Monday, June 27, 2022
spot_imgspot_img
spot_img
HomeOpiniSahabat Buku, Buku Sahabat

Sahabat Buku, Buku Sahabat

bernasnews.com – Setiap orang pasti memiliki kenangan tentang buku pertama yang diterima dari seseorang dan kemudian dilihat atau dibaca dengan penuh kekaguman. Mungkin bermula dari covernya, gambar-gambar di dalamnya, atau kisah yang tersaji. Pemberi buku dapat orangtua, keluarga, guru, sahabat atau pihak lainnya.

Kenangan seperti itu penulis alami ketika remaja mendapat “warisan” beberapa judul buku dari kakek Kamso Utomowijoyo (alm). Ada buku bertuliskan aksara Jawa, buku pengembangan diri dan buku spiritual. Dari ayah Drs Margono (alm), penulis bukan hanya menerima beberapa buku, namun warisan perpustakaan buku!

Jadilah penulis “dipaksa” mencintai buku sejak remaja. Tentu awalnya baru membaca materi sederhana, kemudian mencoba menulis resensi buku, dan akhirnya belajar menulis buku. Buku perdana yang penulis hasilkan sebagai jurnalis adalah Di Balik Tugas Kuli Tinta (1994). Buku terbitan Sebelas Maret University Press dan Yayasan Pustaka Nusatama ini karya bersama rekan F.X. Koesworo dan Ronnie S. Viko.

Selanjutnya, buku perdana sebagai penulis solo adalah Buku-buku Itu Berbicara (dan tiga buku lainnya) terbitan Yayasan Pustaka Nusatama, serta Mari Cinta Puspa dan Satwa, Janji Nina pada Diri Sendiri terbitan Kanisius. Buku-buku kumpulan cerita anak itu terbitan tahun 1995.

Tahun-tahun berikut, penulis terus belajar berkarya buku baik solo, duo, trio, kwartet atau antologi, serta menjadi editor dan penulis kata pengantar buku. Jadilah penulis sebagai sahabat buku. Salah satu keberuntungan sebagai sahabat buku adalah sering mendapat kiriman buku dari penerbit dan sesama penulis buku.

Pada momentum pemaknaan buku, tepatnya Hari Buku Nasional dirayakan setiap tanggal 17 Mei, tulisan sederhana ini sebagai ajakan sesama insan di negeri ini cinta dan suka baca buku. Karena sebagaimana kita ketahui bersama, membaca adalah awal kehidupan yang lebih baik.

Sebagian buku para sahabat penulis dengan aneka ragam topik, mulai dari motivasi sampai kepemimpinan. Buku-buku ini diberikan sebagai persahabatan antarpenulis. Foto : Y.B. Margantoro/bernasnews.com

Berpikir positif

Buku-buku yang penulis terima dari para sahabat pada awal tahun 2000-an antara lain, Berpikir dan Bertindak Positif – 11 Kiat untuk Meraih Sukses (2002) karya Wishnubroto Widarso. Kemudian buku karya Paulus Mujiran bertajuk Kerikil-kerikil di Masa Transisi – Serpihan Esai Pendidikan, Agama, Politik dan Sosial (2003).

Sesuai dengan judulnya, Berpikir dan Bertindak Positif, buku itu membantu penulis dan pembaca lain untuk menjalani kehidupan dengan pilihan bermakna. Menjadi sukses atau belum, dan seberapa besar tingkat suksesnya, itu soal nanti. Yang penting berpikir dan bertindak positif dulu. 

Sepuluh tahun kemudian, penulis menerima buku Pernik-pernik 40 Tahun Berjurnalistik karya Soeparno S. Adhy (2012), Successful Parenting – 41 Tip Mencetak Anak Cerdas Berkarakter karya Andyda Meliala, terbitan tahun yang sama.

Menyusul buku Menyisir Kata Mencari Makna dalam Produk Media karya Agoes Widhartono (2013), Menjadi Jogja – Memahami Jatidiri dan Transformasi Yogyakarta karya Dewan Kebudyaaan Kota Yogyakarta dan Pusat Studi Kebudayaan UGM (2016). Buku ini saya terima dari Acharris Zubair, Pengurus Satupena DIY.

Buku Pilgrim karya Trias Kuncahyono dan Mata Batin Gus Dur – Cerita-cerita Unik Bersama Sang Kiai karya Iman Anshori Saleh, keduanya terbitan tahun 2017. Sedangkan buku terbitan tahun 2018 bertajuk Yogya – Ragam Ekspresi Budaya Kumpulan Esai karya Purwadmadi dan Jejak Pikiran Seorang Jurnalis – Rekaman Sorotan Budaya, Sosial, Politik dan Kemasyarakatan karya H. Nasrullah Krisnam.

Selanjutnya buku Membaca Tanda – Esai-esai tentang Kebudayaan karya Ons Untoro dan Dalam Kepungan Gelombang – 5 Puisi Esai Terpilih karya Dhenok Kristianti. Kedua buku ini terbitan tahun 2019.

Tiga buku berikut terbitan tahun 2020 yakni Yogya-Yogya – Sebuah Novel karya Herry Gendut Janarto, Catatan Kecil Seorang Jurnalis karya Arie Giyarto dan Menulis untuk Bahagia karya Suhamdani, dan kawan-kawan.

Sedangkan karya tahun 2021 adalah Jurnalisme pada Suatu Ketika – Seputar Pengalaman dan Pemahaman tentang Pers oleh Sutirman Eka Ardhana dan Seputar Persoalan KepemimpinanTinjauan, Pemikiran Cerdas, Wacana-wacana dan Renungan oleh Drs Z. Bambang Darmadi, MM.

Dari 17 buku tersebut bila diklasifikasi ada buku motivasi, sosial politik, Pendidikan, kebudayaan, kemasyarakatan, spiritualitas, parenting, tokoh/biografi, jurnalistik/pers, fiksi, dan kepemimpinan. Topik-topik ini banyak memberikan inspirasi dan motivasi penulis dalam belajar dan berkarya literasi buku maupun dalam menjalani kehidupan sehari-hari. 

Benang merah dari buku-buku karya sahabat ini adalah kompentensi dan kesungguhan dalam berkarya tulis buku. Mereka adalah para ahli di bidang masing-masing dan mampu menyampaikan karya liputan, gagasan atau kajian dan imajinasi dengan bahasa jurnalistik/buku yang baik.

Meminjam istilah wartawan senior H. Rosihan Anwar, para penulis telah menjayikan inti bahasa jurnalistik yakni Menjerit (menarik, jelas, ringkas, ddan tertib). Khusus untuk ringkas, karena tidak semua merupakan karya jurnalistik, penulis mampu menyajikan dengan porsi yang pas.

Terima kasih buku, dan terima kasih atas kiriman buku para sahabat buku. (Y.B. Margantoro, Wartawan dan Pegiat Literasi)

spot_img
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments