Tuesday, May 17, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomeSeni BudayaSejarah dan Makna Filosofi Ketupat bagi Orang Jawa

Sejarah dan Makna Filosofi Ketupat bagi Orang Jawa

bernasnews.com — Lebaran Idul Fitri bagi masyarakat Jawa, khususnya Jawa Tengah tidak bisa lepas dari Ketupat, yaitu panganan pengganti nasi yang terbuat dari beras yang dimasak di dalam anyaman daun kelapa muda (janur) berbentuk persegi. Sehingga ada yang menyebut Kupat merupakan akronim dari ‘siku papat’ atau bersudut empat.

Sementara, beberapa tokoh sesepuh dan ustad-ustad sepuh di bumi Mataram (Surakarta dan Yogyakarta) memaknai Ketupat sebagai akronim dari Laku Papat atau empat laku. Empat laku utama bagi orang Jawa, pertama adalah Lebaran atau usai menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan.

Kemudian setelah lebaran laku berikutnya adalah Luberan, dari kata luber yang berati tumpah ruah. Kata ini bermakna apabila seseorang berlebih rejeki maka wajiblah untuk berbagi dengan sesamanya yang kurang mampu.

Berikutnya, laku Leburan semua kesalahan dan kekhilafan dihapuskan untuk di-Labur agar kembali bersih. Labur adalah sejenis kapur yang dipergunakan sebagai pemutih dinding atau tembok jaman dulu sebelum ada cat.

Bentuk ketupat yang telah matang untuk tinggal disajikan bersama lauk opor ayam dan sambal kerecek sebagai kuliner ikoniknya lebaran atau Idul Fitri. (Tedy Kartyadi/ bernasnews.com)

Ketupat konon diciptakan oleh Sunan Kalijaga, seorang wali dan pemuka agama masa kerajaan Islam Demak. Filosofi Ketupat atau juga disebut Kupat bermakna, Ngaku Lepat atau mengakui kesalahan. Bahan membuat ketupat adalah Janur bermakna Jatining Nur (Cahaya Sejati), bahwa kehidupan ini adalah bertujuan mencapai Cahaya Sejati yang bersumber pada Ilahi.

Kendati ketupat dijadikan ikon dalam perayaan lebaran atau Idul Fitri, namun bukan berarti bahwa kuliner kupat baru hadir sejak adanya pengaruh agama dan budaya Islam, pada abad XV -XVI Masehi, di Nusantara.

Keberadaan ketupat sendiri jauh sebelumnya telah ada pada masa Hindu-Budha. Menurut sumber, terbukti adanya sebutan ‘kupat’ dan kata jadiannya seperti ‘kupat-kupatan’, akupat atau pakupat’, dalam beberapa karya sastra.

Karya sastra atau dalam bentuk kitab antaralain, Kakawin Kresnayana, Kakawin Subadra Wiwaha, dan Kidung Sri Tanjung. Juga dalam Kakawin Ramayana ada kata ‘kupatay’. Hal ini menjadi petunjuk bahwa sebagai penganan ketupat telah ada sejak abad IX. (ted)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments