ke Sumatera Selatan untuk mengedukasi warga setempat tentang pembuatan tempe dari biji karet. Pejuang Muda merupakan program sinergi antara Kementerian Sosial RI, Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi, serta Kementerian Agama yang diperuntukkan bagi mahasiswa agar berperan dalam penanganan kemiskinan dan masalah sosial di masyarakat.

Para mahasiswa UNY itu adalah Tegar Ristianto dan Alifah Nur Aqrimah prodi Pendidikan Sejarah, Aji Nur Wijaksono prodi Pendidikan Fisika. Mereka juga dibantu oleh Mangara Klose Siahaan dari prodi Teknik Sipil Intitut Teknologi Sumatera, Gulfi Oktariani serta Nadya Lucyana prodi Sistem Komputer UNSRI. Mereka ditempatkan di Desa Babat, Kecamatan Penukal, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir, Sumatera Selatan.

Penampakan biji karet sebelum diolah. (Foto: Kiriman Humas UNY)

Kegiatan tersebut diadakan karena prihatin pada kondisi masyarakat yang belum memiliki pekerjaan sampingan setelah menyadap karet. Juga banyaknya biji karet yang belum dimanfaatkan sebagai bahan baku olahan pangan. “Biji karet yang jatuh dari pohon hanya dibiarkan begitu saja dan hanya sebagian yang digunakan sebagai bibit oleh petani,” kata Tegar Ristianto.

Di samping itu, lanjut Tegar, sosialisasi dilaksanakan bertujuan untuk memberikan pandangan baru bagi masyarakat, bahwa biji karet yang menjadi potensi besar di Desa Babat akan memiliki nilai jual lebih apabila masyarakat mau tergerak untuk memanfaatkannya, seperti mengolah menjadi tempe.

Sementara Alifah Nur Aqrimah mengatakan, tempe adalah makanan yang akrab dengan keseharian masyarakat. Biji karet mengandung 31,6 persen karbohidrat, 15,6 persen protein, 40,9 persen lemak dan sisanya adalah mineral dan asam sianida.

Oleh karena itu asam sianida yang ada dalam biji karet harus dihilangkan terlebih dahulu dengan cara perendaman selama 24 jam dan perebusan selama 90 menit. Asam sianida mempunyai sifat mudah larut dan mudah menguap sehingga saat perendaman akan terbuang bersama air. Sedangkan proses perebusan zat linamerase dan asam sianida akan terakumulasi.

“Tempe dari biji karet lebih lembut daripada tempe kedelai, tidak cepat menjadi busuk dan dapat disimpan selama dua  minggu  di dalam lemari es,” papar Alifah.

Bentuk kepingan biji tempe yang telah direbus dan siap untuk proses peragian. (Foto: Kiriman Humas UNY)

Aji Nur Wijaksono menjelaskan proses pembuatan tempe biji karet diawali dengan menyiapkan 1 kg bijinya yang telah dicuci bersih. Kemudian, biji karet dibuang kulitnya dengan cara memecahkannya.  Setelah terpisah ari kulitnya,  daging biji direndam selama 1 × 24 jam. 

“Usai direndam, kemudian rebus selama satu jam. Tiriskan dan biarkan hingga dingin. Setelah dingin air rebusan dan bakal daun yang terdapat dalam biji dibuang. Rendam kembali biji karet selama 3×24 jam lalu cuci dan dikukus ± 30 menit,” jelas Aji.

Dikatakan, setelah pengkukusan selama 30 menit, air yang  tersisa di dalam panci  dibuang. Kemudian biji karet dipindahkan ke tampah dan  diratakan tipis-tipis. Biarkan dingin sampai permukaan keping biji karet kering dan airnya menetes habis.

“Setelah dingin, taburkan ragi tempe (Rhizopus oryzae) sebanyak ± 2 gram sambil   diaduk-aduk sampai rata. Penambahan ragi bertujuan mempercepat/merangsang pertumbuhan jamur. Tahap peragian (fermentasi) adalah tahap penentu keberhasilan dalam membuat tempe.,” kata dia.

Biji Karet setelah menjadi olahan makanan tempe. (Foto: Kiriman Humas UNY)

Selanjutnya, tempe dikemas sesuai dengan selera, dapat menggunakan plastik  ataupun daun pisang. Plastik atau daun pisang yang telah berisi biji karet  dilubangi dengan  menggunakan  jarum   yang   terbuat  dari kayu  ukuran kecil  kira-kira 8-10 lubang untuk  setiap sisi atas dan sisi bawah.  Tempe disimpan di  tempat yang tidak tertutup.

“Untuk menghindari pembusukan pada tempe karena suhu yang terlalu panas, usahakan di tempat yang terjadi sirkulasi udara. Tempe didiamkan kurang lebih selama 2 × 24 jam. Setelah itu tempe siap diolah menjadi makanan yang lezat dan bergizi tinggi,” jelas Aji Nur Wijaksono. (*/ ted)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments