Home Opini Tantangan Fundamentalisme Keagamaan (Bagian I)

Tantangan Fundamentalisme Keagamaan (Bagian I)

349
0
Ben Senang Galus, penulis buku "Kosmopolitanisme Satu Negeri Satu Jiwa", tinggal di Yogyakarta)

BERNASNEWS.COM – Konflik keagamaan dan etnis di banyak negara Asia, dan khususnya di Asia Tenggara, mengancam unsur pokok masyarakat agama yang seharusnya memberi penghiburan kepada massa yang menderita, telah berubah menjadi sebab penderitaan bagi banyak orang beberapa tahun belakangan ini.  

Beberapa tempat ibadah telah menjadi sasaran pengrusakan dan pengeboman, perlambang bagi perjuangan dengan kekerasan. Jiwa melayang dan darah tertumpah ketika kepercayaan dan sentimen keagamaan diselewengkan untuk mengabdi pada tujuan-tujuan yang menyesatkan dari para pemimpin tertentu.

Fundamentalisme timbul dari banyak proses, yang pada gilirannya merupakan produk dari sifat perkembangan di banyak masyarakat kita. Istilah fundamentalisme, sekalipun timbul jauh lebih dulu dalam abad ini dan suatu konteks yang berbeda, akhir-akhir ini dipungut oleh media Barat untuk mendiskreditkan gerakan perlawanan terhadap Shak Iran, yang pada hekekatnya mulai sebagai suatu gerakan anti-imperialis yang diilhami oleh agama.

Namun demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa jalan yang ditempuh oleh gerakan Iran telah beranjak ke suatu sikap fundamentalisme, yang sekarang memengaruhi juga masyarakat-masyarakat lain di Asia, termasuk Indonesia. Maka, sebagian kalangan meyakini bahwa fundamentalisme menjadi sumber konflik dalam masyarakat yang beragam.  

Antropolog dari Universitas York, Toronto, Kanada, Judith Nagata, dalam Beyond Theology: Toward an Anthropology of “Fundamentalism”, American Anthropologist (2001), mengatakan, keyakinan itulah yang menyebabkan seseorang atau sekelompok orang melakukan tindakan atas nama kelompok lain. Mereka menganggap kelompok lain bertentangan dengan kelompoknya. Ini bisa saja hidup di benak suku bangsa atau ras tertentu juga pemeluk agama apapun agamanya. Maka kurang tepat jika kemudian fundamentalisme hanya disematkan kepada sebuah agama tertentu.

Judith Nagata menegaskan bahwa fundamentalisme tidak hanya ada dalam komunitas Islam, tapi juga di Kristen, Budha, Katolik, Hindu, Yahudi maupun Sikh. Ia mengungkapkan, fundamentalisme, khususnya fundamentalisme agama, tidak hanya dipengaruhi oleh penafsiran atas teks suci saja, melainkan juga terkait kelindan dengan kebanyakan pemerintah di mana sejumlah komunitas agama tersebut hidup dalam masyarakat atau negara yang begitu plural.

Judith Nagata mencontohkan bagaimana pemerintah Kanada memiliki kemauan politik yang bagus dalam hal ini. Sebagai sebuah negara yang multikultural dan multikeyakinan, pemerintah Kanada terus mendorong masyarakatnya yang plural tersebut untuk memahami komunitas yang berbeda dengan dirinya. Komunitas yang majemuk itu dibiasakan untuk saling menghormati dan menyadari adanya perbedaan.

Pada saat negara tidak mendorong komunitasnya mengakui perbedaan, maka mereka akan kesulitan menyatakan identitasnya. Dalam kebingungan itu maka hal paling mungkin untuk dilakukan adalah kembali kepada identitas tradisional yang mereka miliki. Biasanya mereka akan menonjolkan identitas agama atau suku bangsa, meski mungkin saja ini menjadi sebuah ancaman bagi komunitas lainnya. Tetapi dengan identitas tradisionalnya itu mereka nyaman diantara ketidakpastian yang dihadapi.

Namun, hal demikian tak terjadi di setiap negara yang memiliki pluralitas dimana setiap komunitas agama tak ada keinginan mengganggu keinginan lainnya. Mereka saling menghormati keyakinan agamanya masing-masing.

Fundamentalisme keagamaan sekalipun tidak tepat telah digunakan secara longgar untuk menggambarkan semua gerakan, yang besifat mempertahankan kelangsungan hidup atau yang memberikan tekanan pada penggunaan agama dalam percaturan politik. Penggunaan istilah ini secara luas, dibarengi dengan kenyataan sesungguhnya serta fanatisme dan gerakan-gerakan ini telah cenderung untuk mengaburkan, maupun menggeneralisirkan beberapa diantara kecenderungan-kecenderungan lebih dalam yang terdapat di belakang munculnya gerakan-gerakan fundamentalisme keagamaan.

Fundamentalisme keagamaan dalam kenyataan jauh menyimpang dari asas-asas sesungguhnya dari agama yang mereka sebarkan secara agresif. Fundamentalisme keagamaan mengambil bentuk-bentuk yang berbeda dalam agama yang berbeda-beda. Namun demikian, kecenderungan fundamentalisme seringkali mengambil bentuk fanatik. Apabila demikian, maka menjadi suatu ancaman bagi keserasian sosial, keadilan dan hak asasi manusia.

Fundamentalisme : Anti-Ekumenis

Secara historis fundamentalisme keagamaan telah mengambil bentuk suatu tradisional revolusioner yang dianut oleh para pemimpin agama yang, dalam kenyataannya, tidak kembali kepada ajaran pokok agama-agama mereka. Sebaliknya, mereka bersandar pada penafsiran sektarians dan memberikan penekanan lebih besar pada ritual, bentuk dan simbol ketimbang pada hekekat dari agama. Proses mempolitikkan agama dan sekaligus menginjeksikan agama dalam percaturan politik telah memberi warna tersendiri dari gerakan fundamentalisme itu.

Di satu pihak pemimpin-pemimpin semacam itu meminta “keduniawian lain” tapi mereka sendiri tidak ragu-ragu untuk memperturutkan kata hati dalam kegiatan politik keduniawian. Kepemimpinan semacam itu menjadi semakin demagogis dalam membangkitkan para perusuh, semakin militan, dalam mencari pengikut baru, dan semakin tak toleran terhadap orang-orang yang tidak “bersama mereka” dan oleh karena itu perlu ditindas. Suatu aspek yang terutama menggelisahkan dari fundamentalisme keagamaan terjadi apabila kecenderungan semacam itu. Sekalipun terus merembes, namun tak kentara dan tidak dapat dideteksi dengan mudah pada tahap-tahap awal kecuali dengan kewaspadaan ganda.

Fundamentalisme yang berakar pada fanatisme dan primordialisme agama mencuat kegiatan eksplosif dan mengeras sebagaimana terlihat radikalisme di Indonesia (kasus terorisme di Indonesia). Dari perspektif sejarah, fundamentalisme keluar dari gerakan-gerakan reaksioner umat protestan di Amerika. Awalnya fundamentalisme merupakan gerakan konservatif di kalangan Protestan Amerika yang dengan tegas menentang sekularisme dan liberalisme dalam teologi dan kehidupan gerejani.

Karen Armstrong, dalam The Battle for God: A History of Fundamentalism (2001) mengatakan, banyak sekali peristiwa yang dikaitkan dengan aktivitas gerakan kelompok fundamentalis. Berbagai media dipenuhi oleh kejadian-kejadian yang mencerminkan hal tersebut. Bom bunuh diri yang mewarnai konflik Israel-Palestina adalah contoh dari sekian banyak reaksi berbahaya kelompok fundamentalis terhadap dunia modern. Meskipun para pelakunya dari beragam kepercayaan, mereka memiliki satu karakteristik umum: over fanatism in religious faith. Ketaatan yang berlebihan dalam beragama.

Karen Armstrong  memaparkan fenomena fundamentalisme dalam tiga agama monoteistik: Kristen, Yahudi, dan Islam. Penelusuran Armstrong terhadap sejarah ketiga agama besar ini sepanjang perubahan yang dimulai dari masa pencerahan Eropa (renaissance, Aufklärung) menunjukkan bagaimana fundamentalisme pada akhirnya muncul sebagai reaksi logis yang melawan ide-ide modernisme.

Fundamentalisme adalah suatu penolakan terhadap pandangan-pandangan ilmu pengetahuan modern yang seakan-akan memojokkan keberadaan agama. Misalnya, pandangan Charles Darwin tentang perkembangan alamiah semua jenis organisme. Meski bukan seorang ateis, Darwin bilang bahwa makluk hidup berkembang secara alami, tanpa campur tangan Allah yang diimani kaum beragama sebagai Pencipta.

Dalam arti lebih luas fundamentalisme adalah pendangan konservatif sempit, fanatik dan anti-ekumenis. Gerakan ini biasanya menuntut para  engikutnya hidup saleh. Kaum fundamentalisme adalah penganut gerakan keagamaan yang bersifat ketat dan reaksioner, yang selalu merasa perlu kembali keajaran agama yang asli (ortodoksis) seperti tersurat dalam Kitab Suci.

Gerakan fundamentalisme yang akhir-akhir ini yang semakin meluas di Indonesia, menekankan satu agama (atau ideologi) dalam arti dasar historis maupun ajaran iman sedemikian sehingga menyempitkan pandangan pada yang fundamental semata-mata, menolak perkembangan dan pembaruan, kolot, tertutup, eksklusif dan fanatik.

Fundamentalisme agama sebetulnya merupakan suatu gerakan tandingan terhadap trend-trend yang dinilai bersifat destruktif terhadap keyakinan yang sudah mendarahdaging. Motivasi dasarnya adalah pembaruan kehidupan beragama atau gerakan kembali ke akar, yaitu Kitab Suci. Pada tataran ini fundamentalisme agama menjadi suatu kekuatan yang positif.

Fundamentaslisme menjurus pada tindakan yang negatif karena ia keluar dari rasa tidak puas, cemas, curiga, dan sakit hati terhadap perkembangan agama yang ada. Kaum fundamentalisme mengupayakan suatu pembaruan total lewat suatu tindakan revolusioner. Tindakan kaum fundamentalis semakin destruktif terutama kalau mulai berorientasi kepada kepentingan atau ideologi lain seperti ekonomi, sosial dan politik.

Fundamentalisme terdapat di semua ajaran agama. Karen Armstrong, pakar sejarah agama-agama secara tegas menyatakan bahwa fundamentalisme adalah warisan inheren dan absah dalam tradisi agama-agama, khususnya agama semitik, Yahudi, Kristen, dan Islam. Karena itu, menguatnya arus fundamentalisme agama-agama di belahan dunia meruntuhkan pelbagai macam tesis dan pandangan. Kemodernan dianggap akan dapat menggeser posisi fundamentalisme, tapi pada akhirnya harus menerima fundamentalisme sebagai fakta sosial. Bahkan boleh dibilang bahwa posisi fundamentalisme dan kemodernan bersifat sejajar.

Fundamentalisme dalam tradisi Kristen Amerika, misalnya, merupakan sebuah perlawanan atas mereka yang ingin menyimpang dari doktrin dari teks keagamaan. Begitu pula fundamentalisme dalam tradisi Islam juga merupakan upaya untuk mempertahankan sejarah, doktrin, dan teks keagamaan. Oleh karena itu, fundamentalisme tidak lebih sebagai suatu fenomena historis.

Kaum fundamentalisme di semua agama memandang diri mereka sebagai satu-satunya pewaris yang sebenarnya dari kebenaran dan tradisi agama mereka. Mereka menganggap orang-orang lain dalam agama mereka sendiri dengan pandangan tipologi yang lain, sebagai golongan ajaran sesat, dan mencoba menekan atau bahkan melenyapkan mereka. Sikap tidak toleran semacam itu menyebabkan timbulnya konflik antara agama (sekte) dan kekerasan antara berbagai kelompok yang menganut agama yang sama. Inilah sebagai akar dari gerakan fundamentaslisme di Indonesia.

Demikian pula, sikap fanatik juga diungkapkan terhadap agama lain yang menyebabkan timbulnya konfliks sosial diantara kelompok-kelompok masyarakat tadi. Jadi, fundamentalisme keagamaan menyebarkan benih-benih ketegangan sosial pada tingkat lokal.

Minoritas agama dan minoritas etnis, kaum pendatang dan kelompok-kelompok tersisih lainnya juga menjadi korban kecenderungan-kecenderungan fundamentalisme dalam agama mayoritas. Seringkali, minoritas-minoritas semacam itu diperlakukan sebagai warga kelas dua di dalam sebuah negara. Mereka harus mengikuti sistem hukum dan kebiasaan sosial dari golongan mayoritas dan untuk hidup dalam suatu negara teokratis yang sistem hukum, organisasi sosial dan organisasi ekonominya mencerminkan pandangan teologis dari golongan mayoritas yang dominan.

Fundamentalisme keagamaan lebih memandang pluralisme sebagai suatu kerugian ketimbang suatu modal. Karena negara kita semakin bersifat pluralistik, maka kecenderungan ini merupakan ancaman nyata terhadap perdamaian, keserasian sosial dan masa depan negara kita.

Lacakan geneologis kelahiran istilah dan gerakan fundamentalisme di atas sekaligus menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kesejarahan Kristen di Amerika yang pertama kali mengenalkan dan memakai term tersebut. Dari sini bisa dilihat bahwa fundamentalisme sejatinya adalah gerakan keagamaan dengan spirit purifikasi untuk memposisikan teks suci secara sakral, tak tersentuh, dan tak boleh disangsikan kebenarannya. Karenanya, teks suci itu menjadi tertutup dan dipertahankan dengan strategi defensif.

Dalam catatan yang lain, seperti yang dituliskan oleh Agung Primamorista (2006), gerakan ini mengimani kembalinya Almasih secara fisik dan materi ke dunia untuk yang kedua kalinya, guna mengatur dunia ini, selama seribu tahun sebelum datangnya hari perhitungan manusia.

Prototipe pemikiran yang menjadi ciri khas fundamentalisme ini adalah penafsiran Injil dan seluruh teks agama secara literal dan menolak secara utuh seluruh bentuk penakwilan atas teks-teks manapun, walaupun teks-teks itu berisikan metafor-metafor rohani dan simbol-simbol sufistik, serta memusuhi kajian-kajian kritis yang ditulis atas Injil dan Kitab Suci.

Dari penafsiran Injil secara literal ini, orang-orang fundamentalis Protestan mengatakan akan datangnya Almasih kembali secara fisik untuk mengatur dunia selama seribu tahun yang berbahagia karena mereka menafsirkan “mimpi Yohana” (kitab Mimpi) secara literal.

Ketika fundamentalisme Kristen itu menjadi sebuah sekte yang independen pada awal abad ke-20, terkristallah dogma-dogma yang berasal dari penafsiran literal atas Injil itu melalui seminar-seminarnya, lembaga-lembaganya, serta melalui tulisan-tulisan para pendetanya yang mengajak untuk memusuhi realita, menolak perkembangan, dan memerangi masyarakat-masyarakat sekuler yang baik maupun yang buruk sekaligus. Misalnya, mereka mengklaim mendapatkan tuntunan langsung dari Tuhan, cenderung untuk mengisolasi diri dari kehidupan bermasyarakat, menolak untuk berinteraksi dengan realitas, memusuhi akal dan pemikiran ilmiah serta hasil-hasil penemuan ilmiah. Oleh karenanya, mereka meninggalkan universitas-universitas dan mendirikan lembaga-lembaga tersendiri bagi pendidikan anak-anak mereka.

Untuk mengenali lebih jelas lagi, Pdt Dr Ioanes Rakhmat membuat beberapa ciri terhadap fundamentalisme Kristen dewasa ini. Pertama, “Mempertuhankan Alkitab”. Kedua, “Literalisme Biblis”. Ketiga, “Bermental triumfalistik ekspansionistik”. Keempat, “Berkolaborasi dengan kapitalisme Barat dunia”.

Fundamentalisme injili Kristen di Indonesia berafiliasi dengan kapitalisme global yang berpusat di EU dan USA, yang menjadi penyuntik dana besar gerakan-gerakan Kristen Barat yang mempunyai misi ekspansi sivilisasi Barat, antara lain ke Indonesia. Kelima, “Penyusupan ke gereja-gereja arus utama”. Keenam, “Narcissisme radikal”.

Ketujuh, “Bervisi apokaliptik sangat politik radikal”. Kedelapan, “Sangat anti terhadap pendekatan kritis historis terhadap Kitab Suci”. Kesembilan, “Gerakan kebudayaan yang sangat berbahaya”. Sebab mereka bukan hanya suatu gerakan religius kultural –yang ingin mengembalikan dunia dan gereja-gereja ke dalam kehidupan dunia zaman kuno, zaman kejayaan para nabi, dan zaman para rasul Kristen di abad-abad perdana dalam sejarah gereja, zaman keemasan bagi karya nyata Roh Kudus– tapi sebuah gerakan yang sangat modern karena menggunakan cara-cara dan strategi yang modern untuk keperluan pengkristenan dalam program sedunia “evangelism explosion” mereka. (Ben Senang Galus, penulis buku Gereja, Kapitalisme dan Penyaliban Kaum Lemah, tinggal di Yogyakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here