Monday, August 8, 2022
spot_imgspot_imgspot_img
spot_img
HomePendidikanSejumlah Variabel Memiliki Hubungan Kausal dengan Kepuasan Seksual

Sejumlah Variabel Memiliki Hubungan Kausal dengan Kepuasan Seksual

BERNASNEWS.COM – Disfungsi seksual merupakan situasi dimana ada kelainan seksual sehingga kenikmatan seseorang menurun atau bahkan hilang. Pada wanita, disfungsi seksual biasa diindikasikan dengan masalah hasrat seksual, gairah seksual, lubrikasi, orgasme, kepuasan seksual hingga munculnya rasa sakit ketika berhubungan. Sejumlah variabel atau faktor tersebut mempunyai hubungan kausal dengan kepuasan seksual.

Dalam penelitian yang dilakukan Yuan Sa’adati, Mahasiswa Program Studi Informatika, Program Magister FTI UII dengan tema Identifikasi Hubungan Kausal dari Faktor-Faktor Disfungsi Seksual pada Wanita Penderita Kanker di Indonesia ditemukan hubungan kausal antara variabel hasrat seksual dengan kepuasan seksual, gairah seksual dengan kepuasan seksual, lubrikasi dengan kepuasan seksual, orgasme dengan kepuasan seksual, rasa sakit/nyeri dengan kepuasan seksual, gairah seksual dengan lubrikasi, gairah seksual dengan orgasme, lubrikasi dengan orgasme, lubrikasi dengan nyeri dan nyeri dengan hasrat seksual.

Selain dari hubungan kausal, menurut Yuan dalam jumpa pers secara virtual pada Jumat, 30 Juli 2021, ditemukan juga asosiasi yang kuat antara hasrat seksual dan gairah seksual, hasrat seksual dan orgasme, serta gairah dan rasa sakit seksual. Semua hubungan kausal dan asosiasi yang didapatkan diperkuat dengan temuan dari penelitian sebelumnya.

Dikatakan, pemodelan kausal yang diperoleh diharapkan dapat dijadikan landasan saintifik bagi dokter dan tenaga kesehatan dalam mengambil keputusan maupun merancang intervensi sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup responden kanker.

Menurut Yuan yang didampingi Izzati Muhimmah ST MSc PhD, Ketua Program Studi Informatika Program Magister FTI UII dan    Dhomas Hatta Fudholi ST M.Eng PhD, Dosen Program Studi Informatika Program Magister FTI UII, sebelum penelitian dilakukan studi-studi yang berfokus pada faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan disfungsi seksual.

Sebagian studi lainnya melakukan analisis korelasi terhadap faktor-faktor tersebut. “Namun, sepanjang pengetahuan kami, belum ada studi yang mencoba mengidentifikasi hubungan kausal (sebab-akibat) antara faktor-faktor disfungsi seksual, terlebih pada wanita penderita kanker,” kata Yuan.

Dikatakan, model kausal adalah sebuah representasi dari interaksi-interaksi fundamental antara faktor-faktor dalam sebuah konteks permasalahan. Pemodelan kausal adalah hal yang penting dalam banyak domain keilmuan.
 
Sebagai contoh dari bidang psikologi klinis, model kausal dapat dijadikan landasan saintifik dalam pengembangan sebuah terapi. Untuk itu, dalam penelitian ini ia bermaksud memodelkan hubungan kausal antara faktor-faktor disfungsi seksual pada wanita penderita kanker.

Dalam penelitian ini, menurut Yuan, ditemukan hubungan kausal yaitu faktor kepuasan seksual dipengaruhi oleh semua faktor (hasrat seksual, gairah seksual, lubrikasi, orgasme dan rasa sakit) yang memenuhi sel dengan reliability score masing-masing 1, 0.64, 0.65, 0.6 dan 0.6. Faktor gairah seksual mempengaruhi lubrikasi dan orgasme yang memenuhi sel dengan reliability score masing-masing 0.82, 0.6.

Menurut Yuan, faktor lubrikasi mempengaruhi orgasme dan rasa sakit yang memenuhi sel dengan reliability score masing-masing 0.85, 0.6. Sementara faktor nyeri mempengaruhi hasrat seksual yang memenuhi memenuhi sel dengan reliability score 0.6.

Selain hubungan kausal, juga ditemukan asosiasi yang kuat antara hasrat seksual dengan gairah seksual yang memenuhi sel dengan reliability score 0.86, hasrat seksual dengan orgasme yang memenuhi sel dengan reliability score 0.80, dan gairah seksual dengan rasa sakit yang memenuhi sel dengan reliability score 0.80. “Kami berharap melalui penelitian ini, kualitas pasien kanker yang mengalami disfungsi seksual dapat ditingkatkan,” kata Yuan.

Yuan mengatakan bahwa dalam banyak bidang seperti kedokteran, sangat menarik untuk memodelkan hubungan sebab akibat antara variabel laten dan indikator. Dalam penelitian ini, ia menggunakan metode kausal baru yang disebut Stable Specification Search for Cross-sectional Data with Latent (S3C-Latent) untuk memodelkan hubungan sebab akibat antara variabel laten.
 
Tujuan utama S3C-Laten adalah untuk menyelesaikan masalah ketidakstabilan yang melekat dalam estimasi model. Untuk mencapai ini, S3C-Latent mengadopsi konsep stability selection ke dalam masalah pengoptimalan multi-objective, dan bersama-sama mengoptimalkan seluruh rentang kompleksitas model, menghasilkan model Pareto optimal.
 
Dikatakan, pemodelan kausal yang diperoleh diharapkan dapat dijadikan landasan saintifik bagi dokter dan tenaga kesehatan dalam mengambil keputusan maupun merancang intervensi sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup responden kanker.

Dalam penelitian ini Yun menggunakan kuesioner FSFI untuk mendapatkan faktor-faktor disfungsi seksual, dimana ada 6faktor dengan 19 indikator. Namun dalam kasus ini hanya menggunakan 6 faktor dengan 14 indikator. Pengurangan indikator tersebut terjadi karena ada multicollinearity pada beberapa indikator. Data yang memiliki multicollinearity menunjukkan tingkat kolinearitas yang bermasalah sehingga dapat menyebabkan masalah dalam komputasi dan perlu untuk dihapus.

Menurut Yuan, model kausal adalah sebuah representasi dari interaksi-interaksi fundamental antara faktor-faktor dalam sebuah konteks permasalahan. Pemodelan kausal merupakan hal yang penting dalam banyak domain keilmuan. Sebagai contoh dari bidang psikologi klinis, model kausal dapat dijadikan landasan saintifik dalam pengembangan sebuah terapi sehingga dokter maupun tenaga kesehatan dapat mengambil keputusan yang tepat. Dalam penelitian ini kami berharap kualitas pasien kanker dapat ditingkatkan.

Sesponden sebanyak 172 orang dalam penelitian ini merupakan pasien kanker yang dirawat di RSUP DrSardjito Yogyakarta dan Prof Dr Margono Soekarjo Purwokerto. Kanker serviks dan kanker payudara merupakan kanker yang paling dominan, selainkanker colon, rectum, chorio, ovari, parotis, tiroid, endometrium, nasofaring, sigmoid dan kolorektal.

Data dari penelitian ini merupakan data sekunder, ykni berasal dari alumnus UGM dimana datanya diberikan langsung oleh pembimbing II yaitu Ibu Christantie Effendy. Pada data tersebut tidak tercantumkan dari masing-masing stadium penyakitnya.

Bagaimana menemukan mekanisme hubungan kausal dari penelitian ini, menurut Yuan, dengn cara memahami mekanisme kausal, artinya berusaha memahami mekanisme penting yang terjadi dibalik penyebab disfungsi seksual pada wanita penderita kanker.
Hubungan kausal yang diamati dari penelitian ini adalah hubungan kausal tentang faktor-faktor disfungsi seksual pada wanita penderita kanker.

Berdasarkan FSFI terdapat 6 faktor yaitu hasrat seksual, gairah seksual, lubrikasi, orgasme, kepuasan seksual, dan rasa sakit.
Dari hasil komputasi yang dilakukan, diperoleh hasil yaitu faktor kepuasan seksual merupakan faktor yang dipengaruhi oleh semua faktor (hasrat, gairah, lubrikasi, orgasme, dan rasa sakit).

Menurut Yuan, penyakit kanker menyerang segala usia. Karena itu, penelitian ini merekomendsikan agar memberikan terapi terapi farmakoterapi dan terapi non farmakologi seperti terapi pasangan dan terapi seksual yang melibatkan pasangan. Terapi non farmakologi pertama yang harus dilakukan adalah penyuluhan atau konseling kepada pasien dan pasangan tentang bagaimana mengatasi disfungsi seksual sesuai dengan kondisi pasien.

Selain itu, adanya komunikasi yang baik antara pasangan. Pihak perempuan sebagai pihak yang merasakan disfungsi juga harus lebih terbuka pada dokter terutama pasangannya.

Kemudian, terapi psikologis yang dilakukan kepada pasien, karena terkadang psikologis pasien sangat terpengaruh akibat terapi kanker dan penyakit kanker itu sendiri. Dengan memperhatikan 4 hal (jenis kanker, stadium kanker, usia pasien dan terapi kanker atau kondisi medis lain yang sedang dihadapi pasien) dapat dilakukan latihan kegel atau dengan pemberian gel/lubrikan.

Menurut Yuan, untuk jenis kanker seperti kanker serviks yang sudah mengalami metastasis, maka untuk latihan kegel akan mengalami kesulitan. Stadium 3 dan 4 dengan kondisi metastasis sudah mencapai dinding panggul dan vagina, maka terapi latihan kegel perlu dipertimbangkan lagi.

Usia pasien berkaitan dengan adanya penurunan libido, penurunan sekresi estrogen setelah menopause, serviks yang menyusut ukurannya, berkurangnya pelumas vagina, matinya steroid seks secara tidak langsung mempengaruhi aktivitas seks menjadi pertimbangan dalam memberikan latihan kegel pada pasien.

“Terapi kanker pada pasien kanker serviks menyebabkan pengeringan pada vagina disertai dengan hilangnya fleksibilitas dan cairan lubrikasi vagina sehingga terjadi dispareunia/nyeri saat berhubungan seksual yang mengakibatkan pasien enggan untuk melakukan hubungan seksual,” kata Yuan. (lip)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments