Home News Sinkronisasi Kebijakan Perubahan Iklim Negara Maju dan Miskin Penting

Sinkronisasi Kebijakan Perubahan Iklim Negara Maju dan Miskin Penting

47
0
Presiden Jokowi pada pertemuan CEOs Forum dengan beberapa investor besar asal Inggris di Glasgow, pada Senin 1 November 2021. Foto: BPMI Sekretariat Presiden

BERNASNEWS.COM – Presiden Joko Widodo mengingatkan pentingnya sinkronisasi kebijakan antara negara maju dan berkembang mengenai perubahan iklim. Indonesia telah menunjukkan langkah konkret dalam hal pengendalian iklim. Laju deforestasi Indonesia saat ini yang paling rendah selama 20 tahun, tingkat kebakaran hutan berkurang 82 persen. Indonesia juga akan melakukan restorasi sebesar 64 ribu hektare lahan mangrove. Ini sangat penting karena mangrove menyimpan karbon 3-4 kali lebih besar dibandingkan lahan gambut.

“Kita semua, termasuk negara-negara maju, harus menunjukkan langkah lebih konkret dalam hal pengendalian iklim, terutama dalam hal dukungan pendanaan untuk negara-negara berkembang dalam melakukan transisi energi dari fossil fuel ke renewable energy,” kata Presiden Jokowi pada pertemuan CEOs Forum dengan beberapa investor besar asal Inggris di Glasgow, pada Senin 1 November 2021.

Dalam akun twitternya @jokowi, Presiden Jokowi mengatakan dalam pertemuan tersebut, ia menekankan pembahasan pada investasi di bidang ekonomi hijau. Ia menggambarkan secara umum kebijakan pengendalian perubahan iklim Indonesia yang juga mencakup transisi menuju green economy.

Saya bertemu dalam CEOs Forum para pemimpin perusahaan terkemuka Inggris sebelum menghadiri KTT COP26 di Glasgow, tadi malam. Saya mengapresiasi komitmen investasi perusahaan Inggris ke Indonesia sebesar USD9,29 miliar. Indonesia siap menjadi mitra yang baik bagi investasi itu,” cuit Presiden Jokowi dikutip Bernasnews.com di akun twitternya.

Itu sekitar 132 Trilyun…saya sudah kehabisan kata tuk Panjenengan Pak…hanya do’a kiranya Tuhan selalu Memberkati dalam setiap langkah Panjenengan…Aminn,” komentar Maspun di akun twitter @Maspunk8686 mengomentari nilai komitmen investasi dari perusahaan Inggris sebesar 9,29 miliaar dollar AS.

Presiden mengharapkan bahwa pendanaan adaptasi sebesar USD 100 miliar dari negara maju harus segera dipenuhi guna mempercepat upaya penanganan perubahan iklim.“Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia telah menunjukkan langkah konkret dalam hal pengendalian iklim. Laju deforestasi kita saat ini yang paling rendah selama 20 tahun, tingkat kebakaran hutan berkurang 82 persen. Indonesia juga akan melakukan restorasi sebesar 64 ribu hektare lahan mangrove. Ini sangat penting karena mangrove menyimpan karbon 3-4x lebih besar dibandingkan lahan gambut,” kata Presiden dalam siaran pers Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden yang diterima Bernasnews.com, Selasa 2November 2021.

Karena itu, Presiden percaya bahwa Indonesia akan dapat memenuhi komitmen pada tahun 2030 di dalam Paris Agreement, yaitu pengurangan emisi sebesar 29 persen secara unconditional.“Indonesia telah mengadopsi Strategi Jangka Panjang Rendah Karbon dan Ketahanan Iklim 2050, serta road map yang detail untuk mencapai target net zero emission pada 2060 atau lebih awal,” ujar Presiden.

Dalam pertemuan itu, Presiden menyampaikan bahwa isu yang dihadapi dunia adalah bagaimana dunia bisa segera mengatasi pandemi Covid-19 sehingga pemulihan ekonomi dunia bisa berjalan lebih cepat. Kepala Negara menjelaskan bahwa saat ini, kondisi Covid-19 di Indonesia sudah sangat membaik.

“Jumlah kasus harian sudah turun sangat jauh dari puncaknya 56ribuan kasus di 15 Juli 2021 menjadi hanya sekitar 400-700 kasus dalam minggu-minggu terakhir ini. Indonesia juga sudah menyuntikkan lebih 187 juta dosis vaksin. Dan sampai dengan akhir tahun lebih dari 50 persen penduduk Indonesia sudah akan menerima dosis 2,” kata Presiden.

Turut hadir mendampingi Presiden dalam pertemuan tersebut Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menteri BUMN Erick Thohir, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimulyono, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Duta Besar Republik Indonesia untuk Inggris Desra Percaya, Ketua Umum KADIN Arsjad Rasjid. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here