Home Opini Semangat Kuliah Daring, Kenapa Tidak?

Semangat Kuliah Daring, Kenapa Tidak?

242
0
Muhammad Syah Tegar Alreswara, Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas AMIKOM Yogyakarta. (Foto: Dok. Pribadi)

BERNASNEWS.COM — Hadirnya pandemi Covid-19 sejak bulan Maret tahun lalu, memaksa beberapa kegiatan yang bersifat berkumpul di suatu tempat dihentikan sementara. Salah satunya ialah kegiatan mengajar di sekolah maupun kuliah. Kegiatan Mengajar dalam jaringan (Daring) menjadi salah satu alternatif agar kegiatan mengajar tetap terlaksana.

Awalnya kegiatan sekolah atau kuliah daring ini mendapat respon positif. Tetapi seiring berjalannya waktu, sekarang kita dapat mendengar banyak sekali keluh kesah dari beberapa siswa yang merasa kegiatan sekolah atau kuliah semakin menjemukan. “Duh, kuliah daring awalnya aja seru, lama-lama kok membosankan, ya?”, “Ah, selama kuliah daring aku gak dapet ilmu apa-apa”, “Kuliah daring cuma ngabisin kuota aja.”. Itulah beberapa gumaman dari beberapa teman-teman saya yang pernah saya dengar.

Mereka berpendapat bahwa kuliah daring ini tidak membuahkan hasil yang memuaskan dan lebih memilih untuk kuliah regular di kelas. Tentu tidak sedikit siswa maupun mahasiswa yang sependapat dengan keluhan-keluhan di atas. Pihak sekolah dan universitas pun juga sudah memberikan beberapa keringanan yang diharapkan bisa membantu para siswa agar kegiatan pembelajaran tetap berlangsung lancar.

Kuota Belajar, Potongan SPP, Subsidi Biaya Praktek dan berbagai bantuan finansial lainnya sudah diberikan oleh Kemendikbud serta Sekolah dan Universitas bersangkutan. Tetapi bantuan-bantuan tersebut dirasa masih tidak menjawab kekurangan dari kuliah dalam jaringan ini. Sebab dari segi finansial hampir 60% wali siswa dan mahasiswa dapat membayar biaya pendidikan yang sudah ditetapkan. Sementara untuk menangkap semua materi kuliah yang disampaikan dosen tidak semua atau bahkan mayoritas mahasiswa tidak mendapatkan materi ilmu secara efektif dan efisien.

Padahal kuliah daring ini justru membuka lebih banyak wawasan dalam menggapai ilmu dengan komunikasi jarak jauh, yang tentu dapat melatih ketajaman dalam berpikir dan berkomunikasi dengan khalayak umum. Hal ini sebagai bentuk latihan Public Speaking dalam kuliah daring yang menuntut mahasiswa lebih aktif lagi dengan komunikasi menggunakan media internet. Apalagi bagi seorang mahasiswa AMIKOM Yogyakarta jurusan Ilmu Komunikasi. Tentu ini merupakan ajang unjuk gigi dalam melatih komunikasi lisan di hadapan dosen maupun dengan teman-teman.

Kuliah daring ini juga dapat membangun menjadi mahasiswa yang lebih aktif dan tanggap lagi. Dosen-dosen paham betul bagaimana keadaan mahasiswa di tengah pandemi ini yang menyebabkan tingkat kebosanan mereka melambung tinggi. Oleh sebab itu, tempalah besi selagi panas dengan cara menunjukan keberanian dalam berpendapat dalam kuliah daring ini. Dengan kuliah daring ini, momentum dalam mengejar asa dan ilmu semakin terbuka lebar, asalkan tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini untuk berpotensi sebagai mahasiswa terdidik dan cerdik.

Apresisasi dari dosen terhadap mahasiswa menjadi tolok ukur pula untuk dosen bagi mahasiswa selain hanya memberi nilai semata saja. Banyak beranggapan bahwa nilai akademik yang tercantum pada ijazah tidak memberi efek besar bagi kehidupan dunia kerja nantinya, ini tidak sepenuhnya salah. Mengingat menteri pendidikan Nadiem Makarim berkata, “Kita memasuki era dimana gelar tidak menjamin kompetensi, kelulusan tidak menjamin kesiapan berkarya dan akreditasi tidak menjamin mutu”

Oleh sebab itu, kuliah daring ini sebagai pengembangan karakter mahasiswa dalam menjalani kegiatan ajar mengajar dengan cara berbeda. Apapun resiko dan hasil dari kuliah daring ini, sebenarnya tidak memiliki pengaruh berbeda dengan kuliah normal di kelas seperti biasanya. Sekali lagi, ini menjadi pengembangan karakter dimana mahasiswa menemukan cara bagaimana memanfaatkan penuh kegiatan kuliah online ini. Jika mahasiswa paham dan dapat menemukan jawabannya, maka ia berhasi memasuki fase “Kehidupan Baru”

Fase ini dapat diartikan bahwa mahasiswa sebagai puncak penerima pendidikan akan memulai pelayaran di kerasnya ombak kehidupan. Sebab mahasiswa akan paham bahwa kehidupan di dunia kerja maupun dunia sosial lainnya akan menghantam emosi dan psikologi seseorang. Dengan pembentukan karakter yang sudah dilalui maka dengan menjalankan kehidupan yang berat nantinya mahasiswa sudah sangat siap menerpanya. Jadi, kuliah online ini hanyalah satu dari banyaknya kesulitan-kesulitan dalam menjalankan kegiatan kehidupan.

Sebagai mahasiswa, seyogyanya menyadari dan menerima kenyataan bahwa semua ini adalah rencana Tuhan dalam menyempurnakan roda kehidupan saya dan mahasiswa lainnya. Apapun universitas, jurusan maupun akreditasi universitasnya, kuliah online ini dapat memicu semangat dan agar menjalankan kuliah daring ini dengan penuh rasa gembira tanpa ada rasa kesuraman dan rasa keterpaksaan. Kuliah daring ini juga dapat mengajarkan bahwa teknologi memengaruhi segala segi kehidupan manusia termasuk segi pendidikan.

Sehingga dengan kuliah daring ini dapat disimpulkan, bahwa kegiatan kuliah dalam jaringan ini dapat memberikan lebih dampak postif, seperti dapat mengatur waktu lebih baik, lebih banyak waktu bertemu dengan keluarga. Performa berkuliah lebih stabil dengan istirahat yang cukup dan masih banyak lagi dampak positifnya. Dengan begitu, ambilah seluruh kesempatan yang ada, karena kesempatan itu belum tentu datang dua kali. Kuliah online ini kita manfaatkan sebaik mungkin, Karena suatu hari nanti, kuliah online tidak akan berlangsung lagi. Selalu sehat di masa pandemi ini dan tetap semangat Kuliah Daring! (Muhammad Syah Tegar Alreswara, Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas AMIKOM Yogyakarta)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here