Home Opini Tantangan Fundamentalisme Keagamaan Dewasa Ini (Bagian II-Habis)

Tantangan Fundamentalisme Keagamaan Dewasa Ini (Bagian II-Habis)

190
0
Ben Senang Galus, Penulis Buku Kuasa Kapitalis dan Matinya Nalar Demokrasi, Tinggal di Yogyakarta

BERNASNEWS.COM – Fenomena fundamentalisme timbul sebagai produk modernitas yang telah menyebabkan situasi hidup manusia berubah. Fundemantalisme terkait erat dengan upaya kelompok atau masyarakat tertentu yang terkait dengan upaya pencarian identititas diri.

Kelompok-kelompok fundamentalisme memiliki ciri tertentu antara lain: konservatif, liberal, etnosentris, integratif, dogmatik, fanatik, militan dan sebagainya. Akhir-akhir ini fundamentalisme menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kenyataan hidup religius di seluruh dunia. Beberapa dari antara kelompok fundamentalis yang terkenal adalah kaum muslim Shiite di Iran, Sudan, Pakistan, Liberia, juga sekarang sudah masuk ke Indonesia; kelompok-kelompok fundamentalis Kristen Protestan seperti: Religious Right di Amerika Utara, Gush Emumin, champions of Hindutva di India, Soka Gokkai Budhis di Jepang, Temple Mount dan Heredim di Israel, Dukwah di Malaysia, Sikh di Punjabi.

Fundamentalisme adalah fenomena multidimensional. Ia merupakan produk dari lingkungan sosio budaya dan politik ekonomi yang khas dengan perwujudan yang spesifik serta ditandai dengan faktor-faktor, psikologis, kultural, religius, ekonomi, politik dan sejarah.

Fundamentalisme merupakan akibat dari simptom ketertutupan identitas sosial atau individual manusia. Seorang fundamentalis memandang nilai atau ideologi tertentu sebagai non negotiable yang harus dilindungi secara sempurna dalam perubahan situasi apapun. Mereka takut kehilangan nilai-nilai primordial. Dalam praktek untuk mempertahankan nilai atau ideologi kaum fundamentalis seringkali bertindak agresif dan destruktif.

Teologi Pluralisme

Untuk menghambat perkembangan fundamentalisme, Gereja Katolik (di) Indonesia, pertama, mengembangakan teologi pluralisme. Teologi ini berpendapat bahwa perbedaan agama tidak ada tetapi perbedaan tanggapan pada misteri Ilahilah yang ada. Manusia dalam perbedaan budaya, situasi dan waktu mengalami dan mengekspresikan hubungan antara yang terbatas dan tak terbatas secara berbeda. Maka pluralitas termasuk bagian dari struktur realitas yang dirasakan oleh manusia selama hidup. Realitas tidak bisa tidak berdimensi plural sekaligus singular.

Kedua, dimensi ini dalam tataran realitas selalu berada dalam ketegangan dialektis. Singularitas hanya bisa dipahami bersama pluralitas dan pluralitas hanya dipahami dalam singularitas. Namun demikian singularitas tidak sama dengan pluralitas. Ketegangan antara pluralitas dan singularitas inheren pada aspek sosialitas manusia terutama budaya dan Agama. Problem pluralitas terjadi ketika singularitas dipertahankan dan problem singularitas terjadi ketika pluralitas dipertahankan.

Gereja (di) Indonesia perlu menampilkan teologi inklusif dan merelativir pernyataan-pernyataan yang ekslusif. Dalam masyarakat pluralistik religius, orang harus menerima dimensi kesadaran diri yang baru bahwa semua manusia berelasi sebagai ciptaan Tuhan. Meskipun banyak agama cenderung membentuk sebutan-sebutan eksklusif bagi Kebenaran Ilahi.

Eksklusivitas semacam ini mempersempit hubungan Tuhan dengan semua orang dalam pluriformitas dan membangun benteng bagi masa depan agama. Tuhan bersifat absolut karena itu manusia dapat mengalami, menangkap dan mengekspresikan Tuhan itu secara relatif. Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa apa yang relatif tidak dapat diabsolutkan. Kenyataan pluralisme agama hendaknya mengarah pada dialog yang kreatif untuk saling memperkaya dan membentuk masyarakat yang manusiawi.

Ketiga, Gereja Katolik (di) Indonesia hendaknya mempertimbangkan kembali metodologi-evangelisasi. Dalam konteks perkembangan fundamentalisme, kaum kristiani perlu memahami evangelisasi sebagai shering iman atau pengalaman akan Allah dan injil dengan penganut agama lain. Evangelisasi bukan berarti mengkristenkan orang yang sudah beragama, melainkan sebagai upaya tranformatif bagi manusia. Pewartaan injil hendaknya bersifat dialogis.

Keempat, Gereja Katolik (di) Indonesia hendaknya terlibat dalam keprihatinan dunia. Agama yang benar adalah agama yang mampu menuntun semua orang pada keterlibatan dan kerjasama yang kreatif dalam memecahkan problem-problem hidup. Tujuan keterlibatan Gereja dalam wilayah sosial, pendidikan dan politik harus menjadi pembebasan masyarakat yang total. Memperjuangkan hak asasi dan keadilan menjadi praksis pembebasan Gereja dalam dunia.

Gereja Katolik (di) Indonesia dalam kondisi plural dan ancaman fundamentalisme agama harus mengambil sikap lebih terbuka, dialogis terhadap kelompok iman lain. Dialog merupakan tindakan yang tepat dalam relasi antara kristianitas dengan agama lain. Namun tindakan dialogis Gereja Katolik (di) Indonesia perlu berorientasi pertama-tama bukan demi dirinya sendiri tetapi bagi kepentingan manusia secara universal (Bonum Commune).

Karena itu sikap dialog Gereja mesti dibangun di atas dasar, antropologis, sosiologis, budaya, dogma dan teologi. Dengan demikian Gereja Asia dapat diterima oleh agama lain dan dapat menyumbangkan nilai-nilai positif yang mengarah pada hidup bersama yang lebih baik (Henrikus Pedor, 2011)

Berhadapan dengan pluralitas, tantangan bagi kristianitas adalah komitmen pada imannya sendiri dan terbuka pada iman lain. Bagaimana kaum kristiani sungguh-sungguh mengikatkan diri pada Kristus dan terbuka pada agama-agama lain? Kaum kristiani dituntut untuk terbuka pada sapaan Allah melalui penganut dan tradisi agama lain. Dengan kata lain kemuridan (discipleship) kristiani membutuhkan dialog. Konsili Vatikan II telah menyatakannya dengan jelas bahwa keterbukaan pada iman lain sebagai bagian esensial dari Gereja yang bersifat global.

Hendrikus Pedor menegaskan komitmen Gereja ini membuka pintu yang lebar bagi agama-agama lain di Indonesia untuk berdialog. Lantas bagaimana genesis dialog ini bisa terjadi? Genesis dialog paling konkret terjadi di Indonesia (locus dialog). Tidak ada cara lain bagi Gereja Katolik (di) Indonesia untuk hidup selain dengan upaya genesis dialog.

Teologi di Indonesia punya peran besar dalam genesis dialog. Teologi-sebagai refleksi sistematis atas pengalaman iman-harus mempunyai orientasi pada genesis dialog. Teologi kristiani di Indonesi berjuang untuk merefleksikan pengalaman imannya (genesis iman ) dan sekaligus terbuka pada iman lain (genesis dialog).

Sebagai bagian dari pembentuk identitas manusia sebagaimana halnya etnis, budaya, dan bahasa, agama menempati posisi yang paling sublim dalam kehidupan manusia. Agama patut ditempatkan dalam posisi yang demikian karena salah satu bagian fundamental dalam cara mengada (mode of existence) manusia adalah, pencarian terhadap agama. Bahwa agama menjadi bagian penting dalam cara manusia mengada, bisa dibuktikan dari objek yang paling banyak dicari oleh manusia sepanjang hayatnya. Agamalah yang paling banyak dicari.

Proses pencarian manusia terhadap agama adalah kelanjutan belaka dari karakter manusia yang sejatinya merupakan makhluk religius. Dari sudut pandang kajian keislaman, agama pertama-tama diposisikan sebagai fitrah majbulah. Maksudnya, dalam diri manusia terdapat potensi beragama, sehingga manusia dalam pandangan Islam mudah menerima agama.

Tidak perlu dipersoalkan wujud eksoteris agama yang dipeluk manusia. Sebab apa pun wujudnya, penemuan dan penerimaan manusia terhadap agama pasti berawal dari kenyataan “misteri yang menggentarkan” (mysterium tremendum), dan “misteri yang memesonakan” (mysterium fascinans).

Dalam semua agama yang dipeluk manusia, baik yang melalui proses budaya maupun wahyu, bisa dipastikan terobsesi dengan kedua hal tersebut. Hal itulah yang membuat manusia memandang agama sebagai sesuatu yang demikian bermakna, tidak saja bagi dirinya sebagai makhluk pribadi, tetapi juga bagi kehidupan kolektifnya dengan komunitas manusia lainnya. Berikutnya, agama secara sosiologis menjadi identitas kelompok yang sulit dihilangkan.

Kontipendium Ajaran Sosial Gereja juga melarang kekerasan atas nama agama dengan menyatakan: Tindak kekerasan tidak pernah menjadi tanggapan yang benar. Dengan keyakinan akan imannya di dalam Kristus dan dengan kesadaran akan misinya, Gereja mewartakan “bahwa tindak kekerasan adalah kejahatan, bahwa tindak kekerasan tidak dapat diterima sebagai suatu jalan keluar atas masalah, bahwa tindak kekerasan tidak layak bagi manusia. Tindak kekerasan adalah sebuah dusta, karena ia bertentangan dengan kebenaran iman kita, kebenaran tentang kemanusiaan kita. Tindak kekerasan justru merusakkan apa yang diklaim dibelanya: martabat, kehidupan, kebebasan manusia.

Kalau kita mau sempurna, tentu tidak puas dengan hanya bersikap toleran. Kalau kita mau realistis, mungkin malah harus belajar toleran. Sebab, jangankan mau sempurna mencintai sesama seperti diri sendiri, toleran pada sesama pun kita belum tentu dapat.

Menghentikan Kekerasan Agama

Ada beberapa skenario untuk mengakhiri kekerasan seperti ditawarkan oleh Marx Juergensmeyer dalam bukunya Terror in The Mind of God: The Global Rise of Religious Violence (2002). Skenario pertama merupakan salah sau dari solusi yang dilakukan melalui kekuatan. Ia meliputi contoh-contoh yang di dalamnya teroris-teroris dibinasakan atau dikendalikan dengan jalan kekerasan.

Cara yang dianggap solusi ini pada kenyataannya bukan solusi yang baik, karena setiap kekerasan yang dihadapi kekerasan akan menimbulkan kekerasan baru. Inilah yang dilakukan oleh Amerika ketika mendeklarasikan perang total melawan terorisme agama dan melaksanakannya selama bertahun-tahun. Penggunaan kekuatan untuk menghancurkan terorisme tidak jarang hanya merupakan manipulasi untuk membenarkan kepentingan di balik itu.

Misalnya apa yang dilakukan oleh Amerika  terhadap Osama bin Laden bukankah ada kepentingan dibalik misi Amerika melakukan penyerangan terhadap Osama baik dari segi kepentingan ekonomi, politik dan lain-lain seperti yang disinyalir oleh surat-surat kabar belakangan ini? Karena itu, kekerasan yang dihadapi dengan kekerasan bukan merupakan solusi untuk mencegah kekerasan itu sendiri karena di samping akan menimbulkan kekerasan baru yang mungkin memakan korban lebih besar juga penggunaan sarat dengan nuansa kepentingan untuk menegakkan hegemoni seperti kasus Amerika itu.

Skenario kedua seperti ditawarkan Marx Juergensmeyer adalah dalam bentuk ancaman pembalasan dengan kekerasan atau pemenjaraan untuk menakut-nakuti aktivis-aktivis keagamaan sehingga mereka ragu-ragu untuk beraksi. Cara ini pun dianggap tidak efektif, karena meski para aktivis itu diancam atau dipenjara, bahkan dibunuh sekalipun tidak akan berpengaruh terhadap para aktivis keagamaan lainnya.

Skenario ketiga adalah dengan melakukan kompromi atau negosiasi dengan para aktivis yang terlibat dalam terorisme. Cara ini pun seperti dikatakan oleh Marx Juergensmeyer sendiri merupakan penyelasaian yang tidak selalu berhasil. Beberapa aktivis barangkali menjadi lunak, tapi yang lain menjadi marah dikarenakan apa yang mereka sebut sebagai penjualan prinsip. Kasus Arafat dan Hamas merupakan contoh dalam skenario ini. Setiap upaya kompromi yang dilakukan sekelompok aktivis Palestina akan membuat marah kelompok lainnya.

Skenario keempat pemisahan agama dari politik dan kembali pada landasan-landasan moral dan metafsikal. Politisasi agama dapat dipecahkan melalui sekulerisasi.

Solusi seperti ini telah dilakukan di beberapa negara di dunia ini, namun nampaknya belum menunjukkan keberhasilan alih-alih malah menimbulkan reaksi keras dari aktivis-aktivis keagamaan yang kadarnya semakin tinggi.

Skenario kelima adalah solusi-solusi yang mengharuskan pihak-pihak yang saling bertikai untuk, paling tidak pada tataran minimal, menyerukan adanya saling percaya dan saling menghormati. Hal ini ditingkatkan dan kemungkinan-kemungkinan ke arah penyelesaian dengan jalan kompromi semakin menguat ketika aktivis-aktivis keagamaan memandang otorits-otoritas pemerintahan memiliki integritas moral yang sesuai dengan, atau mengakomodir, nilai-nilai agama. Hal ini, karena, merupakan cara penyelesaian yan kelima, ketika otoritas-otoritas sekuluer berpegang pada nilai-nilai moral, termasuk di dalamnya yang diasosiasikan dengan agama.

Menurut Marx Jurgensmeyer (2002), sangat menyedihkan bahwa pemerintah-pemerintah dari bangsa-bangsa modern begitu sering dipandang mengalami kebobrokan moral dan kehampaan spiritual sejak konsep-konsep pencerahan yang memunculkan negara-negara modern dicirikan dengan sebuah semangat moralistik yang begitu besar. Jean-Jecques Rousseau menggunakan term agama sipil untuk menggambarkan apa yang dia sebut sebagai landasan moral dan spiritual yang esensial bagi masyarakat modern yang ingin menopang sebuah tatanan politik yang kokoh. “Agama” Rousseau ini tidak didasarkan pada dogma-dogma agama”, tapi pada apa yang dsebut “kesucian kontrak sosial”.

Bsam Tibi dalam bukunya The Challenge of Fundamentalism (2001) menawarkan solusi untuk mencegah fundamentalisme dengan menegakkan demokrasi sekuler dan HAM (that alternative is a based on seculer democracy and human right). Barangkali solusi tambahan namun teramat penting untuk menghentikan fundamentalisme dan kekerasan agama adalah dengan menghentikan segala bentuk penindasan, menegakkan hak asasi tanpa pandang bulu, memberikan kekebasan kepada bangsa-bangsa terjajah, menumbuhkan sikap saling menghargai dan saling menghormati berdasarkan prinsip saling menghargai dan saling menghormati dalam pergaulan antar bangsa dalam suasana yang penuh persamaan dan persaudaraan. (Ben Senang Galus, penulis buku Gereja, Kapitalisme dan Penyaliban Kaum Lemah, tinggal di Yogyakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here