Home Pendidikan Syukuri Kehidupan Melalui Puisi

Syukuri Kehidupan Melalui Puisi

214
0
Empat buku antologi puisi ini karya perempuan dari dua pulau, Kalimantan dan Jawa. Tiga buku pertama karya dua orang guru di Bontang, Kalimantan Timur, Muttafakun dan Suhartini. Sedangkan buku keempat karya seorang rohaniwati di Semarang, Jawa Tengah, Luisa Anin SDP. Foto : kiriman YB Margantoro

BERNASNEWS.COM – Banyak cara bagi setiap insan di dunia ini dalam mensyukuri hidup dan kehidupan yang tidak selalu sama, tidak pasti, namun selalu ada harapan baru. Bentuk rasa syukur itu, tentu terutama melalui doa dan karya nyata. Salah satu karya yang memerlukan pengamatan mata hati yang mendalam itu adalah fiksi, khususnya puisi. 

Mengapa puisi dan bukan yang lain? Ya mengapa tidak melalui puisi saja untuk mengungkapkan rasa syukur, perjuangan, kegamangan dan sekaligus harapan tinggi kehidupan?  Asalkan kenikmatan membaca atau mendengar terjaga, komunikatif dan sarat dengan pesan bermakna, sah-sah saja ungkap syukur itu disalurkan melalui bait-bait puitis.

“Mari menikmati renyahnya hidup yang adalah anugerah dan pengutusan. Setiap pribadi dipanggil dengan namanya untuk menjadi vitamin bagi sesama. Vitamin kehidupan. Mari menggoreng pengalaman dalam rasa hingga mencapai kemendalaman hidup,” kata Suster Luisa Anin, SDP penulis buku Panggil Aku Savanna (ISBN : 978-623-95738-7-4) yang dihubungi di Semarang, Jawa Tengah, Jumat 28 Mei 2021.

Meski tidak saling kontak, namun biarawati asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang lulusan Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta ini, sama-sama menciptakan buku antologi puisi seperti dua orang guru sekolah dasar (SD) di Kota Bontang, Kalimantan Timur. Mereka adalah Muttafakun, S.Pd.SD yang berkarya Senyummya yang Indah (ISBN : 978-623-95758-9-8) dan Menyambut  Pagi (978-623-96996-1-1) serta Suhartini, S.Pd dengan karya Waktu yang Bicara (ISBN : 978-623-96996-0-4).

Mereka seolah sepakat mensyukuri kehidupan melalui puisi di Bulan Buku, yakni Mei. Pada tanggal 17 Mei kita kenal sebagai Hari Buku Nasional dan sekaligus Hari Ulang Tahun Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Para pegiat literasi, perbukuan, pendidikan, masyarakat pecinta buku, bahkan rohaniwan rohaniwati mencoba bersuka cita dengan buku di Bulan Buku.

Muttafakun melalui karya antologi puisinya ini mencoba memaknai relasi insani khususnya dengan para peserta didik, selain topik pribadi, kehidupan alam dan perjalanan waktu. Sedangkan Suhartini juga bertekun dengan relasi keluarga, insani, perjalanan waktu, keindahan alam dan doa.

Karya antologi puisi mereka menambah deretan karya buku solo para guru di Kota Bontang, Kalimantan Timur sebelumnya seperti Roikatul Janah, Sunarsih, Rakhman Halim, dan lain-lain. Ada juga yang tampil dalam karya antologi bersama, yang sebagian didukung CSR PT KMI Bontang, Kalimantan Timur.

Praktisi media dan pegiat literasi YB Margantoro dari Yogyakarta mengapresiasi setiap karya kreatif dan inovatif  di bidang literasi oleh siapa saja. Literasi kini semakin dirasakan kebermaknaannya dalam kehidupan dan menjadi milik semua orang. “Semoga setiap insan semakin merasakan karya tulis sebagai karya peradaban,” kata dia. (*)    



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here