Home News Tanggapan Pengasuh Ponpes di Jogja soal Klepon yang Disebut Makanan Tak Islami

Tanggapan Pengasuh Ponpes di Jogja soal Klepon yang Disebut Makanan Tak Islami

788
0
Ilustrasi klepon. (Foto: Shutterstock)

BERNASNEWS.COM – Siapa yang tidak mengenal makanan berbentuk bulat, berwarna hijau dengan parutan kelapa bertaburan mengelilinginya, dan didalamnya berisi gula merah atau gula aren? Tak lain dan tidak salah lagi, namanya adalah klepon. Makanan tradisional khas Indonesia yang sejak dulu hingga sekarang masih banyak diminati oleh banyak orang.

Klepon bahkan kerap disajikan di sejumlah hotel berbintang sebagai upaya untuk mengenalkan kuliner khas Indonesia. Belum pernah ada kontroversi jika klepon itu menjadi makanan khusus dalam aspek tertentu. Namun kemarin, muncul postingan gambar di Twitter yang menyebutkan bahwa klepon tidak islami.

“Kue klepon tidak islami. Yuk tinggalkan jajanan yang tidak islami. Aneka kurma yang tersedia di toko kami.- Abu Ikhwan Aziz” demikian tulisan dalam gambar tersebut.

Postingan tersebut berawal dari Twitter, salah satunya akun milik @irenecutemom. Berdasarkan kalimat tersebut, diduga bertujuan untuk memasarkan produk kurma. Netizen pun beramai-ramai memberikan tanggapan terkait postingan tersebut.

Tak sedikit pihak yang bertanya-tanya mengapa harus menyebutkan bahwa klepon adalah makanan yang tidak Islami. Padahal, dalam ajaran agama Islam sendiri, terdapat aturan yang menjelaskan bahwa makanan itu halal atau boleh dimakan selama bahan, cara pembuatan juga cara memperolehnya didapat dengan cara yang baik pula.

“Kalau menurut saya pribadi, kita tidak boleh menyalahkan klepon. Klepon itu tidak salah, kita lihat dulu sepanjang bahan pembuatan klepon itu halal dan tidak dibuat dari barang-barang yang haram itu artinya islami dan layak dikonsumsi,” kata Mugi Rahayu salah satu pengasuh PP/PA Sabilul Huda, Rabu (22/7/2020).

Menurutnya, postingan dengan kalimat tersebut hanya akan menimbulkan pergulatan kata dalam dunia maya. Sehingga  membuat banyak orang bertanya-tanya dan menduga-duga tentang banyak hal.

Seperti dengan mengomentari jika postingan tersebut sebagai fitnah yang mencantumkan nama islami, ajang pemurtadan dari agama islam, hingga menghubungkan klepon dengan kue sejenis pembuatannya ikut serta dikatakan tidak islami juga.

“Oleh karenanya, jangan sampai kita termakan mentah-mentah sebuah tulisan sebelum mencari kebenarannya. Salain itu, ketika hendak menuliskan sebuah kata di media sosial, ada baiknya jika kita lebih memperhatikan kata-kata yang baik untuk dituliskan. Agar tulisan tersebut tidak mengundang banyak permasalahan,” lanjutnya. (Rahma)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here