Home Seni Budaya Syuting Film Anak Ternyata Butuh Kesabaran

Syuting Film Anak Ternyata Butuh Kesabaran

529
0
Proses syuting program Story Telling oleh kru Tugu TV, Senin (16/9/2019), di TK Negeri 3 Yogyakarta. (Tedy Kartyadi/ Bernasnews.com)

BERNASNEWS.COM — Pengambilan video atau film tentang program anak memang perlu kesabaran yang cukup tinggi. Seperti tampak yang dilakukan oleh seorang wartawan Tugu TV, Senin (16/9/2019), ketika mengambil film, di Sekolah Taman Kanak-Kanak (TK) Negeri 3 Yogyakarta. Pengambilan film tersebut diperuntukan mengisi salah satu program dari media televisi yang berbasis streaming, yaitu program Story Telling.

Sebut saja Feva selaku kru Tugu TV yang juga merangkap wartawan ini kepada Bernasnews.com, menjelaskan, selain bertugas sebagai pencari berita untuk kepentingan media online dan media televisi, dia juga ditugaskan mengisi program Story Telling, sebuah program yang bertujuan memberikan kesempatan kepada siswa sekolah TK hingga Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SMA/SMK) berlatih bicara di depan orang banyak atau kamera.

“Materi yang disampaikan bebas asalkan tidak menyimpang dari kaidah jurnalistik. Untuk anak-anak TK tentunya akan berbeda dengan siswa SD, SMP, maupun SLTA materi yang disampaikannya. Contoh, kedua anak dari TK Negeri 3 Yogyakarta ini. Mizan bercerita tentang kesukaannya melihat film Dinosaurus dan Hanifah bercerita lebih pada kegiatannya sehari-hari sebelum berangkat ke sekolah,” jelas Feva di sela-sela pengambilan video.

Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Kesiswaan TK Negeri 3 Yogyakarta, Dewi Widyastuti, SPd, menerangkan, bahwa kedua siswanya berbeda tingkat kelasnya. Mizan di kelas B atau tingkat akhir dan Hanifah di kelas A, sehingga keberanian atau mentalnya agak berbeda saat proses pengambilan film. Bahkan Mizan ini sangat mengejutkan dikarena tanpa dipersiapkan terlebih dahulu dan spontanitas bersedia disyuting.

“Kedua anak itu Mizan dan Hanifah memiliki verbalisme bagus dibanding teman-teman sekelasnya, begitu pula dengan cognitifnya. Keduanya berani bertanya dan juga berani menyampaikan pendapat kepada guru yang mengajar. Mereka juga sangat aktif dalam kegiatan ekskul di TK Negeri 3 ini, seperti menari, musik angklung, dan drumband,” terang Dewi selaku guru pendamping.

Sebagaimana yang tertulis dalam proposal program, Story Telling merupakan media pembelajaran dengan konsep hiburan tontonan dan tuntunan dalam bentuk video yang ditayangkan secara online atau streaming. Mendidik anak/ siswa berani bicara menyampaikan pendapat atau mendongeng di depan orang (kamera).

“Anak milenial sekarang kan suka nge-vlog (bikin video youtube, red), dengan program Story Telling ini kami berikan wadah agar lebih terarah dan materi yang disampaikan bisa lebih bermanfaat, serta dapat dipertanggung jawabkan. Sungguh ini kali pertamanya pengalaman syuting film pada anak-anak tingkat TK. Saya nggak kebayang sutradara maupun kru film saat syuting, dipastikan kesabaran mereka sudah sampai tingkat tinggi,” pungkas Feva. (ted)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here