Home News Sejak 2013, SMA BOPKRI I Yogyakarta Bebas dari Genk

Sejak 2013, SMA BOPKRI I Yogyakarta Bebas dari Genk

14096
0
Kepala SMA BOPKRI I Yogyakarta Drs Andar Rujito MH. Foto : Istimewa

BERNASNEWS.COM – Sejak tahun 2013, SMA BOPKRI I (Bosa) Yogyakarta bebas dari genk-genk siswa. Hal ini terjadi berkat adanya kerja sama yang baik antara orangtua, sekolah dan para siswa/ siswi. Pihak sekolah bersama orangtua selalu melakukan pendampingan, pengawasan dan pembinaan kepada para siswa/ siswi secara terus menerus dan diarahkan ke kegiatan-kegiatan yang positif sehingga melahirkan banyak prestasi, baik di bidang akademik maupun non akademik.

“Puji Tuhan sejak tahun 2013 SMA BOSA sudah bebas dari genk siswa. Hal ini berkat adanya kerja sama yang baik dan komitmen yang kuat antara pihak sekolah dan orangtua serta para siswa/ siswa itu sendiri,” kata Drs Andar Rujito MH, Kepala SMA BOPKRI I Yogyakarta, kepada Bernasnews.com di ruang kerjanya, Kamis (16/1/2020).

Hal itu disampaikan Andar Rujito untuk menepis informasi yang beredar di media sosial dan grup whatsapp yang mencantumkan nama-nama genk beserta nama-nama sekolah asal genk tersebut. Informasi atau data dari sumber yang tidak jelas tersebut dapat merugikan sekolah-sekolah karena tidak sesuai dengan fakta dan kondisi yang sebenarnya.

Lingkungan sekolah SMA BOPKRI I Yogyakarta di Jalan Wardhani No 2, Kelurahan Kotabaru, Kecamatan. Gondokusuman, Kota Yogyakarta, tampak asri, Kamis (16/1/2020). Foto : Istimewa

Menurut Andar Rujito, ketika awal masuk SMA BOSA sebagai kepala sekolah tahun 2011, salah satu program penting yang disampaikan saat itu adalah membubarkan genk siswa. Andar mengaku saat itu ada yang pesimis dan tidak yakin. “Namun, dengan tekad yang kuat dan adanya kerja sama yang baik serta komitmen yang kuat antara pihak sekolah dengan para orangtua siswa maupun para siswa sendiri, maka sejak 2013 SMA BOSA bebas dari genk,” tegas Andar Rujito.

Menurut Andar Rujito, informasi atau data yang beredar di media sosial dan grup-grup whatsapp tersebut sudah lama dan selalu beredar berulang-ulang. Selain tidak relevan dengan kondisi sekarang, penyebaran informasi yang tidak benar tersebut dapat merugikan pihak sekolah. Karena faktanya, seperti di SMA BOSA, sudah lama atau sejak tahun 2013 hingga sekarang tidak ada lagi genk. Meski demikian, menurut Andar Rujito, informasi tersebut bisa dilihat dari sisi positifnya yakni agar setiap sekolah melakukan antisipasi dengan mencegah adanya genk.

Kampus SMA Bopkri I Yogyakarta di Jalan Wardhani Nomor 2 Kotabaru Yogyakarta. Foto : Dok Bernasnews.com

Dikatakan, informasi yang beredar itu tidak semuanya benar, karena bisa terjadi ada sekolah yang masih memiliki anak-anak yang nakal tapi bukan genk, dan juga tak sedikit sekolah yang sudah berupaya menghilangkan genk dan berhasil. Sebagai contoh di SMA BOSA sudah tidak ada lagi genk sejak 2013. Artinya, sekolah bukan tak berdaya. Sekolah bisa melakukan (menghilangkan genk, red) sepanjang antara sekolah dan orangtua memiliki kesepakatan dan komitmen bersama untuk benahi anak-anak. Dan itu sudah dibuktikan oleh SMA BOSA selama ini.

Dikatakan, kalau bicara anak nakal yang melakukan klithih maka dimana pun pasti ada, bukan hanya di sekolah tapi dalam keluarga atau pun di masyarakat. Dan itu bukan atas nama genk tapi atas nama pribadi-pribadi sebagai bentuk kenakalan hanya karena masalah sepele, seperti masalah pacar.

Menurut Andar Rujito, genk bisa dihilangkan sepanjang penanganannya tepat, seperti dilakukan di SMA BOSA, tidak hanya bersifat spontan atau hanya kalau ada kasus baru bereaksi. Jadi, perlu ada pembinaan terus menerus.

Ia memberi contoh di SMA BOSA, ketika ada anak SMP yang mau masuk SMA BOSA dan sedikit banyak sudah bertingkah, maka langsung dibina, tidak boleh dibiarkan. Sebab, kalau dibiarkan, maka mereka menganggap sekolah lemah atau tak berani. Karena itu, sejak dini dilakukan pembinaan untuk mencegah adanya anak nakal.

Menurut Andar Rujito, kadang-kadang orang menganggap klithih hanya dilakukan anak SMA, padahal banyak juga anak SMP. Buktinya, ketika mendaftar masuk SMA BOSA ada orangtua yang bilang titip ke SMA BOSA untuk dibina maka pihak sekolah benar-benar membina dan berhasil. Sehingga makin banyak orangtua atau masyarakat yang menyekolahkan anaknya di SMA BOSA karena dinilai bisa membina anak yang sebelumnya nakal menjadi anak yang sopan dan barkarakter baik.

Gedung Olahraga SMA Bopkri I Yogyakarta Foto : Istimewa

Masalah klithih merajalela, menurut Andar, merupakan peringatan pada semua pihak agar jangan hanya fokus pada anak karena anak terlibat klithih juga karena faktor lingkungan dan orangtua atau keluarga.

Dikatakan, sekolah memiliki kesempatan untuk dandani karena merupakan lembaga pendidikan, meski tidak 100 persen bisa dilakukan sendiri, harus melibatkan oragtua dan masyarakat. Karena itu, sekalipun sekolah sudah membina tapi kemudian orangtua/keluarga tetap memungkinkan anak berkembang ke arah yang tidak baik atau bahkan memfasillitasi, ya jelas tidak bisa.

Karena itu, masyarakat juga harus peduli. “Anak2 ini yang suka klithih atau suka berkelahi itu adalah anak-anak yang ingin eksistensinya diakui bahwa dia itu punya sesuatu yang lebih. Mungkin dari prestasi belajar nol, prestasi bidang olahraga gak punya, keahlian di bidang seni juga gak punya, tapi dia hanya ahli berkelahi. Karena itu, perlu diberi tanggungjawab atau kepercayaan agar keahlian berkelahi itu diarahkan ke hal-hal yang positif. Misalnya, diangkat menjadi koordinator suporter dan diminta menjaga ketertiban anggota. Bila tidak bisa menertibkan anggota akan diberi sanksi, namun bila mampu menjaga ketertiban anggota diberi apresiasi atau penghargaan dan ternyata berhasil. Dia memiliki rasa percaya diri dan tanggungjawab,” kata Andar Rujito.

Tonti Worajaya dari SMA Bopkri I (Bosa) Yogyakarta ikut tampil dalam Pawai Pembangunan 2019 untuk memperingati HUT ke-74 Kemerdekaan RI di Jalan Malioboro hingga Titik Nol/Perempatan Kantor Pos Besar Yogyakarta, Minggu (18/8/2019). Foto : Philipus Jehamun/ Bernasnews.com

Menurut Kepala SMA BOSA Yogyakarta ini, pendidikan yang betul adalah mendewasakan pribadi menjadi manusia ynag penuh kemuliaan dan keutamaan. Jadi, yang dikembangkan tidak hanya kognitifnya, tapi semua aspek. Karena semua anak punya potensi atau talenta yang diberikan Tuhan untuk bisa berkembang jadi anak yang hebat, baik akademik maupun non akademik.

Bahkan banyak bukti bahwa tidak sedikit orang yang sukses bukan semata-mata dari IQ, tapi juga softskill, karakter, kejujutan, kerja sama, tannggungjawab dan jiwa kemandirian. Dan potensi-potensi itu yang harus dikembangkan. Mereka punya potensi dan talenta masing-masing, tinggal dikembangkan ke arah yang positif.

Menurut Andar Rujito, pusat pendidikan bukan hanya tiga tapi lima yakni oragtua, sekolah, masyarakat, media massa dan kebijakan pemerntah. Media massa juga jadi pusat pendidikan karena dari situ anak tahu tentang perkembangan sekitar, belajar karakter. Kalau media memberitakan tentang kekerasan, tidak mendidik, intoleransi dan tulisan-tulisan yang tidak mendewaskan maka tentu anak-anak ikut termakan.

Kepala SMA Bopkri I Yogyakarta Drs Andar Rujito MH (mengenakan baju putih sebagai pakaian kebesaran tokoh wayang Suba Manggala/Brahmana) diikuti prajurit tenggok (mengenakan caping) dalam pawai unduh-unduh, Minggu (9/6/2019). Foto : Philipus Jehamun/Bernasnews.com

“Ada media massa justru isinya membangkitan bahkan menyuburkan paham radikal. Kalau bicara kenakalan maka mesti didekati dari berbagai aspek, tak bisa hanya diserahkan kepada satu pihak, misalnya sekolah tapi semua pihak, termasuk media massa,” kata Andar Rujito.

Kemudian, kebijakan/regulasi pemerinah juga bagian dari pembentukan karakter. Kelima-limanya menentukan. “Kalau pemerintah lemah di bidang hukum, maka tidak ada apa-apanya di mata anaka-anak. Kalau anak dibiarkan seperti itu, gak ada gunanya. Kalau kita semua kompak penuh tolenrasi, kebijakan pemerintah bagus maka indahlah bangsa ini,” tambah Andar Rujito. (lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here