Home News Serbia Belajar Toleransi dari Indonesia

Serbia Belajar Toleransi dari Indonesia

54
0
Mr Isihije Rogić, Serbian Orthodox Bishop of Mohač (belakang mengenakan topi) foto bersama Rektor UII Fathul Wahid (di depan Isihije serta para delegasi di sela-sela kegiatan The 4th Indonesia-Serbia Bilateral Interfaith Dialogue (ISBID) di Gedung Perpustakaan Pusat, Kampus Terpadu UII, Kamis (24/10). Foto : Humas UII

BERNASNEWS.COM — Kemajemukan suatu bangsa tidak akan membuat bangsa tersebut terpecah belah. Hal ini telah dibuktikan oleh Bangsa Indonesia yang memiliki ribuan suku, bangsa, bahasa dan setidaknya ada 6 agama yang berbeda yang telah diakui dan tetap hidup berdampingan dengan rukun, damai dan toleran. Dengan demikian, apabila dikelola dengan baik, kemajemukan justru menjadi bukti otentik keunikan dan kekuatan pendorong kemajuan suatu bangsa.

Hal inilah yang menjadi fokus diskusi Public Lecture dalam rangkaian kegiatan The 4th Indonesia-Serbia Bilateral Interfaith Dialogue (ISBID) yang diadakan di Gedung Perpustakaan Pusat, Kampus Terpadu UII, Kamis (24/10). UII mendapat kepercayaan sebagai fasilitator acara karena dinilai menjadi kampus yang intens menyuarakan moderasi Islam dan dialog antar komunitas.

“Masih banyak hal yang harus dipelajari dari saudara-saudari kami di Indonesia. Kami (Serbia) masih terbilang muda terkait partisipasi dan kerja sama antar institusi,” ujar Mr Isihije Rogić, Serbian Orthodox Bishop of Mohač yang membahas hubungan kerja terkait apa yang sudah tercapai dan apa yang jadi capaian di masa depan, seperti dikutip Rifqi Sasmita Hadi SE, Staf Humas Rektorat UII, dalam rilis yang dikirim kepada media, termasuk Bernasnews.com, Jumat (25/10/2019). Rangkaian dialog antaragama seri keempat ini adalah bukti kerja sama sinergis yang konsisten antara Indonesia dan Serbia.

Para peserta diskusi Public Lecture dalam rangkaian kegiatan The 4th Indonesia-Serbia Bilateral Interfaith Dialogue (ISBID) foto bersama di Gedung Perpustakaan Pusat, Kampus Terpadu UII, Kamis (24/10). Foto : Humas UII

Sementara Deputy of Reisul-Ulema of the Islamic Community of Serbia and Mufti of Serbia Prof Dr Abdullah Numan yang mengulas perkembangan multikulturalisme dan kerja sama antar agama, mengatakan, bahwa untuk bisa hidup berdampingan di tengah-tengah perbedaan, legalitas konstitusional perlu dipertimbangkan dengan matang.

“Di Indonesia, contohnya adalah Pancasila. Sila pertama mengutamakan dan mempersilahkan masyarakat untuk memilih kepecayaannya,” kata Abdullah.

Selain itu, tidak ada agama yang mengajarkan kebencian, agama mengajarkan kasih sayang dan cinta. “Tidak ada paksaan dalam memilih agama. Kami bisa menuntut kuda ke kubangan air, tetapi kami tidak bisa memaksa untuk meminumnya,” tuturnya.

Sementara Dr Ferid Bulić, Assistant Director in the Department for Interfaith Dialogue, Ministry of Justice – Administration for Cooperation with Churches and Religious Communities menjabarkan hak-hak beragama di Serbia dan dialog antar agama. “Di Serbia ada 7 agama tradisional yang diakui,” kata Ferid seraya menambahkan bahwa keterbukaan dalam ranah konstitusi, terkhusus bidang agama, sangat penting.

Rektor UII Fathul Wahid ST MSc PhdD (kiri) dan Mr Isihije Rogić, Serbian Orthodox Bishop of Mohač (kanan) saling tukar cinderamata, Kamis (24/10/2019). Foto : Humas UII

Wakil Rektor Bidang Networking & Kewirausahaan UII Ir Wiryono Raharjo M.Arch Ph.D., yang hadir sebagai pembicara keempat mengatakan bahwa kegiatan dialog ini menghadirkan dampak positif baik bagi relasi ataupun mahasiswa yang dilanjutkan dengan capaian dan kegiatan mendatang.

Selain empat pembicara yang diundang, juga hadir di tengah-tengah audiens Duta Besar Indonesia untuk Serbia Mochammad Chandra Widya Yudha. Bersama dengan mahasiswa Serbia yang sedang menjalani program studi di Indonesia, ia mengapresiasi adanya kegiatan ini serta menghimbau untuk menjalin relasi antar mahasiswa dan mempelajari perbedaan budaya yang ada.

“Indonesia sebagai negara yang menjunjung tinggi nilai toleransi bahkan telah diakui dunia. Indonesia pernah menjadi tuan rumah United Nations Alliance of Civilizations (UNAC) yang diselenggarakan di Bali pada Agustus 2014,” katanya.

Mengutip dari Hendardi (2018), Indeks Kota Toleran (IKT) tahun 2018 menunjukan bahwa menghadirkan 10 kota paling toleran di Indonesia bertujuan untuk mempromosikan dan menghadirkan role model untuk ditiru oleh kota lain di Indonesia.

Pada akhirnya perbedaan agama menemukan titik temu di tengah-tengah legalitas konstitusi. Diperlukan keterbukaan sudut pandang dan dialog antar pemuka agama untuk mencapai pemahaman komprehensif terkait nilai-nilai yang disepakati.

“Agama mengajarkan tentang cinta dan kasih sayang. Bukan waktunya lagi untuk saling menyalahkan, tunjukkan bahwa cinta lebih banyak dari pada kebencian,” kata Abdullah mengakhiri sesi tanya jawab. (*/lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here