Home Opini “Tangga” Kepemimpinan

“Tangga” Kepemimpinan

128
0
Muhammad Roni Indarto, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN Yogyakarta

BERNASNEWS.COM – Pemimpin adalah seseorang yang mampu memberikan dorongan semangat dan mampu menggerakkan anggota dari sebuah organisasi atau institusi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama. Seorang pemimpin sangatlah penting bagi jalannya organisasi atau institusi. Tanpa adanya pemimpin maka organisasi atau institusi tidak akan bisa berjalan sesuai dengan yang diharapkan, bahkan organisasi atau isntitusi tersebut akan berhenti dan bahkan bisa “bubar”.

Dalam setiap organisasi, sekecil apapun organisasi tersebut, pasti membutuhkan pemimpin, untuk bisa mengarahkan, memberikan semangat dan untuk menggerakkan roda organisasi atau institusi tersebut.

Setiap pemimpin tentunya memiliki gaya dalam kepemimpinan di suatu organisasi atau institusi, gaya kepemimpinan mengacu pada karakter pemimpin di saat memberikan arahan, memberikan dorongan motivasi, memberikan bimbingan dan bagaimana pemimpin mengelola sekelompok orang. Pemimpin hebat bisa menginspirasi anak buahnya untuk melakukan sebuah perubahan baik perubahan sosial maupun bahkan perubahan politik. Bahkan dengan gaya kepemimpinnya mereka dapat memberikan motivasi kepada orang lain untuk bisa tampil kreatif dan inovatif.

Berbicara mengenai gaya kepemimpinan secara teoritis, menurut para ahli, sangatlah banyak. Ada gaya kepemimpinan otokratis, demokrtais, birokrasi, kharismatik, inovatif, partisipatif, delegative, transaksional, transformasional dan sebagainya. Gaya kepemimpinan tersebut bisa terjadi satu individu memiliki beberapa gaya kepemimpinan.

Gaya kepemimpinan otokratis adalah gaya kepemimpinan otoriter, seorang pemimpin sebagai penentu mutlak setiap keputusan dalam sebuah organsisasi, bawahan tidak diberi kesempatan untuk menentukan sebuah keputusan. Sebaliknya gaya kepemimpinan demokratis. Konsep kepemimpinan demokratis ini anak buah (bawahan) memiliki peranan yang penting dan selalu dilibatkan dalam setiap keputusan. Setiap anggota organisasi diberikan tugas dari atasan sesuai dengan kemampuan atau keahlian masing-masing. Model komunikasi dari gaya kepemimpinan demokratis memiliki sifat dua arah, setiap anggota organisasi atau institusi dapat menyampaikan masukan jika diperlukan. 

Selanjutnya gaya kepemimpinan transaksional. Gaya kepemimpinan ini mengutamakan persetujuan dan kesepakatan bersama antara pemimpin dan anggotanya. Bentuk persetujuan dan kesepakatan tersebut adalah berupa reward (hadiah, penghargaan) dan punishment (hukuman, sanksi). Kesepakatan ini akan memacu semangat para anggota bekerja sebaik-baiknya untuk memperoleh reaward.

Sedangkan bagi anggota yang tidak sanggup dalam mencapai tujuan yang telah disepakati, maka harus siap menerima sanksi yang telah disepakati.  Sedangkan gaya kepemimpinan transformasional merupakan gaya untuk melakukan sebuah proses mengubah dan mentransformasikan setiap anggota menuju perubahan. Dalam proses tersebut, pemimpin terlibat untuk memenuhi kebutuhan para karyawan agar kualitas mereka semakin meningkat.

Membangun “Tangga” Kepemimpinan

Pemimpin sebagaimana disebutkan di atas pada dasarnya adalah seseorang yang bisa membangun, melaksanakan dan mengajak anggotanya untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan, baik organisasi ataupun institusi tersebut masih tahap awal maupun sudah berdiri sejak lama. Pemimpin bisa diibaratkan sebagai seorang enginer atau arsitek yang membangun sebuah tangga bagi kesuksesan organisasi dan individu-individu yang ada dalam organisasi atau institusi tersebut.

Tangga dibuat terdiri dari tiga bagian, bagian pertama adalah bagian dasar yang biasanya memiliki tiang yang besar dan kokoh. Bagian kedua adalah bagian tengah yang biasanya memiliki tiang lebih kecil namun tetap kokoh yang biasanya juga memiliki pegangan yang nyaman dan aman bagi individu yang menaiki tangga tersebut. Bagian ketiga adalah bagian ujung atas yang memiliki tiang yang lebih kecil tapi juga kokoh, area pada bagian ini biasanya lebih sempit, karena bagian ini biasanya diletakkan pada bagian paling atas dibandingkan dengan bagian dasar maupun bagian tengah.

Bila dianalogikan bahwa berusahaan adalah sebuah tangga maka perusahaan tersebut dibuat untuk berjalan selamanya dan mampu untuk memberikan kemanfaatan bagi individu – individu yang ada didalam perusahaan tersebut. Agar perusahaan tersebut tetap kokoh, bisa bermanfaat selama – lamanya dan tidak mudah runtuh serta mampu menampung banyak anggota atau karyawan, maka dasar atau pondasi perusahaan tersebut kuat dan kokoh, pondasi perusahaan merupakan dasaran bagi sebuah usaha untuk bisa berjalan dengan baik dan benar, untuk itu maka seorang pemimpin harus mampu memberikan dasaran yang kokoh perusahaan yang dipimpinnya, dasar yang kokoh ini tentunya berbentuk Visi, Misi, budaya perusahaan yang jelas


Visi merupakan impian jangka Panjang merupakan arah maupun sasaran perusahaan yang akan dituju dalam jangka waktu minimal 5 tahun kedepan. Adanya visi perusahaan yang jelas maka seluruh anggota di dalam perusahaan akan menyatukan pandangan dan langkahnya dalam mewujudkan impian dan sasaran perusahaan. Tanpa visi yang jelas bisa diibarakkan sebuah kendaraan  tanpa arah yang jelas kemana harus menuju.

Misi merupakan sumber daya yang dibutuhkan untuk mewujudkan visi perusahaan. Seorang pemimpin mestinya dapat memanfaatkan sumberdaya yang ada didalam perusahaan dengan baik dan benar, sehingga bisa diharapkan bahwa perusahan dapat mencapai impian – impian masa depannya. Sumberdaya tersebut antara lain adalah: keuangan, pemasaran, proses bisnis dan sumber daya manusia, dan sumberdaya lainnya.

Selain itu sebagai dasar yang kokoh lainnya adalah budaya perusahaan atau yang sering disebut corporate culture. Budaya perusahaan merubakan nilai-nilai  yang dimiliki dan diyakini oleh setiap individu dan sebagai nilai-nilai terbaik yang dapat memberikan dampak yang positif terhadap pencapaian perusahaan.

Seorang pemimpin seyogyanya dapat membuat dan membangun, serta memviralkan nilai-nilai budaya ini sampai ke setiap anggota dalam perusahaan dengan sebaik baiknya sehingga anggotanya dapat tertular nilai-nilai budaya perusahaan dan berperilaku budaya seperti yang diharapkan perusahaan. Untuk meviralkan nilai-nilai budaya perusahaan pemimpin wajib menuliskan dan menginformasikan nilai-nilai tersebut  kepada setiap sumber daya manusia yang ada di dalam perusahaan. Nilai budaya ini dapat menjadi pemersatu dan motivasi bagi anggota dalam mencapai visi perusahaan.

Selanjutnya analogi bagian tengah dari tangga dalam perusahaan, merupakan sebuah area manajemen untuk mengelola perusahaan, pengelolaan organisasi ini dalam teori manajemen ada empat bagian, yaitu pengelolaan bidang pemasaran, bidang keuangan, bidang produksi dan sumberdaya manusia.

Seorang pemimpin mestinya harus mampu mengelo empat bidang tersebut secara baik dan benar. Tentunya pengelolaan empat bidang ini melalui pendelegasian wewenang yang jelas dan professional. Pendelegasian wewenang yang jelas tentunya berdasarkan atas job description dan job specification, sedangkan yang dimaksud professional disini adalah pemimpin menunjuk seseorang bukan berdasar pada like and dislike atau kedekatan semata, namun berdasarkan atas prestasi kinerja yang ditunjukkan oleh anggota yang menduduki jabatan tertentu. Pemimpin juga bisa menentukan seseorang untuk menjabat pada jabatan tertentu  berdasarkan atas hasil tes atau ujian yang ditentukan oleh perusahaan.

Pada anak tangga terakhir di sebuah tangga atau di puncak tangga biasanya area nya menyempit dan bagian tiang yang menyangga lebih kecil dari bagian – bagian tangga lainnya. Bila dianalogikan sebuah perusahaan bagian puncak anak tangga tersebut adalah merupakan area bagi pimpinan atau pemimpin, biasanya apabila tangga tersebut dipergunakan maka diletakkan dipaling atas, analoginya adalah bahwa bagian tersebut merupakan bagian untuk pemimpin, letak teratas agar seorang pemimpin bisa melihat secara menyeluruh dan detil bagian-bagian lain yang berada di bawahnya.

Sehingga apabila ada anggota organisasi atau karyawan membutuhkan bantuan maka seorang pemimpin segera bisa melihat dan memberikan “tanggannya” untuk membantunya. Selain itu di puncak tangga tersebut seorang pemimpin bisa melihat dan mengamati setiap anggotanya untuk diajak bersama ke puncak tangga pimpinan untuk meneruskan dan melanjutkan kepemimpinannya sehingga perusahaan Ketika pemimpin tersebut harus turun tidak menjadi “karam”. Dan apabila ada pelaksanaan pencapaian tujuan perusahaan mengarahkan pada tujuan yang salah maka seorang pemimpin dapat segera memutar haluan untuk mengarahkan ke tujuan yang benar.

Demikianlah sesungguhnya seorang pemimpin, apapun gaya kepemimpinannya, harus membangun tangga yang kokoh untuk mencapai tujuan bersama dengan anggotanya. Tidak hanya menaiki tangga sendirian dan mencapai puncak kejayaan sendirian, tanpa mengajak anggotanya untuk menikmati sebuah puncak tangga kemuliaan yang sudah tersedia. (Muhammad Roni Indarto, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN Yogyakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here