Home Ekonomi Soal Hidden Debt, Yustinus Prastowo: Itu Bukan Utang Pemerintah

Soal Hidden Debt, Yustinus Prastowo: Itu Bukan Utang Pemerintah

103
0
Yustinus Prastowo, Staf Khusus Menteri Keuangan RI. Foto : Dok Pribadi

BERNASNEWS.COM – Staf Khusus Menteri Keuangan (Menkeu) Yustinus Prastowo memberikan penjelasan secara rinci dan detail sekaligus mengklarifikasi terkait isu hidden debt (utang tersembunyi) versi AidData. Menurut Yustinus Prastowo, hidden debt versi AidData tak dimaksudkan sebagai utang yang tak dilaporkan atau disembunyikan, melainkan utang nonpemerintah. Namun, jika terjadi wanprestasi maka beresiko nyrempet pemerintah.

Supaya jelas, saya klarifikasi sejak awal. Hidden debt versi AidData tak dimaksudkan sbg utang yg tak dilaporkan atau disembunyikan, melainkan utang nonpemerintah tapi jika wanprestasi berisiko nyrempet pemerintah. Jadi di titik ini kita sepakat, ini bukan isu transparansi,” tulis Yustinus Prastowo dikutip Bernasnews.com di akun twitternya @prastowo yang diunggah pada Jumat, 15 Oktober 2021.

Hal itu disampaikan Yustinus Prastowo menanggapi isu hidden debt atau utang tersembunyi dari China versi AidData yang lagi ramai dibincangkan. Yustinus merasa perlu menjelaskan hal itu agar tidaak simpang siur dan terang sehingga ia perlu menjelaskan duduk persoalannya. Sebab informasi yang disampaikan kurang tepat dan rawan digoreng hingga gosong. Padahal itu bukan utang pemerintah tapi dikait-kaitkan.

Menurut Yustinus Prastowo, utang tersebut dihasilkan dari skema Business to Business (B-to-B) yang dilakukan dengan BUMN, bank milik negara, Special Purpose Vehicle, perusahaan patungan dan swasta. Dan utang BUMN tidak tercatat sebagai utang pemerintah dan bukan bagian dari utang yang dikelola pemerintah.

Demikian juga utang oleh perusahaan patungan dan swasta tidak masuk dalam wewenang pemerintah, sehingga jika pihak-pihak tersebut menerima pinjaman, maka pinjaman ini sepenuhnya menjadi tanggungjawab mereka. Meski demikian, tata kelola kita kredibel dan akuntabel soal ini.

Dikatakan, penarikan Utang Luar Negeri (ULN) yang dilakukan oleh pemerintah, BUMN, dan swasta tercatat dalam Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI). SULNI disusun dan dipublikasikan secara bulanan oleh Bank Indonesia bersama Kementerian Keuangan. “Clear dan transparan,” kata Yustinus.

Menurut Yustinus, berdasarkan data SULNI per akhir Juli 2021, total ULN Indonesia dari China sebesar USD 21,12 miliar, terdiri dari utang yang dikelola pemerintah sebesar USD 1,66 miliar (0,8 persen dari total ULN pemerintah), serta utang BUMN dan swasta dengan total mencapai USD 19,46 miliar.

Dengan demikian, menurut Yustinus, dalam konteks Indonesia, tidak tepat jika terdapat ULN (termasuk pinjaman China) yang dikategorikan sebagai hidden debt. Semua ULN yang masuk ke Indonesia tercatat dalam SULNI dan informasinya dapat diakses oleh publik. “Tak ada yang disembunyikan atau sembunyi-sembunyi,” tegas Yustinus.

Sementaraa terkait utang BUMN yang dijamin, menurut Yustinus, utang ini dianggap kewajiban kontinjensi pemerintah. Kewajiban kontinjensi tersebut tidak akan menjadi beban yang harus dibayarkan pemerintah sepanjang mitigasi risiko default dijalankan. Ini yang terjadi saat ini: zero default atas jaminan pemerintah.

Kewajiban kontinjensi memiliki batasan maksimal penjaminan oleh pemerintah dengaan batas maksimal pemberian penjaminan baru terhadap proyek infrastruktur yang diusulkan memperoleh jaminan pada 2020-2024 sebesar 6 persen terhadap PDB 2024.

Dengan tata kelola seperti ini, menurut Yustinus, mitigasi risiko dilakukan sedini mungkin dan tidak akan menjadi beban pemerintah, apalagi beban yang tak terbayarkan. “Jadi sekali lagi, tak perlu dikhawatirkan sepanjang dikaitkan dengan pemerintah. Mari terus semangat dan berkolaborasi untuk negeri,” kata Yustinus.

Meski demikian, menurut Yustinus, pemerintah mengapresiasi siapa pun yang punya concern pada tata kelola pemerintahan yang baik, termasuk utang. “Mohon terus didukung dan dikritisi. Banyak pelajaran dari negara lain bisa dipetik, kita tingkatkan kewaspadaan dan tetap optimis. Salam Indonesia!,” ujar Yustinus Prastowo. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here