Home News Shelter Syantikara Menyediakan 82 Kamar Gratis untuk Isolasi Mandiri

Shelter Syantikara Menyediakan 82 Kamar Gratis untuk Isolasi Mandiri

282
0
Shelter Syantikara di Jalan Kolombo CT VII/001 Caturtunggal, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, DIY. Foto : Istimewa

BERNASNEWS.COM – Shelter Syantikara di Jalan Kolombo CT VII/001 Caturtunggal, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, DIY, menyediakan 82 kamar secara gratis untuk isolasi mandiri (isoman) bagi mereka yang terkonfirmasi positif COVID-19 tanpa gejala dan pasien terkonfirmasi positif COVID19 dengan gejala ringan yang masih bisa beraktivitas secara normal.

Setiap kamar bisa digunakan oleh 2 orang atau ada 2 tempat tidur tiap kamar. Menurut rencana pada 1 Agustus 2021 mulai menerima pasien yang akan isolasi mandiri di Shelter Syantikara.

Shelter Syantikara disediakan untuk memisahkan warga yang sehat dan yang sakit, mengurangi beban rumah sakit dan anggaran negara, diutamakan tenaga kesehatan yang memerlukan tempat isolasi mandiri dalam lingkungan jejaring Rumah Sakit CB di DIY dan masyarakat sekitar yang memiliki keterbatasan fasilitas/sarana/prasarana untuk isolasi mandiri di rumah, keterbatasan sosial ekonomi dan yang berkesesakan hidup.

Sr Yustiana CB sebagai Provinsial Kongregasi CB (Carolus Boromeus) seperti dikutip Sr Birgitta Diah Juliati CB dari Bidang Kesekretariatan Shelter Syantikara dalam rilis yang dikirim kepada Bernasnews.com pada Selasa, 20 Juli 2021, mengatakan, Shelter Syantikara dibuka berawal dari keprihatinan Uskup Keuskupan Agung Semarang (KAS) Mgr Robertus Rubiyatmoko atas semakin merebaknya warga yang terjangkit virus corona.

Akibatnya, rumah sakit maupun pelayanan kesehatan kewalahan menampung pasien, sehingga banyak pasien kesulitan mendapatkan akses dalam pelayanan kesehatan karena virus corona demikian cepat menjalar di masyarakat.

Karena itu, Mgr Robertus Rubiyatmoko mengajak para pimpinan Kongregasi dan Tarekat di KAS untuk menanggapi keprihatinan ini. Sr Yustiana CB sebagai Provinsial Kongregasi CB pun segera bertindak dan memutuskan Rumah Pembinaan Carolus Borromeus (RPCB) Syantikara dijadikan shelter untuk menampung pasien-pasien yang kesulitan mendapatkan tempat untuk isolasi mandiri maupun mereka yang seharusnya dirawat di rumah sakit.

Kemudian Sr Yustiana CB menggandeng Pimpinan Yayasan Panti Rapih (YPR) Ir Ambrosius Koesmargono dan Pimpinan Yayasan Syantikara (YS) Drs P Didit Krisnadewara dan Sr Krispiani Sukarwati CB untuk mewujudkan harapan ini. Bersama para Pimpinan Unit Karya RS di bawah naungan Yayasan Panti Rapih dibentuklah panitia dimana Drg Triputro Nugroho M.Kes (Dirut RS Panti Rapih) sebagai Ketua I dan dr Y Agus Wijanarko M.Kes (Direktur RS Panti Rini) sebagai Ketua II.

Para suster CB dan para pimpinan Unit Karya YPR dan YS segera bertindak dan menyiapkan RPCB Syantikara sebagai shelter untuk isolasi mandiri. Persiapan shelter diawali dengan ibadat singkat pada 20 Juli 2021 dipimpin Romo Vikep Yogyakarta Timur Romo Adrianus Maradiyo Pr dan tamu undangan terbatas.

Drs P Didit Krisnadewara selaku penanggung jawab Shelter Syantikara mengatur penggunaan kamar tidur yang bisa digunakan untuk 2 orang. Sirkulasi udara masing-masing paviliun cukup baik, dilengkapi dengan fasilitas kamar mandi, area mencuci dan menjemur pakaian, alat pemantau kesehatan mandiri berupa pengukur tekanan darah digital, termometer dan oksimeter termasuk pemenuhan asupan dan gizi.

“Peserta/pasien isolasi mandiri tidak dipungut biaya. Pasien bisa berkonsultasi pada penanggung jawab layanan melalui WhatsApp,” tulis Sr Birgitta Diah Juliati CB dalam rilisnya.

Ketua Gugus Tugas Shelter Syantikara Drg V Triputro Nugroho M.Kes berharap agar keberadaan Shelter Syantikara tersebut dapat menjawab kebutuhan tempat isolasi mandiri yang aman, penanganan yang lebih baik bagi pasien terkonfirmasi positif COVID-19 tanpa gejala dan pasien terkonfirmasi positif COVID19 dengan gejala ringan yang masih bisa beraktivitas secara normal.

Sejak dibentuk awal Juli 2021, Tim Gugus Tugas Shelter Syantikara telah melakukan koordinasi dengan beberapa pihak terkait antara lain Padukuhan Sagan, Padukuhan Samirono, Puskesmas Depok, Koramil Depok, Kapolsek Bulaksumur, Kecamatan Depok dan Kelurahan Caturtunggal.

Shelter Syantikara sudah mendapatkan izin dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman. Pasien yang akan menghuni Shelter Syantikara diharapkan untuk memeriksakan diri ke Puskesmas Depok 1, Puskesmas Depok 2 atau Puskesmas Depok 3 karena shelter ini berada di wilayah Kecamatan Depok. Jika hasil pemeriksaan menyatakan bahwa pasien termasuk Orang Tanpa Gejala (OTG) atau bergejala ringan dan masih bisa beraktivitas normal, namun mengalami kendala dan keterbatasan isolasi mandiri di rumah, maka pihak puskesmas akan menghubungi Shelter Syantikara.

Sementara jika terjadi penurunan kondisi selama menjalani isolasi mandiri, pasien akan dirujuk ke Rumah Sakit Rujukan COVID-19 untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Minimal waktu menjalani isolasi mandiri selama 10 hari dan atau sudah dinyatakan sehat oleh dokter berupa penerbitan Surat Keterangan Selesai Isolasi.

Untuk menunjang pelayanan yang baik dan aman, Shelter Syantikara juga mengundang para relawan untuk bergabung dan menjalankan misi belarasa ini dengan melibatkan jejaring CB yang ada. Para relawan yang secara pribadi bergabung ini berasal dari berbagai institusi jejaring CB yaitu Srikandi Lintas Iman, Gusdurian, Solidaritas Perempuan, UIN, UNY, UAJY, USD, dan para alumni.

Pada tahap pertama ada 108 orang relawan. Mereka disatukan dalam keprihatinan yang sama untuk berbelarasa dan ambil bagian untuk Indonesia Sehat. Supaya dapat memberikan pelayanan dengan baik dan aman, Tim Gugus Tugas dan relawan menerima pembekalan serta bimbingan teknis secara luring dan daring yang dilakukan secara maraton selama empat hari sejak 15 Juli 2021. Pembekalan dilakukan oleh RS Panti Rapih Yogyakarta dan SONJO. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here