Home News Tatar Fatoni Kembangkan Bibit Anggur dari Berbagai Negara di Yogyakarta

Tatar Fatoni Kembangkan Bibit Anggur dari Berbagai Negara di Yogyakarta

1617
0
Salah satu varietas bibit anggur yang dikembangkan. Foto: dokumen pribadi Tatar Fatoni

BERNASNEWS.COM – Tak seperti dulu anggur yang dikembangkan di Indonesia kini mulai beragam. Animo masyarakat maupun petani mulai besar untuk mengembangkan anggur di tanah Indonesia dengan kualitas yang sama baiknya dengan anggur impor. Varietas impor namun bisabtumbuh di Indonesia, tentunya tak lepas dari pembibitan di rumah sendiri. Tatar Fatoni, warga asal Yogyakarta ini sudah sekitar tiga tahun berkecimpung di dunia budidaya bibit anggur.

Lokasi pengembangan bibit anggur milik Tatar terletak di jalan Kaliurang km 17. Ia mengembangkan ragam bibit anggur yang berasal dari bibit impor dengan maksud supaya tanaman anggur impor bisa ditanam di Indonesia. Jumlah varietas yang dikembangkan sangat banyak. Total ada 250 varietas bibit anggur ia kembangkan.

“Kita sudah tiga tahun (mengembangkan pembibitan anggur impor). Kita (mengembangkan) ada 250 varian. Kalau saat ini yang paling diminati masyarakat itu jenisnya ada ninel, trans, Giovanni. Itu yang paling diminati itu,” pungkas Tatar pada Kamis (27/2/2020).

Anggur tersebut berasal dari babyak negara. Beberapa yang Tatar sebutkan diantaranya dari Ukraina, Prancis, Italia, Jerman, Filipina, Vietnam, hingga Thailand. Jenis-jenis anggur impor seperti itu saat masuk ke Indonesia, harganya bisa dikatakan mahal. Olehkarena itulah ia kemudian mencoba untuk mengembangkan banyak varietas anggur impor di Yogyakarta.

“Yang namanya anggur itu kan buah yang sangat istimewa terus kita mendalami tentang hal itu. Dari beberapa kitab suci beberapa agama kan menyebutkan kalau buah anggur itu adalah buah surga. Buah mewah. Disamping itu fungsinya kesehatan itu banyak banget,” pungkasnya.

“Sebenernya kita ingin memerdekakan anggur di Indonesia supaya tidak impor lagi. Karena memang nilainya tinggi. Buah-buah anggur impor itu kan per kilonya mahal. Terutama yang ada cuma di supermarket-supermarket. Harapan kita supaya tidak impor,” imbuhnya.

Tatar Fatoni menunjukkan bibit anggur yang dikembangkannya. Foto: dokumen pribadi Tatar Fatoni

Namun untuk mengembangkan bibit anggur terutama varietas impor terbilang tidak begitu mudah. Anggur yang tumbuh di luar Indonesia tentunya punya karakteriristik sendiri dan butuh upaya untuk menumbuhkan di tanah di luar lingkungan asalnya. Usaha pengembangan bibit anggur milik Tatar menggunakan teknik grafting. Grafting sendiri merupakan salah satu metode pencangkokan bibit dengan teknik sambung.

Beruntung sebelumnya Indonesia sudah memiliki pohon anggur bawaan pada zaman Belanda di masa lampau. Oleh Tatar bagian bawah anggur lokal bawaan Belanda yang hidup di Indonesia diambil bangian batang ke bawah hingga akar kemudian menyambungkannya dengan anggur varietas impor lainnya.

“Kita impor varian mulai dari Ukraina, Prancis, Jerman. Itu terus kita rekayasa dengan grafting. Grafting itu kita akar, batang bawahnya pakai anggur lokal terus kita sambung dengan anggur-anggur impor,” ujarnya.

Teknik ini boleh dikatakan berhasil untuk mengembangkan anggur sebab anggur impor yang ditanam memang harus beradaptasi dengan tanah maupun iklim di Indonesia supaya bisa berbuah.

“Fungsinya grafting itu kalau anggur impor itu langsung ditanam ini kan akarnya belum beradaptasi dengan Indonesia. Kemungkinan mati. Supaya hidup harus direkayasa dengan anggur lokal,” ungkapnya.

Bibit anggur yang dikembangkan. Foto: dokumen pribadi Tatar Fatoni

Lingkungan tempat mengembangkan bibit anggur milik Tatar juga bisa dikatakan menguntungkan untuk pertumbuhan anggur sendiri. Menurutnya beberapa anggur memang tidak akan bisa bertahan di daerah yang memiliki cuaca panas. Berada di lereng Gunung Merapi bisa dikatakan sebagai poin plus untuk mengembangkan bibitnya.

“Pembibitan anggur itu dibutuhkan suhu yang pas. Jadi di tempat yang panas buat bibit anggur itu susah. Kebetulan kita di lereng Gunung Merapi kan udaranya sejuk. Jadi untuk menyambung kayu batang lokal dengan anggur impor itu jadinya lebih tinggi, pas,” ujarnya.

Untuk produksi bibitnya, Tatar mengatakan bahwa usaha pembibitannya mampu memproduksi hingga ribuan bibit dan sudah dipesan dibanyak daerah di wilayah Indonesia.

“Untuk kapasitas 10.000 bibit pun kita sanggup. Tapi butuh katakanlah dua bulan tiga bulan dari awal kita proses pembuatan itu nanti tiga bulan baru siap ditanam di tanah. Konsumen kita ada yang dari Riau, Lampung Sumatera, bali Lombok Sulawesi. Kita kirimnya lewat jasa online. Rata-rata baru jadi tanaman keluarga (Jogja),” pungkasnya.

Melalui usaha pengembangan bibit milik Tatar yang ada di Kaliurang ini, ia berharap bahwa di masa depan Indonesia tak perlu lagi mengimpor buah surge tersebut. Selain bisa menekan harga yang mahal, harapannya petani anggur di Indonesia juga bisa terbantu dan tertarik membudidayakan anggur.

“Harapan kami menanam anggur di daerah sini mudah berbuah supaya petani-petani lokal ini bisa tertarik untuk menanam anggur,” tutupnya. (adv)

Tatar Fatoni
+6282243233313

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here