Home News “Sekolah dari Rumah” Diseimbangkan dengan Harmonisasi Tri Pusat Pendidikan

“Sekolah dari Rumah” Diseimbangkan dengan Harmonisasi Tri Pusat Pendidikan

105
0
Ketua Umum PP PKBTS Ki Prof Dr Cahyono Agus. Foto : Istimewa

BERNASNEWS.COM – Program “Sekolah dari rumah” pada masa pandemi Covid-19 perlu diseimbangkan dengan harmonisasi Tri Pusat Pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat serta melalui pendidikan semesta bahwa setiap tempat adalah sekolah dan setiap orang adalah pamong, sebagaimana yang telah dikembangkan oleh Ki Hadjar Dewantara.

Sementara penggunaan teknologi infomasi pembelajaran modern pada masa darurat Covid-19 dan Pendidikan 4,0 tetap harus mampu mengasah kecerdasan otak, kehalusan budi pekerti dan ketrampilan tangan, melalui sistem among dengan pola momong, ngemong dan among secara Asah, Asih, Asuh. Hal ini untuk mengolah Cipta, Rasa dan Karsa melalui wiraga, wirama, wirasa sehingga tidak menghilangkan pendidikan nilai-nilai kemanusiaan, kebudayaan, budi pekerti, kebangsaan dan peradaban luhur nusantara.

Demikian Pernyataan Pendidikan dan Kebangsaan Pimpinan Pusat Perkumpulan Keluarga Besar Tamansiswa (PP PKBTS) terhadap Sistem Pendidikan Nasional dan Nasionalisme bersamaan dengan acara Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan di Hotel Cavinton Yogyakarta, Sabtu (25/7/20200.

Dalam pernyataan yang ditandatangani Ketua Umum PP PKBTS Ki Prof Dr Cahyono Agus dan Sekretaris Umum Ki Hazwan Iskandar Jaya M.Med itu, PP PKBTS juga menyatakan bahwa PP PKBTS menyatakan bahwa konsep Merdeka Belajar Kemendikbud harus diterapkan dengan tetap mengacu dan berakar kuat pada unggulan budaya nusantara sendiri, yang bertanggungjawab melalui pengembangan jiwa, pikiran dan raga yang merdeka sesuai bakat, talenta dan hobinya, sebagaimana yang telah dituntunkan oleh Bapak Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara, sehingga harus tidak mengacu pada sistem luar negeri yang cenderung merdeka tanpa batas.

Sementara itu, PP PKBTS menjunjung tinggi Azaz Panca Darma Tamansiswa berupa Kodrat alam; Kemerdekaan (yang bertanggung jawab); Kebudayaan; Kebangsaan dan Kemanusiaan, sebagai roh genetik unggulan seluruh insan Tamansiswa, yang juga relevan untuk dapat diterapkan sepenuhnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Terkait RUU Omnibus Lawa Cipta Kerja, menurut PP PKBTS, RUU yang juga akan mengubah UU Sistem Pendidikan Nasional, UU Guru dan Dosen, UU Pendidikan Dikti, UU Pendidikan Kedokteran, UU Kebidanan dan UU Perfilman iti cenderung akan bersifat komersialisasi, priivatisasi dan liberalisasi pendidikan karena akan menghapus pasal-pasal yang melindungi kedaulatan negara.

Karena itu, PP PKBTS secara tegas menyatakan bahwa Revitalisasi Sistem Pendidikan Nasional harus mengacu pada jati diri bangsa sebagaimana ajaran luhur Ki Hadjar Dewantara saat mendirikan Perguruan Tamansiswa pada zaman kolonial 3 Juli 1922. Karena ajaran tersebut masih tetap relevan pada zaman milenial dengan dilakukan revitalisasi, reformulasi, sosialisasi, internalisasi, implementasi secara seimbang, harmoni, menyeluruh dan terpadu.

“PP PKBTS menyatakan bahwa Tamansiswa adalah salah satu Mata Air Kebangsaan sehingga mendukung sepenuhnya Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai pilar utama roh kehidupan berbangsa dan bernegara warga negara Republik Indonesia,” demikian pernyataan sikap PP PKBTS. (lip)




LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here