Sunday, May 22, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomePendidikanSeminar Tembung, Tembang, Tandhang di ISI Surakarta, Narasumber Presentasi Sambil Menari

Seminar Tembung, Tembang, Tandhang di ISI Surakarta, Narasumber Presentasi Sambil Menari

bernasnews.com – Menyongsong World Dance Day (Hari Tari Sedunia) 29 April 2022, Jurusan Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta mengadakan Seminar Nasional Tembung,Tembang, Tandhang dengan narasumber Dr. Daryono, S.Kar., M.Hum., Dra. Daruni, M.Hum., Dr. Guh S. Mana Feat Enno Dance, dan Galih Seno, S.Sn., M.Sn.

Acara disiarkan secara live di kanal youtube ISI Surakarta dan Hari Tari Dunia ISI Surakarta dari Pendapa GPH Joyokusuman, ISI Surakarta, Kamis (28/4/2022) pukul 15.00 WIB – selesai.

Diperoleh keterangan, seminar ini diselenggarakan atas dasar pemahaman mengenai pentingnya peran penari dalam menghadirkan karya tari. Penari yang dimaksud, selain memiliki ketubuhan bagus juga memiliki kemampuan dalam kecerdasan visual, olah vokal, dan akting atau penari aktor plus (+). Pada dasarnya, penari aktor plus penari adalah pencipta.

 Oleh karena itu, Jurusan Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Surakarta membuat sebuah model seminar dengan gaya penari aktor. Dalam hal ini, para narasumber dan penanggap menyampaikan presentasi dalam bentuk paparan, nyanyian, dan presentasi bentuk lainnya sambil bergerak (menari) atau body expression.

Cuplikan kisah tubuhku

Narasumber Dra Daruni, M.Hum dari ISI Yogyakarta dalam kesempatan ini memulai nembang dalam presentasi bertajuk Tembung, Tembang dan Tandang (Cuplikan Kisah Tubuhku).

Maturnuwun/ Pun dhawuhi, dados tamu/ Ing Pahargyan Rejo / Sedaya sami basuki/ Nyuwun idin, kawula atur sepala.

Bicara tentang tubuhku mengalami, Daruni mengemukakan, memori tubuh adalah hipotesis bahwa tubuh itu sendiri mampu menyimpan ingatan, bukan hanya otak. Persepsi, kesadaran tubuh melalui indera, pemeragaan memori kolektif; dokumenter; situs memori; partisipasi; pertunjukan; peragaan ulang.

 “Memori tubuh hanya dapat dipertahankan jika dilakukan, dipraktikan, diulang,” kata dia.

Daruni berpendapat, tubuh itu bagai sebuah container. Ketika masa kecil, tubuh anak-anak diisi “tarian” anak-anak, tari Gaya Surakarta (Bondan, Gambiranom, dan lain-lain). Ketika remaja, ada tari Kreasi Baro Bagong Kusudiardjo, Ngedance (Cha-cha,Jive, dan lain-lain). Kemudian ketika dewasa, kurikulum KONRI plus masuk anggota Bengkel Tari Nini Thowok dengan karya tari Nini Thowok, Inspirasi Kreatif Gending karya Ki Narto Sabdo dengan memerankan boneka Nini Thowok.

“Dalam tubuh bagai sebuah container, memiliki pengalaman belajar aneka gaya tari Bali, Sunda, Jawa – secara kultural Gaya Yogyakarta dan Gaya Surakarta, kemudian Banyumasan, Jawa Timuran. Master class, workshop di India, China, Afrika, Barsil, jazz, tap dance, dan lain-lain,” kata dia.              Kemudian dari tembang atau lagu tercipta tandang. Maka Daruni pun menyampaikan lelagon Nini Thowok. Rame gugup wanci surup Nini e manggut-manggut/ Siwur direka-reka sandhangane kaya wong duwe nyawa/ Ditaleni setagene, siwur sing disendhal-sendhal/ Rame-rame alok-alok ambeda Nini Thowok/Nini Thowok, Bocahe kae oyaken….(mar)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments