Sunday, May 22, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomeNewsSosiolog di Jogja Sebut Privatisasi Ruang Publik Memicu Aksi Kejahatan Jalanan

Sosiolog di Jogja Sebut Privatisasi Ruang Publik Memicu Aksi Kejahatan Jalanan

bernasnews.com – Salah satu sosiolog di Jogja menyebut aksi kejahatan jalanan yang dilakukan oleh sejumlah anak muda yang dikenal sebagai geng atau ‘klithih’ disebabkan karena efek keterbatasan ruang publik yang bisa mereka akses dan dijadikan ruang berekspresi secara bebas dan gratis.
 
“Aksi klithih oleh mereka adalah bentuk kekalahan masyarakat terhadap kapitalisme. Mengapa? Karena hampir seluruh ruang publik menjadi area privat, warga tidak memiliki ruang publik untuk  berekspresi, semua area berbayar jika warga ingin mengaksesnya,” kata Sosiolog Puji Qomariyaj, Sabtu (9/4/2022).

Dalam pernyataannya, wanita yang juga merupakan Wakil Rektor III Universitas Widya Mataram (UWM) itu menyatakan, keterbatasan ruang publik menyulitkan di mana para kawula muda untuk mengekspresikan diri. Alhasil, mereka memilih alternatif ruang berekspresi berupa jalan raya. Masalahnya, di jalan umum itu terjadi interaksi antarberbagai kelompok kawula muda dan elemen masyarakat lainya yang memilik latar belakang berbeda dan beragam.

Dia mengandaikan bila ruang publik yang bebas diakses tersebar di banyak tempat, maka para kawula muda bisa leluasa mengekspresikan diri secara beradab di dalamnya.

“Masyarakat yang kehilangan ruang publik menjadi agresif karena tidak bisa menyalurkan bakatnya. Ini menjadi tanda tentang kekalahan masyarakat terhadap kapitalisasi ruang publik. Bentuk kekalahan masyarakat terlihat pada ketidakmampuannya mempertahankan atau menyisakan ruang terbuka untuk ruang berekspresi bagi generasi muda,” katanya.

Ia menegaskan, ketika warga kehilangan ruang publik, maka kecenderungan mereka akan melakukan aksi sporadis, di berbagai tempat, dan berperilaku agresif. Sementara respon warga atas perilaku dimaskud sangat terbatas. Karenanya ia mengatakan bahwa solusi mengatasi masalah itu yakni dengan pemerintah daerah harus menyediakan banyak ruang publik, yang memungkinkan diakses secara gratis.

“Kehadiran pemerintah daerah sangat diperlukan untuk memainkan peran yang signifikan dalam mengatasi klithih dan pendekaan apa yang perlu diterapkan,” ujar Puji.

Pemerintah daerah perlu menyedikan fasilitas ruang publik yang bebas akses. Langkah demikian sebagai perlawanan dan antitesa terhadap kapitalisasi ruang sekaligus menghadirkan ruang untuk publik.

“Karakteristik lingkungan sangat berpengaruh terhadap perilaku manusia. Semakin kapitalis suatu lingkungan, maka semakin materialistis dan individulistis warganya, bahkan menjadi egoistis. Dari lingkungan egoistis dan tidak memiliki ruang publik klithih makin leluasa muncur dan melakukan aksi tidak menusiawi,” pungkasnya.

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments