Home Seni Budaya Surjan Busana Penuh Makna Filosofi Spiritual

Surjan Busana Penuh Makna Filosofi Spiritual

14887
0
Busana surjan dari bahan kain lurik, hasil karya penjahit surjan Mbah Djan, di kawasan Njeron Beteng, Kraton Yogyakarta. (Foto: Istimewa)

BERNASNEWS.COM — Surjan busana tradisional Jawa khas Yogyakarta ternyata busana yang penuh makna, termasuk makna filosofis maupun makna spiritual. Busana surjan juga memiliki keunikan dalam nama potongan kain pola dalam menjahit untuk membuatnya.

“Menggunting pola untuk surjan lebih mudah dibandingkan bikin baju pada umumnya, hanya proses menjahit dan penyelesaian akhir lebih rumit dan memerlukan ketelitian, serta harus sabar. Karena cukup lama, terutama dalam pemasangan kancing yang ada di beberapa tempat sesuai pakem (aturan) dalam pembuatan surjan,” tutur Mbah Djan, kepada Bernasnews.com, Selasa (17/9/2019).

Mbah Djan atau nama lengkapnya Ngatidjan yang telah menggeluti profesinya sebagai penjahit surjan lebih dari setengah abad ini tepatnya sejak tahun 1960, menjelaskan, bahwa guntingan-guntingan kain pola dalam pembuatan surjan memiliki sebutan yang unik, berbeda dengan pola jahitan busana Jawa lainnya seperti beskap dan model busana peranakan yang lazim dipakai oleh para abdi dalem Kraton Yogyakarta.

Keunikannya terletak pada sebutan guntingan pola surjan, yaitu, bagian leher disebut Wungkal Gerang. Wungkal adalah sejenis batuan yang bentuknya seperti perahu jung yang oleh masyarakat Jawa untuk mengasah bilah pisau atau senjata tajam lainnya. Sedangkan kata Gerang berarti tua atau lama.

Guntingan pola untuk lengan surjan, disebut Kadal Meteng (Kadal Hamil) dan ujung lengan disebut Nlale Gajah (seperti belalai gajah). Sedangkan pada dada berupa tangkepan disebutnya Sogok Upil (upil sebutan kotoran yang ada di hidung), dengan bentuk pola seperti bilah pedang besar dengan runcing posisi di bawah.

“Guntingan pola dalam pembuatan surjan itu sudah baku dan sebenarnya cukup mudah dibanding membuat guntingan baju biasa. Namun sangat disayangkan banyak penjahit-penjahit muda yang pinter tetapi tidak bersedia menerima pembuatan surjan. Apalagi sekarang sedang digalakan oleh pemerintah soal berbusana tradisional. Saya siap mengajari dan berbagi ilmu cara menjahit surjan secara cuma-cuma untuk melestarikannya,” tutur Mbah Djan.

Lebih lanjut, Mbah Djan menambahkan, bahwa pola dan menjahit antara busana surjan dan busana peranakan terdapat kesamaan, yang berbeda adalah bagian depan untuk busana peranakan tertutup atau tidak memakai sogok upil. Berbeda dengan busana beskap, polanya dan menjahit mirip seperti membuat jas hanya bedanya di bagian belakang bawah dipotong lengkung sebagai tempat menyisipkan keris.

Menapaki usianya yang telah sepuh, ditemani mesin jahit kesayangannya Mbah Djan masih menekuni profesinya sebagai penjahit surjan. Konsumennya selama ini kebanyakan dari para abdi dalem dan kerabat Kraton Yogyakarta, juga ada beberapa pegawai instansi pemerintahan. Kebetulan tempat tinggalnya pun berada di kampung kawasan nJeron Beteng Kraton Yogyakarta, tepatnya di Jalan Pesindenan, Kampung Suryoputran, Kelurahan Panembahan, Kecamatan Kraton, Yogyakarta. Sungguh sangat disayangkan tawaran gratis atau cuma-cuma dari Mbah Djan cara membuat surjan selama ini belum ada penjahit yang menanggapi atau tertarik ingin meneruskan keahlian menjahit surjan yang semakin langka ini.

Sementara itu, Penghageng Kraton Yogyakarta KRT. Jatiningrat, dalam ceramahnya di Masjid Wiwarajati Suryoputran, Yogyakarta, beberapa waktu lalu menjelaskan, bahwa busana surjan merupakan karya adiluhung Sunan Kalijaga seorang Wali (ulama) Jawa, sebuah karya busana yang penuh makna filosofi spiritual.

“Surjan atau juga disebut baju takwa ini, oleh Pangeran Mangkubumi (Sultan HB I) setelah Perjanjian Giyanti tahun 1755 ditetapkan sebagai busana resmi Keraton Yogyakarta. Banyak makna filosofi spiritual Islam dalam surjan, seperti yang tersirat dalam QS. Al A’raf 26. Kata surjan sendiri mempunyai arti penerang atau pelita. Dari jumlah kancing yang ada di dalam busana surjan memiliki perlambang dalam Islam,”papar KRT. Jatiningrat yang juga akrab disapa Romo Tirun.

Jumlah kancing pada leher surjan adalah tiga pasang kancing (jumlah 6 biji), merupakan gambaran dari Rukun Iman dalam Agama Islam, yaitu, iman kepada Allah, Malaikat, Kitab-kitab, Nabi-nabi, Hari Kiamat, dan Takdir. Sedangkan dua buah kancing di dada kiri dan kanan (tangkep) melambangkan dua kalimat Syahadat.

Kemudian, tiga buah kancing yang ada di bagian dada sebelah dalam dan tidak terlihat dari luar, adalah bermaknakan tiga macam nafsu yang dimiliki oleh manusia. Yaitu nafsu Ammarah, nafsu Lawwamah, dan nafsu Mutmainnah. Dan jumlah lima kancing pada lengan surjan, sebagai lambang lima Rukun Islam, yaitu, Syahadat, Salat, Puasa, Zakat, dan Haji bagi yang mampu. (ted)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here