Home Seni Budaya Sanggar Budaya Mahening Budhi Samigaluh Gelar Ketoprak Racun Tanda Tresna

Sanggar Budaya Mahening Budhi Samigaluh Gelar Ketoprak Racun Tanda Tresna

911
0
Sanggar Budaya Mahening Budhi, Sabtu (03/08/19), gelar ketoprak lakon "Racun Tanda Tresna", di Dsn. Karanggupit, Ds. Banjarsari, Keamatan Samigaluh, Kulonprogo, DIY. (Tedy Kartyadi/ Bernasnews.com)

BERNASNEWS.COM — Menonton atau melakonkan kesenian ketoprak bagi orang Jawa adalah hal yang biasa, disamping ketoprak adalah seni pertunjukan tradisional yang masih eksis hingga kini dan bahasa yang dipergunakan adalah bahasa Jawa, lengkap dengan penggunaan sehari-hari dari bahasa ngoko (kasar) yang dipergunakan oleh kebanyakan rakyat dan bahasa krama (halus) bahasa yang dipergunakan pada adegan di dalam kerajaan.

Pertunjukan ketoprak akan menjadi berbeda apabila pemeran atau pemainnya di antaranya ada beberapa pemain tamu warga dari Jakarta. Sebut saja, Heroe Soelistiawan berserta istrinya Duhita Hayuningtyas, serta sahabatnya Anggar Budhi Nuraini. Mereka ketiganya bersuku Jawa namun telah puluhan tahun menetap di ibu kota Jakarta yang setiap hari berbahasa Indonesia dan terkadang bahasa Inggris, sehingga membuat mereka terkadang lupa akan bahasa Jawa bahasa ibu terutama bahasa krama.

Seperti saat Bernasnews.com, Sabtu (03/08/2019), berkesempatan menyaksikan pagelaran ketoprak oleh Sanggar Budaya Mahening Budhi, di Dusun Gedungkupit, Desa Banjarsari, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Pagelaran ketoprak dengan lakon berjudul “Racun Tanda Tresna (Racun Pertanda Cinta)” ini diselenggarakan dalam rangka memeriahkan dan memperingatai Hari Ulang Tahun (HUT) ke 74 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Heroe, Duhita dan Anggar mendapat kehormatan sebagai pemain tamu ketoprak, mereka bertiga mendapatkan dapukan (peran) sebagai adik Adipati Endrapati, seorang penguasa Kadipaten Barat Waja. Dalam cerita tersebut, ketiga pemain tamu masuk dalam babak pertama yang menggambarkan adegan pertemuan di pendapa kadipaten. Sebagai adik yang pulang dari pengembaraan menemui sang kakak Adipati Endrapati sedang galau jatuh cinta kepada Endang Mustikasari, putri Resi Gutomo dari Pertapaan Puthat Slawe. Namun cintanya bertepuk sebelah tangan, Endang Mustikasari lebih memilih pemuda desa Sidarta sebagai tambatan hatinya.

Meski dalam kesehariannya Heroe dan Anggar adalah sebagai pejabat lembaga keuangan berplat merah di Kantor Pusat Jakarta, namun dalam duduk bersila ataupun bersimpuh di lantai terlihat cukup luwes, hanya lafal-lafal dialog memakai bahasa Jawa masih tampak kagok bahkan ada selipan dalam bahasa Indonesia. Hal inilah yang menjadikan adegan itu lucu dan segar, membuat penonton yang hadir dan juga para penabuh gamelan (niyaga) tertawa lepas. Dan itulah ensesi seni pertunjukan sebagai hiburan, serta tuntunan.

“Maklumlah saya berdua dengan istri latihan ketoprak baru dua kali, apalagi Ibu Anggar yang semula hadir hanya ingin menikmati namun ketika diajak pentas secara spontan oleh sutradara bersedia dengan penuh antusias menerima tantangan ikut bermaik ketoprak. Lumayankan kami bisa mengimbangi pemain yang telah profesional,”terang Heroe kepada Bernasnews.com di sela pagelaran ketoprak.

Sementara, Ketua Sanggar Budaya Mahening Budhi, Teguh Pranoto, menjelaskan, bahwa pentas ketoprak yang diawali dengan pementasan tari-tarian oleh anak tersebut merupakan kali kedua kiprah sanggar dalam menggelar event seni budaya Jawa. Pertama, pada tahun 2018 berupa pementasan wayang kulit dengan dalang tiga generasi, dalang bocah, dalang muda, dan dalang sepuh (tua). Sanggar Budaya Mahening Budhi, didirikan oleh Heroe Soelistiawan dengan mefasilitasi tempat dan lengkap dengan seperangkat gamelan dan wayang kulit guna kegiatan warga setempat untuk berlatih menari, menembang, menabuh gamelan dan belajar mendalang wayang kulit. Pendirian sanggar budaya dan penyediaan fasilitas dimaksudkan sebagai bentuk kepedulian Heroe terhadap kebudayaan Jawa yang adiluhung.

“Saya hanya sebatas mefasilitasi dengan menyediakan tempat, seperangkat gamelan, serta wayang lengkap dengan kelir (layar). Monggo, silakan warga masyarakat sekitar untuk memanfaatkan fasilitas yang telah tersedia untuk belajar bersama tentang seni dan budaya Jawa. Menurut pendapat saya belajar budaya Jawa kalau tumbuh dari masyarakat sendiri, maka akan menjadi semakin kokoh pondasinya,”tegasnya. (ted)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here