Home News Seminar Kebangsaan ALFIN Jogja: Menangkal Paham Radikalisme dan Terorisme

Seminar Kebangsaan ALFIN Jogja: Menangkal Paham Radikalisme dan Terorisme

529
0
The Al-Falah Institute (ALFIN) Yogyakarta menggelar Seminar kebangsaan bertajuk Deradikalisasi Agama: Menangkal Pemahaman Keagamaan Teroris, Senin (30/12/2019). Foto: Istimewa

BERNASNEWS.COM — The Al-Falah Institute (ALFIN) Yogyakarta menggelar Seminar kebangsaan bertajuk Deradikalisasi Agama: Menangkal Pemahaman Keagamaan Teroris, Senin (30/12/2019), di Teatrikal Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Tujuan seminar ini sebagai upaya counter narasi radikal yang saat ini marak bertebaran, serta sebagai upaya menangkal pemahaman dangkal keagamaan para teroris. Juga untuk menyambut tahun baru dengan semangat yang baru dalam menjalani kehidupan bermasyarakat. Demikian penjelasan oleh panitia penyelenggara melalui keterangan tertulis yang dikirim ke redaksi Bernasnews.com beberapa waktu lalu.

Dosen ICRS UGM Dicky Sofjan, menyampaikan, mencuatnya orang-orang radikal di Indonesia ditengarai karena beberapa faktor salah satunya kemampuan critical thinking yang rendah, kurangnya memahami ‘realitas’ dan tidak terima terhadap kondisi riil dunia. Kemudian adanya Infleksibilitas dalam berpikir (cognitive inflexibility).

Kondisi bangsa kita saat ini, masyarakat begitu mudahnya termakan hoax, sekitar 62-65% sukar membedakan berita hoax. Narasi hoax mampu mengkonstruksi sikap-sikap radikal karena konsumsi informasi yang tidak benar. “Untuk itu, diperlukan upaya counter narasi terhadap narasi radikal yang massif dengan narasi moderasi. Kemudian hilangnya dalam pendidikan keagamaan kita tentang cara menghormati harkat dan martabat kemanusiaan, padahal hal ini merupakan inti dari filosofi pendidikan,” ungkap Dicky.

Sementara, pengasuh Pesantren Islamic Centre Bin Baz Ustadz Abu Nida, mengatakan, orang radikal itu muncul karena mereka banyak yang salah memahami teks agama, sehingga mudah sekali mengkafirkan orang lain yang berbeda paham dengannya. Padahal dalam Islam sendiri, untuk mengkategorisasikan kafir itu tidak mudah dan serta merta mudah karena orang itu menjalankan suatu manhaj yang berbeda. Oleh karena itu, sikap radikal ini kemudian juga menelurkan para teroris.

Nara sumber seminar dan moderator seminar. (Foto: Isimewa)

Berbeda dengan Abu Nida, Waryono, pengajar Tafsir di UIN Sunan Kalijaga, menuturkan, munculnya orang radikal karena basis pemahaman keislaman yang kurang komprehensif. Tafsir mereka terhadap agama hanya dalam satu perspektif saja, padahal sangat banyak produk tafsir yang muncul dalam khazanah Islam.

“Prof. Quraish Shihab saja untuk menafsirkan Surat Al-Maidah, ayat 51 membutuhkan bacaan sekitar 40-an lebih buku-buku tentang tafsir. Kita membaca dan menafsirkan satu ayat saja, seolah-olah sudah punya otoritas untuk menafsirkan dan mengklaim orang lain salah,” terang Waryono.

Al-Quran diturunkan sejatinya untuk memanusiakan manusia, menurut tesis Waryono, hal ini bisa dilihat Al-Quran diawali oleh surat Al-Fatihah dan diakhiri surat An-nas (manusia) bukan surat Al-Mukminun (orang-orang mukmin). “Hal ini merupakan pesan bahwa dalam beragama kita jangan hanya mementingkan Teosentris (tuhan), tetapi juga perlu mengaktualisasikan Antroposentris (kemanusiaan),” tegasnya. (*/ ted)   

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here