Home Seni Budaya Susilo Budi Purwanto : Seni Lukis Dukung Kehidupan Lebih Bernilai

Susilo Budi Purwanto : Seni Lukis Dukung Kehidupan Lebih Bernilai

161
0
Pelukis Susilo Budi Purwanto berdiri di antara lukisannya oil on canvas Tiwikromo (150 x 115 cm) dan Taman Sriwedari (150 x 120 cm) dalam acara pameran tunggal bertajuk Sukrosono di Bentara Budaya Jalan Suroto Kotabaru Yogyakarta, Selasa (5/10/2021). Foto : YB Margantoro

BERNASNEWS.COM – Setiap orang dengan berbagai profesi dan talentanya akan dengan penuh cinta dan semangat menggeluti passionnya, tidak terkecuali pelukis Susilo Budi Purwanto (55). Bagi lulusan Program Studi Seni Lukis Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta tahun 1995 ini, hidup berkesenian adalah menjalani kesenian sebagai sebuah panggilan hidup. Dengan menggeluti apa yang dia sukai itu, kehidupan menjadi lebih bernilai.

“Dengan melukis, saya mencoba memaknai kehidupan ini untuk diri sendiri dan sesama. Melalui karya lukis, saya mencoba merefleksikan hidup dan kehidupan supaya bermakna. Namun pemakmaan karya saya itu tidak selalu datang dari saya, dapat juga diberikan oleh penikmat lukisan saya. Jadi antara seniman dan penikmat seni dapat saling mengisi atau memperkaya batin kita masing-masing,” kata Susilo ketika ditemui di Bentara Budaya, Jalan Suroto Kotabaru,Yogyakarta, Selasa (5/10/2021).

Sejak hari Senin (27/9/2021) sampai dengan Kamis (7/10/2021), sebanyak 25 karya lukis berbagai ukuran dan 30-an karya drawing Susilo dipajang dalam pameran tunggal bertajuk Sukrosono di Bentara Budaya. Pameran ini merupakan rangkaian dari Festival Anak Bajang dan peresmian Museum Anak Bajang di Kompleks Omah Petroek,  Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Senin (27/9/2021).

Sebagian karya drawing pelukis Susilo Budi Purwanto di pameran tunggal bertajuk Sukrosono di Bentara Budaya, Jalan Suroto Kotabaru Yogyakarta, Selasa (5/10/2021). Foto : YB Margantoro

Menurut Susilo, karya lukisnya yang dipamerkan itu merupakan ilustrasi dari naskah Budayawan Sindhunata Anak Bajang Mengayun Bulan yang sedang dalam proses diterbitkan buku dan saat ini sedang tayang bersambung di Harian Kompas. Cara kerjanya secara simultan. Romo Sindhu-demikian panggilan budayawan itu-menulis, sedangkan Susilo melukis. Lebih dari satu tahun, dia mendalami naskah, membuat skets dan kemudian menuangkan dalam kanvas.

Tentang judul pameran tunggal ini, menurut dia, mengacu pada buku yang dia respon. Dalam buku karya Sindhunata itu tokoh utamanya bernama Sukrosono. Tokoh pewayangan yang berwujud raksasa kecil, berhati baik dan hidupnya disia-siakan oleh saudara kembarnya, Sumantri.

Berbeda dengan Sukrosono yang buruk rupa, Sumantri berwajah tampan dan berfisik sempurna. Dinamika hubungan dua saudara kembar yang saling mencintai namun berakhir kematian tragis itu menjadi bahan perenungan bagi pelukis dan diharapkan perenungan pula bagi pembaca buku dan masyarakat umumnya.   

“Sejak tahun 1999 saya sudah melakukan pameran, dimulai pameran Ragam Bahasa Pelukis Muda Edwin’s Gallery Jakarta sampai tahun 2021 Pameran AKARA di Gedung PDIP Yogyakarta. Baru kali ini saya berkesempatan pameran tunggal di Bentara Budaya Yogyakarta. Pameran ini, bagi saya merupakan tonggak sejarah karena ini adalah pameran tunggal pertama saya. Dengan kolaborasi antara karya sastra dan rupa ini tercipta sebuah eksplorasi budaya,” kata dia.

Tiga cara melukis

Suami dari Hesti Sunarsih (seorang guru TK) dan ayah Rowang (mahasiswa) ini mengatakan, sejak awal dia ingin membuat visualisasi bebas dalam merespon buku karya Sindhunata. Dia ingin karya rupa yang dapat berdiri sendiri ketika dilepas dari karya tulisnya. Ada beberapa cara yang dia tempuh untuk itu.

Cara pertama, dari keseluruhan cerita dia ambil bagian-bagian yang menarik, kemudian dia sari-patikan dalam sebuah gagasan dan rancangan, lalu dia visualisasikan ke karya rupa. Ini adalah cara yang paling sering dia gunakan karena cara ini yang paling jelas dan pasti. Meskipun diakui tidak menutup kemungkinan terjadi improvisasi dalam proses visualisasi.

Kedua, dengan mengilustrasikan adegan atau peristiwa ke dalam karya rupa. Cara kedua ini cenderung lebih sederhana karena hanya memvisualkan apa yang ada dalam teks. Ketiga, dengan memvisualkan kata-kata dalam buku itu yang sudah  bersifat puitis atau simbolis. Misalnya kata-kata “Bertapa di pucuk pedang,” yang kemudian dia visualkan apa adanya sesuai dengan kata-kata itu.

Pelukis Susilo Budi Purwanto bersama luksannya bertajuk Pinokio di kediamannya, Perum Ambarketawang Indah, Gamping, Sleman, Yogyakarta, Selasa (5/10/2021). Foto : YB Margantoro

“Namun apapun cara yang saya pakai untuk merespon, pada proses visualisasi tetap akan saya konfigurasikan ke dalam bahasa dan gaya seni rupa khas saya, sehingga bentuk visualisasi itu menjadi bentuk yang personal,” kata sulung dari tiga bersaudara dari keluarga Subardi  (dulu pegawai kantor Agraria) dan Sumirah (bidan) ini.

Apa gaya seni rupa pelukis Susilo Budi Purwanto? Menurut lelaki ramah ini, gaya lukisnya adalah surealistik dengan selalu menghadirkan realisme simbol. Dalam karya di pameran tunggalnya kali ini, simbol yang dia hadirkan adalah sosok wayang dan topeng. Ini bagian dari upaya menghadirkan budaya lokal yang mendunia yakni wayang.

“Setiap pelukis harus memiliki ciri khas. Ini proses kreativitas yang paling berat. Namun di sisi lain, pelukis harus memiliki keberanian untuk berubah. Ini juga tidak gampang,” kata dia.

Di rumahnya, di ruang tamu dipajang dua lukisan berukuran cukup besar (150×115 cm dan 150×120 cm). Yang pertama bertajuk “Jalan Percaya” dan kedua “Pinokio”. Untuk lukisan pertama bicara tentang proses perjuangan seseorang dalam mengimani Tuhan. Sedangkan lukisan kedua bicara soal kebohongan.

“Pinokio itu sosok anak kecil dari kayu ciptaan seniman. Ketika dia berbohong maka hidungnya  memanjang. Dia saya gambarkan berada di hutan dan pohon-pohon yang mengelilinginya bersedih karena pinokio berbohong. Dari semua makhluk ciptaan Tuhan, bukankah hanya manusia yang mau dan dapat berbohong?” kata dia.

Melalui karya seni rupa, pelukis Susilo Budi Purwanto berusaha merefleksi dan memaknai hidup dan kehidupan. Hidup yang berharga dan kompleks ini memang harus senantiasa direfleksikan. (YB Margantoro, Praktisi Media dan Pegiat Literasi).     

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here