Home Ekonomi Sambut New Journey Tahun 2022, Mitratel Siap Tancap Gas

Sambut New Journey Tahun 2022, Mitratel Siap Tancap Gas

60
0
Mitratel sebagai perusahaan publik masuk ke Bursa Efek Indonesi. Foto: Istimewa

BERNASNEWS.COM – Menyambut tahun 2022, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) siap tancap gas. Sebagai perusahaan publik dengan New Journey, MTEL optimis mampu memberikan hasil terbaik sebagaimana dalam prospektus Initial Public Offering 22 November 2021.

Keyakinan itu muncul setelah melihat kemampuan untuk tumbuh secara organik yang lebih kencang merujuk portolio menara saat ini lebih dari 28.000, yang tersebar di seluruh Indonesia di lokasi yang strategis. Permintaan pembangunan menara (Built to Suit) dan kolokasi dari Mobile Operator yang juga tinggi dan tersedianya ruang pertumbuhan In-Organik melalui akuisisi yang jelas baik konsolidasi menara dalam group maupun dari potensi konsolidasi industri di Indonesia, didukung kemampuan pendanaan pasca IPO yang mendapatkan suntikan dana lebih dari Rp 18 triliun.

Direktur Utama Mitratel Theodorus Ardi Hartoko “Teddy” mengatakan, pihaknya sangat siap menghadapi New Journey sebagai perusahaan publik, bukan hanya transparan dan menjaga Good Corporate Governance tetapi juga profesional, independen dan efisien memanfaatkan hasil IPO untuk tumbuh agresif menjadi The Leading Digital Infrastructure di Regional.

“Kami akan selalu berusaha keras menjadi emiten favorit bagi para investor dengan mampu mendeliver value optimal bagi shareholder. Pencapaian kami di Q3 2021 sesuai dengan ekspektasi dan tumbuh di atas industri, Revenue YoY tumbuh 14,6 persen menjadi Rp 5 triliun, Ebitda tumbuh 28,3 persen mencapai Rp 3,8 triliun dan Net Income tumbuh 246,4 persen menjadi lebih dari Rp 1 triliun. Di Q3 kami juga berhasil menambah portfolio menara melalui inorganic dari Telkomsel 4.000 menara dan Telkom 798 menara sehingga total portfolio menara menjadi 28.079 sites atau tumbuh 72,9 per dengan 42.137 tenant atau tenancy ratio 1.5x,” kata Teddy dalam rilis yang diterima Bernasnews.com pada Kamis, 30 Desember 2021.

Mitratel sebagai perusahaan publik masuk ke Bursa Efek Indonesi. Foto: Istimewa

Menurut Teddy, Tenancy Ratio yang masih rendah terjadi karena pembelian menara yang sebelumnya terbatas untuk 1 operator. Namun saat ini terbuka lus peluang untuk menarik kolokasi dari semua operator karena sebaran lokasinya yang atraktif ditambah lagi dengan rencana Mitratel untuk mendukung layanan penyewaan menara dengan fiberisasi untuk semakin menunjang operator telekomuinikasi dalam memberikan layanan digital tak terbatas bagi pelanggan.

Dengan kemampuan pendanaan yang kuat baik dari hasil IPO pada 22 November 2021, lebih dari Rp 18 triliun maupun leverage dan biaya utang (cost of debt) terendah dibanding operator lainnya, Teddy menyatakan manajemen dan seluruh karyawan sangat bersemangat untuk menyambut setiap peluang yang ada.

Kemudian, akan fokus pada beberapa rencana yaitu, pertama, Organic Growth dengan lebih agresif baik membangun baru maupun menambah kolokasi untuk seluruh operator. Mitratel juga independen dalam mengoptimalkan portfolio menara yang tersebar di Indonesia di lokasi yang strategis khususnya menara yang telah diakuisisi dari Telkomsel untuk dapat dimanfaatkan oleh operator lain seperti EXCL, ISAT dan FREN.

Kedua, melanjutkan agresivitas aksi in-Organic Growth dengan konsolidasi lanjutan Menara Telkom Group maupun dari konsolidasi di market domestic. Jika ada peluang menarik yang tetap memberikan nilai tambah bagi pemegang saham maka Mitratel juga tidak menutup kemungkinan untuk menjadi konsolidator industri maupun ekplorasi di regional.

Ketiga, ekspansi ke layanan baru dengan membangun kapabilitas menuju Digital Infrastructure Company baik berupa fiberisasi menara melalui membangun, partnership B2B/wholesale agreement maupun akuisisi, menyiapkan readiness untuk Infrastructure as a service / infrastructure solution dan edge computing.

Keempat, melakukan continues improvement untuk mendorong efisiensi yang lebih baik untuk O&M, Capex maupun operasional dengan integration system IT (digitalisasi) dan managemen aset.

“Indonesia termasuk negara dengan rasio populasi per menara yang masih rendah sehingga pengembangan jaringan telekomunikasi masih sangat menjanjikan, ditambah lagi kami memiliki competitive advantages yang khas yaitu 58 persen menara berada di luar Jawa. Potensi lainnya yaitu hasil akuisisi menara dari Telkomsel tahun sebelumnya yang dapat dimanfaatkan oleh operator telekomunikasi lain untuk memperluas jangkauan jaringannya. Karenanya Mitratel optimis menjadi pemain yang terbesar dan terkuat di industry menara untuk mendukung ecosystem digital di Indonesia,” kata Teddy. (*/lip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here