Home Opini Strategi Pemasaran Ritel di Era Normal Baru

Strategi Pemasaran Ritel di Era Normal Baru

8636
0
Dra Sri Rejeki Ekasasi MBA, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN Yogyakarta. Foto : Dok pribadi

BERNASNEWS.COM – Dengan dilonggarkannya peraturan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB), kita mulai memasuki era normal baru. Bukan hanya masyarakat luas yang diminta untuk menyesuaikan diri dengan kondisi ini, pebisnis pun harus menghadapi dengan protokol era normal baru.

Setelah berjuang melewati masa pandemi dengan penyesuaian strategi pemasaran untuk bertahan hidup (survival), banyak pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan dan diterapkan oleh pemasar, agar bisnisnya tetap berjalan dan tumbuh kembali (recovery and growth) dengan tatanan kehidupan normal yang baru.

Sama seperti di masa pandemi Covid-19, konsumen era normal baru juga memiliki beberapa ciri perubahan perilaku dalam berbelanja. Perilaku konsumen di era new normal dipengaruhi oleh kebiasaan yang sudah diterapkan selama masa pandemi, yang tidak jauh dari kewaspadaan terhadap penyebaran Covid-19.  Sehingga walaupun beberapa bisnis ritel dan mal sudah mulai beroperasi, akan tetapi tidak serta merta konsumen berbondong-bondong datang kesana. Bukan hanya karena kapasitas mal yang dibatasi dalam menerima pengunjung, tetapi juga karena konsumen masih takut akan tertular virus di tempat umum.

Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alexander Stefanus Ridwan, bulan lalu di awal masa era normal baru diberlakukan. Menurutnya, kondisi ini sama dengan apa yang dialami mal-mal di negara lain yang rata-rata hanya memperoleh 10 persen pengunjung dari kapasitas yang diizinkan pemerintah untuk dijalankan, karena konsumen masih was-was.

Selain itu protokol kesehatan yang harus dijalani apabila hendak keluar rumah, dengan memakai masker dan rajin cuci tangan, serta cek suhu badan membuat pengunjung enggan mengunjungi mal, kecuali bila benar-benar mendesak.  

Pada prinsipnya pola hidup di era new normal lebih menekankan pada kesehatan. Seperti yang dikatakan oleh Achmad Yurianto, Juru Bicara Pemerintah Percepatan Penanganan Covid-19 bahwa tatanan, kebiasaan dan perilaku yang berbasis pada adaptasi untuk membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat inilah yang kemudian disebut sebagai new normal. Hal ini membuat masyarakat masih menyukai belanja virtual dari rumah masing-masing yang bisa jadi lebih terjamin kebersihan dan kesehatannya.

Kondisi ini menjadi tantangan bagi bisnis ritel, baik yang berdiri sendiri maupun yang beroperasi di mal untuk menarik konsumen agar mau kembali bertransaksi secara offline. Apalagi di awal pandemi bisnis ritel mengalami hantaman paling berat dengan penurunan sebesar 80 persen untuk bisnis ritel pakaian dan 45 persen untuk ritel grocery.

Perilaku Belanja Era Normal Baru

Bila di era pandemi, karena PSBB, konsumen banyak melakukan kegiatan belanja dari rumah secara on-line, maka di era normal baru kebiasaan itu masih berlanjut. Hal ini mungkin dikarenakan tingkat kenyamanan yang sudah dicapai dengan pemenuhan kebutuhan tanpa harus bepergian, juga karena konsumen bisa berselancar ke berbagai toko atau penyedia kebutuhan mereka tanpa batas.

Kalau pun harus belanja secara offline, mereka memilih merencanakan pembeliannya sejak dari rumah, sehingga tidak ada waktu untuk hang-out di tempat belanja, seperti sebelum pandemi. Mereka menjadi lebih realistis dalam berbelanja, beralih dari memuaskan keinginan ke pemenuhan kebutuhan. Bahkan tak jarang mengabaikan merek, ketika tidak mendapati merek yang biasa di konsumsi di pasaran, karena pemasok belum beroperasi secara optimal. Merek generik yang dikeluarkan ritel pun mulai diminati, apalagi yang kualitasnya tidak jauh dari produk branded. Masa ini bisa menjadi kebangkitan bagi merek-merek lokal untuk bersaing dengan merek luar.

Produk-produk instant atau ready to cook dan ready to use, tetap menjadi pilihan bagi konsumen di era ini. Makanan beku dan microwaveable banyak diminati, begitu pula dengan produk-produk simpel dan praktis do-it-yourself lainnya, seperti produk bahan-bahan masakan yang bisa diolah sendiri di rumah. Produk lain yang masih akan menjadi primadona di era normal baru adalah produk farmasi dan produk kebersihan yang selama masa pandemi naik drastis sebesar 44 persen dan 33 persen.

Dalam hal jumlah, apabila melakukan pembelian dari rumah, konsumen membeli sesuai jumlah yang dibutuhkan tetapi sering. Ketika membeli secara offline, mereka cenderung membeli dengan cepat dan banyak sekaligus, serta tidak berombongan. Misalnya, untuk membeli makanan siap santap, apabila dilakukan secara online, konsumen akan membeli sedikit tetapi pesan berkali-kali. Apabila harus keluar rumah, mereka memilih gerai yang menyediakan fasilitas drive-through, dan apabila harus dine-in, mereka cenderung datang dengan jumlah orang yang sangat terbatas.

Untuk pelayanan dan pembayaran, konsumen di era normal baru lebih menyukai proses yang cepat dan aman. Mereka akan memilih penjual yang sudah terkenal kehandalan pelayanannya dan juga kemudahan transaksi keuangannya. Metode cashless atau non tunai menjadi budaya baru yang membuat kebutuhan akan layanan paylater atau e-wallet bertambah. Salah satu penyedia paylater, Kredivo, mengakui mengalami peningkatan hingga 42 persen sejak masa pandemi.

Secara garis besar, perilaku belanja konsumen di masa pandemi dan di era normal baru tidak jauh berbeda. Konsumen masih menekankan pada pelayanan berjarak yang bisa dilakukan secara cepat dan praktis penggunaan produknya, baik dilakukan melalui online maupun secara langsung di gerai offline. Perbedaan justru terjadi pada cara penjual melayani pembeli. Pelayanan masih harus tetap memperhatikan berbagai aturan protokol kesehatan dan mempertimbangkan perubahan perilaku beli konsumen yang sangat berbeda dengan kondisi sebelum pandemi.

Strategi Pemasaran Ritel

Memperhatikan perilaku konsumen di era new normal, beberapa strategi pemasaran dapat diadopsi oleh pengelola bisnis ritel, terutama untuk konsumen yang mencoba berbelanja langsung di gerai ritel. Yang pertama, informasikan konsep ‘new’ kepada pelanggan agar mereka tahu bahwa ritel Anda juga melakukan penyesuaian. Tunjukkan pula kepedulian pada kondisi yang sedang terjadi dengan program-progam bakti sosial dan peduli masyarakat.

Kedua, berani mengrubah layout toko agar proses pembelian menjadi lebih cepat, tetapi tetap aman dan nyaman. Pindahkan barang-barang kebutuhan sehari-hari dan barang-barang yang banyak dibutuhkan di era new normal ke bagian yang mudah di akses oleh pembeli. Sediakan keranjang belanja yang praktis dan higienis. Apabila memungkinkan bangun ban berjalan untuk membawa produk yang dibeli sampai di depan kasir. Beri label yang jelas dengan tulisan yang besar dan berwarna menyolok agar konsumen dapat melihat dari kejauhan, sehingga memudahkan untuk mengambil secara cepat dan tepat. Petunjuk penempatan barang pada rak juga harus besar dan jelas. Perubahan layout ini tidak hanya memudahkan pembeli yang datang berkunjung, tetapi juga memudahkan petugas pelayanan terhadap pembeli online

Ketiga, pilih karyawan yang benar-benar sehat dan handal dalam melayani konsumen di garda depan. Jadikan mereka shop-assistant yang akan mempercepat proses pembelian barang dan problem solver untuk membantu konsumen yang memiliki masalah untuk mengenali kebutuhannya, atau tidak bisa mendapatkan merek yang diinginkannya.

Keempat, sediakan fasilitas pembayaran yang praktis melalui kerjasama dengan penyedia jasa keuangan yang familiar dan terpercaya. Minimalkan kontak fisik pembayaran dengan uang tunai. Kelima, demi kenyamanan konsumen sediakan pula layanan online untuk pemesanan pra kunjungan, juga untuk konsumen yang lebih suka belanja virtual. Lengkapi dengan layanan delivery. Armada yang digunakan bisa ojek offline, atau penyedia transportasi dari masyarakat yang berada di sekitar toko.

Keenam, jaga hubungan dengan pelanggan melalui media sosial yang tersedia 24/7 untuk mengetahui kabar mereka, menginformasikan produk-produk baru, mengumumkan diskon dan rewards lain yang diinginkan konsumen. Buat komunitas untuk saling berbagi tips dan tricks kegiatan sehari-hari, seperti memasak, berkebun, parenting, pengobatan dan lain-lain.

Yang terakhir, jalin hubungan dengan pemasok mikro, jadikan sebagai mitra untuk melayani konsumen secara langsung. Pemasok sayur-mayur, telur, ayam, daging dan kebutuhan sehari-hari lainnya dapat diminta langsung mengantarkan produknya ke konsumen tanpa melalui gudang ritel. Hal ini memutus mata rantai perpindahan fisik yang mungkin beresiko, sekaligus menyediakan konsumen dengan produk-produk fresh dari petani. (Dra Sri Rejeki Ekasasi MBA, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN Yogyakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here