Home News Sejumlah Fakta Menarik Parade Merah Putih dari Jogja untuk Indonesia, Sabtu (19/10/2019)

Sejumlah Fakta Menarik Parade Merah Putih dari Jogja untuk Indonesia, Sabtu (19/10/2019)

517
0
Parade Merah Putih dari Yogya untuk Indonesia” di Malioboro Yogyakarta, Sabtu (19/10/2019).

BERNASNEWS.COM —Acara budaya bertajuk “Parade Merah Putih dari Yogyakarta untuk Indonesia” yang bakal digelar di DPRD DIY Malioboro hingga benteng Vredeburg Yogyakarta, Sabtu (19/10/2019) mulai pukul 15.00 WIB dalam rangka menyambut pelantikan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden RI KH Ma’ruf Amin, 20 Oktober 2019, punya sejumlah fakta menarik.

Koordinator Parade Widihasto Wasana Putra kepada Bernasnews.com, Jumat (18/10/2019) mengatakan, laiknya upacara grebeg Kraton, parade Merah Putih juga akan mengarak empat buah gunungan, yakni gunungan salak dari Sleman, gunungan bakpia dari Kota Yogyakarta, gunungan geplak dari Bantul dan gunungan sayur buah dari Watu Lumbung. Gunungan ini akan diarak dari titik start hingga finish untuk selanjutnya dibagikan kepada masyarakat.

“Pesan yang muncul dari gunungan ini adalah menjadi pemimpin harus memberi kemanfaatan bagi masyarakat. Publik berharap duet Jokowi dan Kyai Ma’ruf dapat memakmurkan rakyat Indonesia,” kata Hasto-sapaan akrab Widihasto Wasana Putra.

Selain itu, menurut Hasto, dalam parade Merah Putih ini akan dibentangkan bendera Merah Putih sepanjang 74 meter. Bendera ini akan dibawa laskar Barisan Shiratal Mustaqim Central Kota. Panjang 74 meter melambangkan usia kemerdekaan Republik Indonesia. Harapannya bangsa Indonesia senantiasa panjang umur dan rakyatnya aman damai tentram sejahtera selamat dunia akherat.

Pesta Budaya dari Jogja untuk Indonesia

Sementara foto Jokowi dan Kyai Ma’ruf akan diarak menggunakan gerobag sapi. Gerobag sapi dipilih karena sarat makna. Kepemimpinan duet Jokowi Kyai Ma’ruf diharapkan senantiasa berkharakter prasojo (sederhana), bervisi kerakyatan dan memihak pada nasib kaum buruh, tani dan wong cilik. Kehadiran gerobag sapi yang ditarik dua ekor sapi menyusuri Malioboro akan menjadi pemandangan yang unik. Sebab moda transportasi angkutan barang ini kini sudah langka dan hanya dapat ditemui di pelosok desa tertentu.

Kemudian, keikutsertaan kelompok Hadroh Uzwathon Khasanah memberi nilai religius dalam parade merah putih. Seni religi Islami ini beranggotakan puluhan ibu Kradenan Gamping Sleman. Mereka akan berparade sembari melantunkan Sholawat Nabi Muhammad SAW diiringi alat musik terbangan.

Selain itu, Barongsay Panbers turut meriahkan parade. Kesenian khas etnis Thionghoa ini akan tampil dengan empat buah barongsay dan melakukan perform sepanjang jalan Malioboro. Keikutsertaan barongsay ini adalah partisi dari masyarakat Thionghoa Yogyakarta. “Hal ini menjadi cerminan pembauran budaya yang memperkokoh keragaman seni budaya di Tanah Air,” kata Hasto.

Sementara partisipasi dari kalangan dunia pendidikan juga muncul. Dua kelompok marching band masing-masing dari Universitas Gadjah Mada dan SMA Bopkri II serta paskibraka Resimen Mahakarta DIY dan Universitas Pembangunan Nasional UPN “Veteran” akan tampil memperkuat rangkaian parade. Keterlibatan pelajar mahasiswa dalam gerakan kebangsaan semacam ini merupakan salah satu upaya nyata memupuk rasa cinta Tanah Air dan bela negara.

Kemudian, menurut Hasto, abdi dalem Kasultanan Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman juga mendukung parade. Sekitar 100 orang abdi dalem dengan busana khas surjan pranakan akan ikut berbaris dalam rangkaian parade. Sebagian besar dari mereka sudah berusia lanjut. Namun semangatnya untuk senantiasa membaktikan diri untuk NKRI tak pernah surut.

Dan kereta kencana Kraton akan turut tampil. Kereta akan ditarik empat ekor kuda. Penumpangnya adalah duta museum DIY. “Gelaran parade dimanfaatkan pula sebagai promosi budaya dan pariwisata khususnya edukasi bagi masyarakat untuk berkunjung ke museum. Lokasi finish parade Merah Putih ini pun mengambil tempat di salah satu museum dengan pengelolaan terbaik di Indonesia yakni Benteng Vredeburg,” kata Hasto.

Sementara penyanyi papan atas Edo Kondologit khusus datang dari Jakarta untuk ikut memeriahkan Parade Merah Putih dari Yogya untuk Indonesia. Artis kelahiran tanah Papua ini rencana membawakan empat tembang yakni Aku Papua, Pancasila Rumah Kita, Indonesia Pusaka dan Gebyar-Gebyar. “Dalam dalam banyak konser Edo tampil memukau khalayak karena suara khasnya yang elok,” kata Hasto.

Kemudian, Yogyakarta dikenal sebagai gudang komunitas. Ratusan komunitas dengan berbagai jenis ada disini. Dalam parade nanti ikut dua kelompok komunitas. Pertama komunitas sepeda onthel. Mereka akan tampil dengan busana jadul khas pejuang ’45. Ada tiga kelompok sekaligus, yakni Paguyuban Onthel Rabuk Yuswo (PORY), Komunitas Onthel Jadul (Kodja) dan Komunitas Onthel Kalasan Raya (Kokaraya).

Selain itu, ada Jogjakarta Land Rover Community (JLRC) yang akan menurunkan enam mobil masing-masing membawa tokoh nasional Bung Karno, Bung Hatta, Sri Sultan HB IX, Sri Paduka Pakualam VIII, Panglima Besar Jendral Soedirman dan Ki Hajar Dewantara. Sosok mereka dimunculkan sebagai ajakan reflektif bagi publik agar senantiasa mengingat suri teladan pahlawan kusuma bangsa.

“Inilah fakta menarik yang akan muncul dalam Parade Merah Putih dari Yogya untuk Indonesia. Pihak penyelenggara mengundang masyarakat luas hadir dan turut mendukung kesuksesan acara,” ajak Hasto. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here