Tuesday, May 17, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomePendidikanSMP Negeri 10 Yogyakarta Mantapkan Budaya Literasi Sekolah

SMP Negeri 10 Yogyakarta Mantapkan Budaya Literasi Sekolah

BERNASNEWS.COM – Budaya literasi sekolah menjadi bagian tidak terpisahkan bagi peningkatan kualitas pendidikan dan kualitas warga sekolah yakni guru, siswa, dan karyawan. Oleh karena itu, SMP Negeri 10 Yogyakarta memantapkan diri untuk terus mengembangkan budaya literasi sekolah dengan belajar dan berkarya literasi lebih baik.

“Kami mengucapkan selamat atas terbentuknya KPG Hayam Wuruk 11 Yogyakarta dan berterima kasih memperoleh kesempatan safari literasi guru di sini. Bahkan sekolah ini ditetapkan sebagai sekretariat komunitas penulis guru ini. Semoga hal ini memberikan kesadaran baru bagi kami dan mendorong semangat untuk belajar dan berkarya literasi warga sekolah di sini. Menulis itu akan lebih mudah kalau biasa dilakukan dan didukung dengan sarana teknologi,” kata Kepala SMP Negeri 10 Yogyakarta Edy Thomas Suharta SPd MPd ketika membuka Safari Literasi Guru dari Komunitas Penulis Guru (KPG) Hayam Wuruk 11 Yogyakarta, di sekolah setempat, Jalan Tritunggal Yogyakarta, Rabu (26/1/2022).

Tampil sebagai narasumber acara ini Pegiat Literasi YB Margantoro yang mengajak para guru setempat untuk lebih semangat berkarya literasi. Dengan memiliki semangat lebih dan telah berkarya tulis, guru akan lebih mudah mengajak para siswa untuk melakukan hal yang sama di kegiatan literasi sekolah.

Kepala SMP Negeri 10 Yogyakarta Edy Thomas Suharta SPd MPd menerima buku dari narasumber Safari Literasi Guru KPG Hayam Wuruk 11 Yogyakarta YB Margantoro di ruang kelas setempat, Jalan Tritunggal Yogyakarta, Rabu (26/1/2022). Turut mendampingi Ketua KPG Ponijo, SPd dan Sekretaris KPG Niken Amri Amaniah S.Ag. Foto : Kiriman YB Margantoro

Sedangkan Ketua KPG Ponijo, SPd dan Sekretaris KPG Niken Amri Amaniah, SAg berharap agar guru setempat tertarik untuk bergabung dalam KPG dan aktif berkarya literasi bersama guru sekolah lain. Selain guru setempat, hadir sejumlah guru anggota KPG antara lain Martini, Ambarwati, Ares Brilatin, Ade Rohana, Parjiyati, Trina Indriyani.

Kesulitan Bahasa Jawa

Pada acara diskusi, peserta safari literasi guru diminta untuk mengisahkan secara singkat asyiknya mengampu mata pelajaran (mapel) masing-masing di sekolah.

Pengampu mapel Bahasa Jawa Endang Sri Suparningsih mengemukakan, anak-anak zaman sekarang di keluarga masing-masing secara umum tidak pernah diajari  berbahasa Jawa. Akibatnya, mereka tidak dapat menggunakan bahasa Jawa pada waktu berbicara dengan orang lain. Ada anak yang sudah mampu berbicara pun, tidak tahu artinya. Hal ini kadang membuat lucu dan ketawa orang.

“Di keluarga yang orangtuanya sibuk dan tidak dapat berbahasa Jawa, tentu juga tidak dapat mengajari anaknya bahasa Jawa. Di sinilah tantangan para guru bahasa Jawa dan kita semua supaya bahasa Jawa tidak hilang penuturnya,” kata dia.

Guru inklusi Melinda Hertha Rachmawati mengatakan, menjadi guru inklusi itu sebuah tantangan yang baru baginya. Yakni bertemu dengan siswa-siswa yang memiliki keistimewaan.

“SMP Negeri 10 Yogyakarta merupakan sekolah pelaksana pendidikan inklusi. Sekolah yang menyediakan dan memberikan wadah untuk menyetarakan siswa regular dengan siswa berkebutuhan khusus agar dapat belajar bersama tanpa memandang perbedaan,” kata dia. (*/lip)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments