Tuesday, May 17, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomePendidikanTantangan Setiap Perguruan Tinggi Semakin Berat

Tantangan Setiap Perguruan Tinggi Semakin Berat

bernasnews.com – Tantangan yang dihadapi setiap perguruan tinggi baik dalam ilmu pengetahuan maupun menghasilkan lulusan, semakin hari semakin berat. Tantangan tersebut bukan saja dihadirkan oleh dinamika ilmu pengetahuan, penerimaan pasar/lapangan kerja terhadap lulusan yang dihasilkan perguruan tinggi, namun juga tantangan yang lahir dari kompetisi antar perguruan tinggi untuk menjadi kampus-lembaga pendidikan terbaik dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan juga dalam melahirkan para lulusan.

Untuk itu UWM akan terus berbenah terkait dengan tantangan dan kebutuhan ke depan. Ikhtiar tersebut telah dicanangkan menjelang usia UWM menuju pancawindu dengan tema Bersinergi Menuju Kampus Unggul. Menuju usianya yang keempat puluh tahun menjadi titik refleksi bagi seluruh sivitas akademika UWM untuk memandang ke depan dengan sikap optimisme di tengah keterbatasan serta tantangan yang terus hadir, salah satunya dengan pembangunan kampus baru UWM di Banyuraden, Gamping-Sleman, sebuah oase bagi pengembangan UWM di masa datang, dan saat ini proses pembangunan telah mencapai progress 47 persen.

Hal itu disampaikan Prof Dr Edy Suandi Hamid MEc, Rektor Universitas Widya Mataram (UWM), pada Sidang Terbuka dalam Rangka Wisuda ke-60 Universitas Widya Mataram periode Maret 2022, Senin 14 Maret 2022, yang diikuti 166 wisudawan/wisudawati.

Menurut Prof Edy, paradigma pendidikan tinggi harus disesuaikan dengan perkembangan zaman. Peningkatan kesadaran teknologi digital merupakan suatu keniscayaan dalam menghadapi disruption era. Di era digital saat ini lulusan perguruan tinggi harus memiliki digital skills, yaitu memahami dan menguasai dunia digital. Agile thinking ability, mampu berpikir banyak skenario. Interpersonal and communication skills, keahlian berkomunikasi sehingga berani adu pendapat. Dan global skills, yaitu kemampuan berbahasa asing, bisa padu dan menyatu dengan orang asing yang berbeda budaya, dan punya sensitivitas terhadap nilai budaya.

Rektor UWM melakukan wisuda bagi 166 lulusan UWM dalam acara wisuda ke-60 Universitas Widya Mataram periode Maret 2022, Senin 14 Maret 2022. Foto: Humas UWM

Prof Edy meminta para wisudawan/wati agar jadilah sarjana plus. Sebab, ijazah tidak akan banyak gunanya jika tidak didampingi oleh kompetensi lain. Oleh karena itu rekam jejak saat menjadi mahasiswa ketika menjalani perkuliahan sangat penting untuk menjadi dasar pembuatan dokumen pendukung prestasi dan kompetensi mahasiswa dengan diterbitkannya Surat Keterangan Pendamping Ijazah atau disingkat (SKPI).

SKPI adalah dokumen yang memuat informasi tentang pencapaian akademik atau kualifikasi dari lulusan pendidikan tinggi bergelar. SKPI ini juga dapat dikatakan sebagai “Rekam Jejak Mahasiswa dalam Perkuliahan”. Dengan adanya SKPI segala  kegiatan mahasiswa selama perkuliahan dapat dijabarkan dan dipertanggungjawabkan secara formal. Penerbitan SKPI yang didasari oleh Permenristekdikti Nomor 59 tahun 2018, menuntut setiap perguruan tinggi untuk mengikutsertakan mahasiswanya memiliki sertifikat kompetensi sebagai keterangan/bukti resmi tentang kompetensi mahasiswa sekaligus bisa digunakan untuk mendapat pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya.

Capaian pembelajaran tidak hanya membahas mengenai kemampuan dalam persaingan kerja semata, namun juga membahas mengenai kemampuan pengetahuan dan kemampuan sikap yang harus dimiliki oleh lulusan. Oleh karena itu rekam jejak aktivitas mahasiswa selama perkuliahan termasuk pada kegiatan seminar dan workshop yang diikuti, prestasi yang pernah diraih serta kegiatan lain yang berkaitan dengan akademik dan pengembangan karakter dan keprofesian, sangat penting.

“Sivitas akademika UWM akan terus berikhtiar menjadi perguruan tinggi yang memiliki marwah keilmuan berbasis budaya, termasuk mencetak lulusan-lulusan terbaik untuk berkarya di berbagai bidang profesi dan keilmuannya,” kata Prof Edy.

Pada kesempatan itu, Prof Edy beharap agar setelah selesai wisuda para wisudawan-wisudawati senantiasa menggunakan kemampuan yang dimiliki, karena kunci sukses bukan semata karena lulus cumlaude atau terbaik, akan tetapi life skils, kejujuran, kepercayaan dan karakter yang kuat sebagai generasi millineal sehingga mampu memanfaatkan peluang.

Pendidikan dan pengalaman selama menjalani kuliah di Universitas Widya Mataram dapat menjadi bekal bagi wisudawan/ wisudawati baik dalam berpikir dan bertindak, sebagai insan intelektual yang mengedepankan perilaku berlandaskan nilai-nilai budaya. Semua ini layak disyukuri sebagai anugerah yang diberikan Tuhan kepada kita semua dan pembuktian atas pencapaian cita-cita pendiri Universitas Widya Mataram, yakni Sri Sultan HB IX (alm) dan Sri Sultan HB X dalam kontribusi mencerdaskan bangsa.

Dikakatan, bulan Maret ini adalah momen penting bagi kita semua, karen pendiri UWM Sri Sultan HB IX dikukuhkan sebagai inisiator Serangan Umum 1 Maret 1949 dengan diterbitkannya Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 2 Tahun 2022 tentang Penegakan Hari Kedaulatan Nasional. Dalam Keppres tersebut, peran Sultan Hamengkubuwono IX sebagai inisiator serangan. Kita mewarisi karakter Sultan HB IX dengan kepribadian dan harga diri yang pantang menyerah, patriotik, rela berkorban, berjiwa nasional, dan berwawasan kebangsaan serta semangat persatuan dan kesatuan.

Ketua Yayasan Widya Mataram Mahfud MD menyampaikan sambutan secra virtual dalam acara wisuda 166 lulusan UWM dalam acara wisuda ke-60 Universitas Widya Mataram periode Maret 2022, Senin 14 Maret 2022. Foto: Humas UWM

“Saya berharap seluruh wisudawan/wisudawati dimanapun nanti saudara berada hendaknya meneladani sifat dan karakter pendiri UWM, dan selalu menjunjung tinggi nama baik Universitas Widya Mataram dengan penuh integritas, berkomitmen, serta dapat memberikan feedback positif kepada almamater. Saya berharap pula untuk tetap menjalin silaturahim dengan bergabung bersama ikatan keluarga alumni Universitas Widya Mataram,” harap Prof Edy.

Wisuda kali ini diikuti 166 wisudawan/wisudawati yang terdiri dari 7 orang dari Prodi Manajemen, 4 orang dari Prodi Akuntansi, 128 orang dari Prodi Ilmu Hukum, 9 orang dari Prodi Administrasi Publik, 3 orang dari Prodi Sosiologi, 6 orang dari Prodi Arsitektur, 4 orang dari Prodi Teknik Industri, dan 5 orang dari Prodi Teknologi Pangan.

Dari 166 wisudawan/wisudawati tersebut, 53 wisudawan atau 31,92 persen di antaranya memperoleh predikat cumlaude, dengan Indek Prestasi Komulatif (IPK) tertinggi 3,92atas nama Fredy Dwi Herdhiawan dari Fakultas Hukum. Waktu tempuh studi tercepat yaitu 3 tahun 4 bulan dengan rata-rata 3 tahun 7 bulan 28 hari dan indeks prestasi kumulatif (IPK) rata-rata 3,40.

Wisudawan termuda adalah Hendrika Tresna Wulandari Bone Lau umur 20 tahun 11 bulan 11 hari, dari Fakultas Hukum, sedangkan wisudawan tertua adalah Subarno umur 62 tahun 11 bulan 8 hari dari Fakultas Hukum. Dengan  wisuda kali ini, jumlah lulusan UWM telah berjumlah 9.317 orang. (nuning)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments