Home News Sultan HB X : Melawan Keberagaman Berarti Melawan Kehendak Tuhan

Sultan HB X : Melawan Keberagaman Berarti Melawan Kehendak Tuhan

571
0
Sri Sultan Hamengku Buwono X saat menyampaikan pidato kunci dalam forum Dialog Kebangsaan dengan tema Merawat Persatuan, Menghargai Keberagaman di Auditorium Abdul Kahar Mudzakkir Kampus Terpadu UII, Selasa (14/1/2020). Foto : Philipus Jehamun/ Bernasnews.com.

BERNASNEWS.COM –Keberagaman merukan sunnatullah dan kehendak Tuhan. Dan di dunia ini tidak ada satu pun ciptaan Tuhan yang identik atau sama. Banyak perbedaan meski sekilas nampak sama. Dengan demikian sangat jelas bahwa keberagaman merupakan realitas yang terjadi atas kehendak Tuhan.

“Karena itu, bila ada yang menentang realitas keberagaman sesungguhnya ia sedang melawan kehendak Allah,” kata Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam pidato kunci dalam Dialog Kebangsaan dengan tema Merawat Persatuan, Menghargai Perbedaan di Auditorium Abdul Kahar Mudzakkir Kampus Terpadu UII, Selasa (14/1/2020).

Mengkopolhukam Prof Dr Moh Mahfud MD bersalaman dengan Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam forum Dialog Kebangsaan dengan tema Merawat Persatuan, Menghargai Keberagaman di Auditorium Abdul Kahar Mudzakkir Kampus Terpadu UII, Selasa (14/1/2020). Foto : Philipus Jehamun/ Bernasnews.com.

Selain Sri Sultan Hamengku Buwono X, juga tampil sebagai pembicara dalam acara yang diadakan UII bekerja sama dengan Gerakan Suluh Kebangsaan dan Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Islam Swasta (BKS PTIS) se-Indonesia itu adalah Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Prof Dr Moh Mahfud MD, Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang, Jawa Tengah KH Mustofa Bisri (Gus Mus) dan Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Dr H Abdul Mu’ti M.Ed.

Menurut Sri Sultan HB X, saat kita membicarakan sebuah negara maka keberagaman adalah sebuah keniscayaan yang seharusnya kita hargai dan syukuri. Dan bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, yang beragam latar belakang suku, agama, ras dan golongan.

Hal ini digarisbawahi oleh KH Mustofa Bisri atau Gus Mus. Ia mengatakan bahwa keberagaman merupakan sunnatullah. Dengan demikian, menurut Gus Mus, mereka yang melawan keberagamana berarti melawan sunnatullah. Dan ini sangat disayangkan karena justru dilakukan oleh mereka yang mengaku beragama.

Mengkopolhukam Prof Dr Moh Mahfud MD (ketiga dari kanan), Sri Sultan Hamengku Buwono X (tengah), KH Mustofa Bisri alias Gus Mus (ketiga dari kiri), Rektor UII Fathul Wahid ST MSc PhD (kedua dari kanan) foto bersama usai membuka Dialog Kebangsaan di Auditorium Abdul Kahar Mudzakkir Kampus Terpadu UII, Selasa (14/1/2020). Foto : Philipus Jehamun/Bernasnews.com.

“Saya sepakat dengan apa yang disampaikan Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X bahwa keberagaman adalah adalah suatu keniscayaan, suatu yang fitra. Denan demikian, melawan keberagaman sama dengan melawan kehendak Tuhan dan itu sia-sia. Sangat aneh, berbeda sedkit marah, padahal perbedaan itu indah sekali,” kata Gus Mus.

Sementara Menkopolhukam Prof Dr Moh Mahfud MD mengatakan, keberagaman merupakan fakta yang tak bisa ditolak. Dan bangsa Indonesia merupakan negara besar yang terdiri dari 1.360 suku, 726 bahasa daerah, 17.504 pulau dimana 16.100 pulau di antaranya sudah punya nama dan 1.504 pula yang belum punya nama. Dan 17.504 pulau tersebut sudah terdaftar di PBB.

Dengan keberagaman suku, bahasa dan pulau tersebut, menurut Mengkopulhukam, tugas pemerintah adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.

Selain itu, pemerintah bertugas menjaga keutuhan bangsa dengan menghargai fakta bahwa kita itu memang beragam suku, bahasa, agama dan kepercayaan. “Negara ini harus ditangkal dari perpecahan. Oleh karena itu, paham radikal yang melawan atau menentang sistem negara yang sudah mapan harus dilawan,” kata Menkopolhukam.

Dikatakan, selama ini ada pihak yang mempersoalkan upaya pemberantasan paham radikal dengan alasan radikal itu baik dan positif karena upaya mengubah sesuatu dengan cepat. Namun, paham radikal yang ditolak adalah radikal yang jelek, yakni yang mengubah sistem yang sudah mapan dengan cara-cara kekerasan.

“Paham radikal yang ditolak adalah suatu sikap yang selalu menganggap orang lain salah dan ingin menyelesaikan suatu sistem yang mapan dengan cara kekerasan. Radikal yang ditentang itu dalam arti stipulatif, yakni arti yang sesuai UU,” kata Mahdud MD.

Rektor UII Fathul Wahid ST MSc PhD mengatakan, keberagaman merupakan fakta sosial atau bahkan sunnatullah. Dan kita diminta untuk mengadakan komunikasi untuk saling mengenal dan memahami satu sama lain sehingga muncullah persatun. “Persatuan harus diikhtiarkan, tidak hadir dengan sendirinya,” kata Fathul Wahid dalam sambutan pengantar dialog. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here